JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa masa perpindahan anak ke bangku kuliah menjadi fase penyesuaian yang cukup berat bagi orang tua.
Orang tua perlu belajar melepaskan sedikit demi sedikit agar anak mampu menjalani hidupnya secara mandiri.
Meski demikian, dukungan tetap dapat diberikan dengan cara yang berbeda tanpa mengurangi kedekatan hubungan keduanya.
Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (19/8), berikut enam kebiasaan yang biasa dilakukan orang tua sehingga anak kuliah tetap rutin menghubungi mereka melalui telepon.
Baca Juga: Ramalan Keuangan Zodiak Gemini Rabu, 19 Agustus 2026: Rezeki Mulai Lancar, Jangan Boros
1. Mengakui bahwa masa transisi ini terasa berat
Melepas anak menempuh pendidikan tinggi menjadi momen membanggakan sekaligus terasa berat bagi orang tua.
Perasaan sedih dan kehilangan sebenarnya wajar dirasakan meski seluruh keluarga telah berjuang mencapai momen ini.
Peralihan dari anak yang tinggal di rumah menjadi orang dewasa muda memang bukan proses yang mudah.
Merasa bahagia sekaligus sedih pada saat bersamaan menjadi hal yang wajar dialami dalam fase ini.
Perasaan tersebut merupakan bagian alami dari siklus pertumbuhan yang dilalui keluarga menuju tahap kehidupan baru.
Mengakui perasaan tersebut secara jujur membantu orang tua menjalani proses transisi dengan lebih sehat.
Baca Juga: Polri Tanam Bawang Putih Serentak di 14 Polda, Potensi Panen 2.795 Ton
2. Menerima perubahan yang terjadi dalam hubungan
Batasan baru mulai terbentuk seiring perubahan hubungan antara orang tua dan anak yang kini kuliah.
Kebiasaan sering menghubungi anak remaja perlahan berubah menjadi lebih jarang setelah anak menjadi mahasiswa.
Anak diharapkan mampu mengatur jadwalnya sendiri tanpa harus terus-menerus diawasi oleh orang tuanya.
Perubahan ini terkadang membuat orang tua merasa seolah tidak lagi memberikan dukungan yang cukup.
Padahal dukungan tersebut sebenarnya diberikan dengan cara berbeda demi memberi ruang kemandirian bagi anak.
Membiarkan anak belajar dari kesalahan menjadi salah satu hadiah terbaik yang dapat diberikan orang tua.
3. Membangun kebiasaan baru yang penuh kehangatan
Orang tua dapat merencanakan pertemuan rutin, seperti makan siang atau mendaki bersama anak setiap minggu.
Jika anak tinggal jauh dari rumah, memberi tahu keinginan untuk saling menghubungi setiap minggu tetap penting.
Menentukan waktu yang nyaman untuk saling berbicara sebaiknya dilakukan bersama-sama antara orang tua dan anak.
Melibatkan anak dalam menentukan waktu komunikasi membantu menjaga kenyamanan dan konsistensi hubungan yang terjalin.
Kebiasaan baru semacam ini menjadi cara sederhana untuk terus menjaga kedekatan meski terpisah jarak.
Ritual kecil ini membantu hubungan tetap terasa hangat meski anak sudah menjalani kehidupan barunya sendiri.
4. Memastikan anak tetap merasa didukung
Orang tua perlu menunjukkan kehadiran tanpa terkesan berlebihan dalam mengawasi kehidupan anaknya di kampus.
Anak diberi tahu bahwa mereka dapat menghubungi orang tuanya kapan pun ketika membutuhkan dukungan.
Memberi tahu tentang sumber daya kesehatan mental yang tersedia di kampus menjadi langkah penting lainnya.
Banyak kampus menyediakan sesi konseling gratis serta dukungan akademik bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan tambahan.
Memberi tahu anak tentang sumber daya tersebut membantu mereka memiliki tempat bersandar saat merasa kewalahan.
Kesadaran ini membantu anak merasa tetap didukung meski jauh dari pengawasan langsung orang tuanya.
5. Lebih banyak mendengarkan dibanding memberi nasihat
Peran orang tua berubah dari pengatur kehidupan anak menjadi pendukung yang siap mendengarkan kapan pun dibutuhkan.
Mendengarkan secara aktif tanpa menghakimi menjadi hal penting saat anak menghubungi untuk berbagi cerita.
Mengulang kembali apa yang disampaikan anak membantu memastikan bahwa mereka benar-benar dipahami dengan baik.
Anak biasanya hanya ingin didengarkan tanpa perlu menerima banyak nasihat dari orang tuanya.
Mereka cenderung lebih terbuka menghubungi orang tua jika tidak merasa dihakimi atas keputusan yang diambil.
Sikap mendengarkan ini membantu menjaga komunikasi tetap terbuka antara orang tua dan anak yang kuliah.
6. Menemukan kembali hal yang membuat dirinya bahagia
Orang tua tetap memiliki minat dan hobi pribadi di luar peran sebagai orang tua bagi anaknya.
Menemukan kembali hal yang disukai sebelum memiliki anak menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang tua.
Melakukan aktivitas yang pernah dinikmati sebelumnya dapat membantu mengisi waktu luang dengan cara yang positif.
Bergabung dengan komunitas lokal seperti klub buku atau kelompok hiking menjadi pilihan yang dapat dicoba.
Menghubungi teman dan keluarga untuk menghabiskan waktu bersama juga menjadi cara lain mengisi waktu luang.
Menemukan kembali kebahagiaan pribadi ini membantu orang tua menjalani fase baru kehidupannya dengan lebih positif.