JawaPos.com - Perceraian tidak selalu berakhir ketika surat keputusan pengadilan telah ditetapkan atau ketika kedua orang tua mulai menjalani kehidupan masing-masing. Bagi anak, perceraian dapat menjadi proses psikologis yang berlangsung jauh lebih panjang. Rumah yang sebelumnya menjadi tempat yang relatif stabil bisa berubah, rutinitas berganti, hubungan dengan ayah atau ibu berubah, dan anak harus beradaptasi dengan keadaan yang tidak pernah mereka pilih.
Dalam situasi seperti ini, sebagian anak kemudian menunjukkan perilaku yang membingungkan bagi orang dewasa. Mereka menolak bertemu dengan salah satu orang tua, tidak mau berkunjung, enggan berbicara melalui telepon, atau bahkan mengatakan bahwa mereka tidak ingin memiliki hubungan dengan orang tua tersebut.
Penolakan semacam ini sering kali langsung ditafsirkan secara sederhana: anak dianggap membenci, keras kepala, dipengaruhi oleh orang tua lainnya, atau sengaja bersikap tidak hormat. Padahal, dari sudut pandang psikologi, perilaku menolak bertemu dapat memiliki banyak penyebab. Perilaku tersebut bisa menjadi cara anak melindungi dirinya, mengelola emosi, mempertahankan rasa aman, atau mendapatkan kembali kendali atas kehidupannya yang terasa tidak terkendali.
Penting pula untuk dipahami bahwa tidak semua anak korban perceraian akan menolak bertemu dengan orang tuanya, dan penolakan tidak selalu berarti hal yang sama. Penyebabnya perlu dilihat berdasarkan usia anak, sejarah hubungan dengan masing-masing orang tua, kondisi perceraian, pola pengasuhan, serta pengalaman anak sebelum dan sesudah perceraian.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (18/8), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa sebagian anak memilih menjauh.
1. Anak Merasa Terluka dan Belum Mampu Mengolah Emosinya
Perceraian dapat memunculkan berbagai emosi sekaligus: sedih, marah, kecewa, takut, bingung, bahkan rasa kehilangan.
Masalahnya, anak tidak selalu memiliki kemampuan untuk menjelaskan perasaan tersebut dengan bahasa yang jelas. Anak yang lebih kecil mungkin belum mampu mengatakan, "Aku merasa kehilangan sosok ayah sejak kalian berpisah." Sebaliknya, mereka mungkin hanya mengatakan, "Aku tidak mau ketemu Ayah."
Kalimat tersebut bisa terdengar seperti penolakan terhadap orang tua. Namun, secara psikologis, perilaku itu dapat menjadi ekspresi dari emosi yang lebih kompleks.
Anak mungkin sedang marah karena merasa kehidupannya berubah. Ia mungkin kecewa karena menganggap orang tuanya tidak mampu mempertahankan keluarga. Ia juga mungkin merasa ditinggalkan, meskipun secara faktual orang tua tersebut masih mencintainya.
Pada sebagian anak, kemarahan merupakan emosi yang lebih mudah ditunjukkan daripada kesedihan. Karena itu, rasa kehilangan dapat muncul dalam bentuk menarik diri, membantah, menolak berkunjung, atau tidak mau berbicara.
Penolakan tersebut bukan selalu berarti "Aku tidak membutuhkanmu." Kadang-kadang maknanya justru lebih dekat dengan "Aku terlalu terluka untuk menghadapi perasaan yang muncul ketika bertemu denganmu."
2. Anak Merasa Harus Memilih Salah Satu Orang Tua
Salah satu pengalaman psikologis yang sangat berat bagi anak setelah perceraian adalah munculnya konflik loyalitas.
Anak dapat merasa bahwa mencintai ayah berarti mengkhianati ibu, atau menyayangi ibu berarti meninggalkan ayah. Padahal, secara emosional seorang anak sebenarnya mampu mencintai kedua orang tuanya sekaligus.
Konflik muncul ketika anak merasa bahwa kedekatan dengan salah satu orang tua akan menimbulkan konsekuensi terhadap hubungannya dengan orang tua yang lain.
Misalnya, anak mungkin merasa tidak nyaman ketika harus mengatakan bahwa ia menikmati waktu bersama ayahnya. Ia takut ibunya sedih. Sebaliknya, ketika tinggal bersama ayah, ia mungkin merasa bersalah jika mengatakan rindu kepada ibunya.
Dalam kondisi yang berlangsung lama, anak dapat mengambil jalan yang menurutnya paling aman: menjauh dari salah satu orang tua.
Penolakan tersebut tidak selalu berasal dari manipulasi. Kadang anak sendiri yang menciptakan strategi psikologis untuk mengurangi konflik. Jika ia merasa bahwa "tidak bertemu Ayah" membuat situasi di rumah lebih tenang, ia mungkin mulai menggunakan penolakan tersebut sebagai cara mempertahankan stabilitas emosional.
Karena itu, orang dewasa perlu berhati-hati sebelum menyimpulkan bahwa anak telah "memilih pihak".
3. Anak Mengalami Perubahan Rasa Aman Setelah Perceraian
Bagi banyak anak, keluarga bukan hanya tentang hubungan emosional. Keluarga juga merupakan sumber rutinitas dan rasa aman.
Sebelum perceraian, anak mungkin mengetahui di mana ia tidur, siapa yang menjemput sekolah, kapan makan bersama, dan kapan kedua orang tuanya berada di rumah.
Setelah perceraian, banyak hal dapat berubah.
Anak mungkin harus berpindah rumah, berganti sekolah, memiliki jadwal kunjungan tertentu, atau menyesuaikan diri dengan pasangan baru salah satu orang tua. Bahkan ketika semua perubahan tersebut dilakukan dengan niat baik, anak tetap dapat mengalaminya sebagai kehilangan kendali.
Dalam psikologi perkembangan, rasa aman dan prediktabilitas sangat penting bagi anak. Ketika kehidupan terasa tidak stabil, anak dapat menjadi lebih sensitif terhadap perubahan.
Akibatnya, kunjungan ke orang tua yang telah lama tidak tinggal bersamanya mungkin terasa seperti "perubahan tambahan" yang melelahkan.
Anak kemudian bisa mengatakan tidak mau pergi bukan karena tidak menyayangi orang tua tersebut, melainkan karena ia membutuhkan lingkungan yang terasa familiar.
Pada usia tertentu, anak juga dapat menggunakan penolakan sebagai cara mendapatkan kembali rasa kendali.
Ketika terlalu banyak keputusan dalam hidupnya dibuat oleh orang dewasa, mengatakan "Aku tidak mau pergi" menjadi salah satu hal yang masih dapat ia kendalikan.
4. Anak Memiliki Pengalaman Negatif dengan Orang Tua Tersebut
Tidak semua penolakan terhadap orang tua setelah perceraian dapat dijelaskan hanya melalui konflik loyalitas atau rasa kehilangan.
Kadang-kadang memang terdapat pengalaman negatif dalam hubungan anak dengan orang tua.
Misalnya, orang tua mungkin sebelumnya terlalu keras, sering memarahi anak, jarang hadir, kurang responsif terhadap kebutuhan emosional, sering membuat janji tetapi tidak menepatinya, atau memiliki pola interaksi yang membuat anak merasa tidak nyaman.
Dalam kasus tertentu, penolakan juga dapat berkaitan dengan pengalaman yang jauh lebih serius, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, ancaman, penghinaan, atau bentuk perlakuan yang membahayakan.
Karena itu, kalimat "anak tidak mau bertemu" seharusnya tidak langsung dianggap sebagai masalah perilaku.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Mengapa anak tidak mau bertemu?
Apakah ia sedang marah? Takut? Cemas? Kecewa? Merasa tidak didengar? Atau memang pernah mengalami sesuatu yang membuatnya merasa tidak aman?
Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat penting.
Dalam situasi yang melibatkan dugaan kekerasan atau keselamatan anak, prioritas utama tentu bukan memaksa pertemuan, melainkan memastikan keamanan anak dan mendapatkan bantuan profesional yang sesuai.
5. Anak Merasa Orang Tuanya Tidak Memahami Perasaannya
Anak tidak selalu membutuhkan orang tua untuk memperbaiki keadaan. Sering kali mereka terlebih dahulu membutuhkan seseorang yang mau memahami perasaan mereka.
Sayangnya, setelah perceraian, orang tua sendiri mungkin sedang menghadapi kesedihan, kemarahan, rasa bersalah, atau stres. Akibatnya, mereka dapat terlalu fokus pada persoalan orang dewasa sehingga lupa bahwa anak juga sedang berduka.
Misalnya, ketika anak berkata, "Aku tidak mau ke rumah Ayah," orang tua mungkin langsung menjawab:
"Kamu harus tetap menghormati Ayah."
Atau:
"Ayahmu tetap orang tuamu."
Secara faktual, kalimat tersebut mungkin benar. Namun, kalimat itu belum tentu menjawab kebutuhan emosional anak.
Anak mungkin sebenarnya sedang mencoba mengatakan:
"Aku takut."
"Aku kecewa."
"Aku merasa Ayah meninggalkanku."
"Aku tidak suka ketika kalian bertengkar."
"Aku merasa semuanya berubah."
Ketika emosi anak terus-menerus dibantah atau dikesampingkan, ia dapat belajar bahwa berbicara tidak ada gunanya. Pada akhirnya, perilaku menjadi bahasa yang lebih kuat daripada kata-kata.
Menolak bertemu menjadi salah satu cara anak mengatakan bahwa ada sesuatu yang belum selesai secara emosional.
6. Anak Mengembangkan Mekanisme Perlindungan Diri
Secara psikologis, manusia cenderung menghindari situasi yang dianggap mengancam atau terlalu menyakitkan.
Pada anak, mekanisme tersebut dapat terlihat dalam bentuk yang sederhana: menghindar, diam, menangis, marah, atau menolak pergi.
Misalnya, seorang anak yang selalu merasa sedih setelah mengunjungi salah satu orang tua dapat mulai mengasosiasikan kunjungan tersebut dengan rasa sakit. Lama-kelamaan, otaknya dapat membangun pola:
bertemu → muncul emosi berat → merasa sakit → menghindari pertemuan.
Dari sudut pandang anak, menghindar dapat terasa lebih mudah daripada menghadapi emosi yang sulit.
Hal ini juga dapat terjadi ketika hubungan dengan orang tua menjadi penuh ketegangan. Anak mungkin merasa bahwa setiap pertemuan akan berakhir dengan pertengkaran, pertanyaan yang membuat tidak nyaman, atau percakapan tentang perceraian.
Akibatnya, menolak bertemu menjadi bentuk perlindungan psikologis.
Namun, mekanisme perlindungan ini tidak selalu berarti anak akan selamanya tidak ingin berhubungan dengan orang tua. Seiring bertambahnya usia, meningkatnya rasa aman, dan membaiknya kualitas hubungan, perasaan tersebut dapat berubah.
7. Hubungan Orang Tua-Anak Sudah Berubah Setelah Perceraian
Perceraian tidak hanya mengubah status hubungan antara dua orang dewasa. Ia juga dapat mengubah struktur hubungan antara orang tua dan anak.
Sebelumnya, interaksi mungkin terjadi setiap hari. Setelah perceraian, hubungan dapat berubah menjadi kunjungan pada hari tertentu atau komunikasi melalui telepon dan pesan.
Perubahan frekuensi interaksi ini dapat membuat hubungan terasa asing.
Orang tua mungkin merasa:
"Dia tetap anak saya."
Namun, anak mungkin merasakan:
"Hubungan kami sudah tidak seperti dulu."
Perasaan tersebut semakin kuat jika orang tua kemudian membangun kehidupan baru. Kehadiran pasangan baru, saudara tiri, rumah baru, atau keluarga baru dapat membuat anak merasa tidak lagi memiliki tempat yang sama.
Dalam beberapa kasus, anak mungkin berpikir bahwa ia telah digantikan.
Perasaan tersebut tidak selalu disampaikan secara langsung. Anak bisa menunjukkannya melalui kecemburuan, kemarahan, sikap dingin, atau penolakan untuk datang.
Karena itu, membangun kembali hubungan setelah perceraian tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada anak bahwa ia dicintai.
Anak membutuhkan pengalaman nyata bahwa ia masih memiliki tempat dalam kehidupan orang tuanya.
Penolakan Anak Tidak Selalu Berarti Anak Membenci Orang Tuanya
Salah satu kesalahan terbesar dalam memahami perilaku anak adalah menganggap perilaku sebagai gambaran langsung dari perasaan.
Anak yang mengatakan "Aku benci Ayah" mungkin memang sedang marah. Namun, kalimat tersebut tidak otomatis berarti seluruh hubungan emosionalnya terhadap ayah telah hilang.
Di balik kemarahan bisa terdapat rasa kehilangan.
Di balik penolakan bisa terdapat ketakutan.
Di balik sikap dingin bisa terdapat kekecewaan.
Dan di balik keengganan bertemu bisa terdapat kebutuhan untuk merasa aman.
Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak buru-buru membalas penolakan anak dengan tekanan, ancaman, atau rasa bersalah.
Kalimat seperti "Kalau kamu tidak mau bertemu, berarti kamu tidak sayang Ayah" justru dapat membuat anak semakin terbebani.
Yang lebih membantu adalah mencoba memahami pengalaman subjektif anak.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?
Ketika anak menolak bertemu, tujuan utama seharusnya bukan sekadar membuat anak patuh.
Tujuan yang lebih penting adalah memahami penyebab penolakan dan membangun kembali rasa aman serta kepercayaan.
Beberapa pendekatan yang dapat membantu antara lain:
Dengarkan tanpa langsung membantah
Biarkan anak menjelaskan alasan mereka. Hindari langsung mengatakan bahwa perasaan mereka salah.
Validasi emosi, bukan berarti menyetujui semua perilaku
Orang tua dapat mengatakan:
"Aku mengerti kamu sedang marah dan tidak nyaman. Aku ingin memahami apa yang membuat kamu merasa seperti itu."
Validasi tidak berarti orang tua harus menyetujui semua keputusan anak. Validasi berarti mengakui bahwa perasaan tersebut nyata bagi anak.
Jangan menjadikan anak sebagai mediator
Anak sebaiknya tidak dipaksa membawa pesan, menyampaikan keluhan, atau memilih siapa yang benar dalam konflik orang tua.
Hindari berbicara buruk tentang mantan pasangan di depan anak
Anak tidak seharusnya diposisikan sebagai hakim dalam konflik orang dewasa.
Bangun kembali hubungan secara perlahan
Jika hubungan sudah renggang, memaksa anak untuk langsung menjalani pertemuan panjang mungkin bukan pendekatan terbaik. Hubungan dapat dibangun kembali melalui interaksi yang lebih ringan, konsisten, dan sesuai dengan kebutuhan anak.
Fokus pada kualitas hubungan
Kehadiran orang tua bukan hanya soal berapa kali bertemu. Anak membutuhkan pengalaman bahwa ketika bersama orang tuanya, ia didengarkan, dihargai, dan merasa aman.
Pertimbangkan bantuan profesional
Jika penolakan berlangsung lama, disertai kecemasan berat, ketakutan, konflik keluarga yang intens, atau terdapat dugaan pengalaman traumatis, psikolog anak atau profesional kesehatan mental keluarga dapat membantu memahami masalah secara lebih objektif.
Kesimpulan
Anak yang menolak bertemu dengan orang tua setelah perceraian tidak dapat dipahami hanya dengan satu penjelasan.
Ada anak yang menolak karena marah. Ada yang merasa kehilangan. Ada yang mengalami konflik loyalitas. Ada yang merasa tidak aman. Ada pula yang memiliki pengalaman negatif dengan orang tua tersebut.
Karena itu, respons terbaik bukan langsung bertanya, "Bagaimana supaya anak mau bertemu?"
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
"Apa yang sedang dirasakan anak sehingga ia merasa perlu menolak pertemuan tersebut?"
Perubahan perspektif ini sangat penting.
Ketika penolakan hanya dilihat sebagai pembangkangan, orang tua cenderung menggunakan tekanan. Namun, ketika penolakan dipandang sebagai bentuk komunikasi psikologis, orang tua memiliki kesempatan untuk memahami kebutuhan anak.
Pada akhirnya, yang paling dibutuhkan anak setelah perceraian bukanlah kemenangan salah satu pihak. Anak membutuhkan rasa aman, stabilitas, kesempatan untuk mencintai kedua orang tuanya tanpa merasa bersalah, dan hubungan yang membuatnya merasa didengar.
Perceraian mungkin mengakhiri hubungan pasangan, tetapi tidak seharusnya mengakhiri kesempatan seorang anak untuk memiliki hubungan yang sehat dengan orang tuanya—selama hubungan tersebut aman dan memang baik bagi perkembangan anak.