JawaPos.com - Mengasuh anak bukan pekerjaan yang selalu terasa menyenangkan. Ada hari ketika si kecil begitu ceria, mudah diajak bekerja sama, dan membuat rumah terasa penuh kebahagiaan. Namun, ada pula hari ketika anak terus menangis, sulit makan, menolak mandi, tantrum, sulit tidur, atau berulang kali melakukan hal yang sama meskipun sudah dinasihati.
Pada saat seperti itu, orang tua mungkin mulai merasa lelah.
Bahkan, tidak sedikit orang tua yang kemudian bertanya dalam hati, "Kenapa saya merasa begitu berat mengasuh anak?"
Perasaan tersebut tidak otomatis berarti Anda adalah orang tua yang buruk. Dalam psikologi, kemampuan orang tua untuk mengelola emosi, merespons kebutuhan anak, dan tetap menjalankan pengasuhan secara konsisten memang dapat menjadi tantangan, terutama ketika orang tua sedang kelelahan atau memiliki banyak tekanan.
Yang perlu diingat, parenting bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna. Parenting lebih banyak berbicara tentang kemampuan untuk terus membangun hubungan yang aman, memberikan batasan yang sehat, dan memperbaiki hubungan ketika terjadi kesalahan.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (10/8), jika akhir-akhir ini mengasuh si kecil terasa berat, berikut tujuh strategi parenting yang dapat membantu.
1. Berhenti Sejenak Sebelum Merespons Tingkah Anak
Salah satu hal paling sulit dalam mengasuh anak adalah tetap tenang ketika anak sedang tidak tenang.
Anak menangis, berteriak, melempar barang, menolak makan, atau tidak mau mengikuti aturan. Secara spontan, orang tua mungkin ingin langsung memarahi.
"Sudah dibilang jangan begitu!"
"Berhenti menangis!"
"Kenapa sih susah sekali diberi tahu?"
Namun, ketika emosi orang tua sedang tinggi, respons yang keluar sering kali bukan respons yang paling efektif.
Karena itu, strategi pertama adalah memberikan jeda sebelum merespons.
Tarik napas perlahan. Diam beberapa detik. Pastikan Anda tidak sedang bereaksi hanya karena merasa kesal.
Dalam psikologi, kemampuan mengelola respons emosional berkaitan dengan self-regulation atau regulasi diri. Orang tua yang mampu mengatur emosinya akan lebih mudah memberikan respons yang terarah daripada sekadar bereaksi terhadap perilaku anak.
Jeda beberapa detik bukan berarti membiarkan anak melakukan kesalahan.
Sebaliknya, jeda membantu orang tua menentukan:
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah anak sedang membutuhkan bantuan?
Apakah perilakunya perlu diberi batasan?
Apakah saya sedang terlalu lelah untuk merespons dengan baik?
Misalnya, ketika anak menangis karena tidak mendapatkan mainan yang diinginkannya, daripada langsung membentak, orang tua bisa berkata:
"Mama tahu kamu kecewa karena tidak boleh membeli mainan itu. Kamu boleh kecewa, tetapi kita tidak boleh memukul."
Kalimat seperti ini tetap memberikan batasan, tetapi tidak mempermalukan anak.
Ingat prinsip sederhananya:
Tenangkan diri orang tua terlebih dahulu, kemudian bantu anak menenangkan dirinya.
Sulit mengajarkan regulasi emosi kepada anak jika orang tua sendiri sedang kehilangan kendali.
2. Bedakan Anak "Nakalan" dengan Anak yang Sedang Kesulitan
Tidak semua perilaku sulit berarti anak sengaja ingin membuat orang tua marah.
Anak kecil masih belajar mengendalikan impuls, memahami aturan, mengenali emosi, dan mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata.
Karena kemampuan tersebut belum berkembang sepenuhnya, emosi anak sering muncul melalui perilaku.
Anak yang lapar mungkin menjadi lebih mudah marah.
Anak yang mengantuk mungkin menjadi rewel.
Anak yang kewalahan dengan lingkungan mungkin menangis.
Anak yang belum mampu mengatakan "Aku kecewa" mungkin justru melempar benda.
Karena itu, ketika anak melakukan sesuatu yang sulit, cobalah mengubah pertanyaan.
Daripada hanya bertanya:
"Kenapa anak saya nakal?"
coba tanyakan:
"Apa yang sedang dialami anak saya?"
Perubahan cara berpikir ini dapat membuat orang tua lebih mudah merespons kebutuhan anak.
Bukan berarti semua perilaku harus dibiarkan.
Anak tetap perlu belajar bahwa memukul, menyakiti orang lain, merusak barang, atau melanggar aturan memiliki konsekuensi.
Namun, memahami penyebab perilaku tidak sama dengan membenarkan perilaku.
Contohnya:
"Kamu boleh marah karena adik mengambil mainanmu. Tapi kamu tidak boleh memukul adik."
Anak mendapatkan dua pesan sekaligus:
Emosinya diterima, tetapi perilakunya tetap memiliki batas.
Inilah salah satu prinsip penting dalam positive parenting.
3. Validasi Emosi Anak, Bukan Semua Perilakunya
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah mencoba menghentikan emosi anak.
Ketika anak menangis, orang tua berkata:
"Jangan menangis."
Ketika anak takut:
"Ah, tidak usah takut."
Ketika anak kecewa:
"Begitu saja kok menangis."
Padahal, bagi anak, emosi yang sedang dirasakan bisa terasa sangat besar.
Validasi bukan berarti mengatakan bahwa anak selalu benar.
Validasi berarti membantu anak memahami bahwa perasaannya dapat dikenali dan diterima.
Contohnya:
"Kamu sedih karena Ayah pergi bekerja."
"Kamu marah karena mainannya diambil."
"Kamu kecewa karena hari ini tidak jadi pergi."
Setelah emosi anak mulai lebih tenang, orang tua dapat memberikan arahan.
Misalnya:
"Kamu boleh marah. Tapi kalau marah, kita tidak boleh memukul. Kalau ingin marah, bilang kepada Mama."
Dengan cara ini, anak secara bertahap belajar bahwa:
"Saya boleh memiliki emosi, tetapi saya tetap harus belajar mengatur perilaku."
Kemampuan tersebut penting karena tujuan parenting bukan membuat anak tidak pernah marah atau sedih.
Anak tetap akan mengalami kecewa, frustrasi, takut, dan marah.
Tujuan yang lebih realistis adalah membantu anak belajar menghadapi emosi tersebut dengan cara yang semakin sehat.
4. Kurangi Ceramah, Perbanyak Rutinitas yang Konsisten
Ketika anak melakukan kesalahan yang sama berkali-kali, orang tua sering kali menambah panjang nasihat.
"Sudah berapa kali Mama bilang?"
"Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan?"
"Jangan begitu terus!"
Masalahnya, anak kecil belum tentu mampu memproses ceramah panjang ketika sedang emosional.
Karena itu, salah satu strategi yang lebih efektif adalah membuat aturan sederhana dan rutinitas yang konsisten.
Misalnya, daripada setiap malam berdebat mengenai waktu tidur, buat rutinitas:
Mandi → memakai piyama → membaca buku → mematikan lampu → tidur.
Rutinitas memberikan struktur yang dapat diprediksi oleh anak.
Anak menjadi lebih tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
Hal yang sama dapat diterapkan untuk:
waktu makan,
mandi,
bermain,
membereskan mainan,
menggunakan gadget,
pergi ke sekolah,
dan waktu tidur.
Orang tua juga sebaiknya menggunakan aturan yang singkat.
Misalnya:
"Mainan selesai digunakan, kita rapikan."
Daripada:
"Mama sudah capek setiap hari membereskan rumah. Kamu itu kalau main jangan berantakan terus. Mama sudah bilang berkali-kali..."
Kalimat yang lebih pendek sering kali lebih mudah dipahami anak.
Yang paling penting bukan hanya membuat aturan, tetapi menjalankannya secara konsisten.
Jika hari ini aturan berlaku, besok tidak, lalu lusa berlaku lagi, anak akan kesulitan memahami batasan.
5. Berikan Pilihan Terbatas agar Anak Merasa Memiliki Kendali
Anak kecil sering ingin melakukan sesuatu sendiri.
"Aku mau pilih bajuku."
"Aku mau makan sendiri."
"Aku mau pakai sepatu sendiri."
"Aku tidak mau mandi!"
Keinginan untuk memiliki kendali merupakan bagian yang wajar dalam perkembangan anak.
Jika setiap keputusan langsung ditentukan oleh orang tua, konflik dapat semakin sering terjadi.
Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah memberikan pilihan terbatas.
Misalnya:
Bukan:
"Ayo mandi sekarang!"
tetapi:
"Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?"
Bukan:
"Pakai baju ini!"
tetapi:
"Kamu mau memakai baju biru atau baju kuning?"
Bukan:
"Ayo bereskan mainan!"
tetapi:
"Kita mulai dari mobil-mobilan atau balok dulu?"
Perhatikan bahwa orang tua tetap menentukan batas.
Anak tidak diberikan pilihan apakah mandi atau tidak.
Pilihan yang diberikan adalah kapan atau bagaimana melakukannya dalam batas yang sudah ditentukan.
Strategi ini dapat mengurangi perebutan kekuasaan kecil yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Anak merasa memiliki sedikit kendali, sementara orang tua tetap memegang struktur.
6. Berikan Perhatian pada Perilaku Positif
Orang tua biasanya sangat cepat memberikan perhatian ketika anak melakukan kesalahan.
Anak menumpahkan makanan: ditegur.
Anak berteriak: dimarahi.
Anak memukul adik: langsung diperhatikan.
Namun, ketika anak bermain dengan tenang, berbagi, menunggu giliran, atau membereskan mainan, orang tua mungkin tidak mengatakan apa-apa.
Padahal, dalam psikologi perilaku, perilaku yang mendapatkan konsekuensi positif cenderung lebih mungkin diulang.
Karena itu, jangan hanya memperhatikan ketika anak melakukan kesalahan.
Perhatikan juga ketika anak melakukan sesuatu yang baik.
Tidak harus berupa hadiah.
Perhatian positif sederhana sudah dapat membantu.
Contohnya:
"Terima kasih sudah menunggu giliran."
"Mama lihat kamu mau berbagi mainan dengan adik."
"Kamu tadi marah, tapi kamu berhasil bilang tidak suka tanpa memukul. Itu bagus."
"Wah, kamu membereskan mainan tanpa diminta."
Pujian yang spesifik lebih membantu daripada pujian yang terlalu umum.
Daripada hanya mengatakan:
"Anak pintar."
cobalah:
"Kamu terus mencoba meskipun tadi sulit. Itu usaha yang bagus."
Dengan demikian, anak bukan hanya belajar mengejar label "pintar", tetapi juga belajar menghargai usaha, proses, dan perilaku positif.
7. Rawat Kondisi Psikologis Orang Tua
Ini mungkin strategi yang paling sering dilupakan.
Orang tua terlalu sibuk memikirkan:
"Bagaimana supaya anak saya tidak tantrum?"
"Bagaimana supaya anak mau menurut?"
"Bagaimana supaya anak tidak rewel?"
Tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
"Bagaimana kondisi saya sebagai orang tua?"
Mengasuh anak membutuhkan energi fisik dan emosional.
Jika orang tua terus-menerus kurang tidur, tidak memiliki waktu istirahat, menghadapi tekanan pekerjaan, atau merasa harus melakukan semuanya sendirian, pengasuhan dapat terasa jauh lebih berat.
Karena itu, merawat diri bukan berarti egois.
Orang tua juga membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak.
Jika memungkinkan, mintalah bantuan pasangan, keluarga, atau orang yang dapat dipercaya.
Tidak harus pergi berlibur jauh.
Kadang-kadang yang dibutuhkan hanyalah:
mandi dengan tenang,
tidur lebih cukup,
berjalan sebentar,
menikmati kopi tanpa tergesa-gesa,
berbicara dengan pasangan,
bertemu teman,
atau memiliki waktu beberapa puluh menit tanpa harus terus-menerus mengurus kebutuhan anak.
Jika Anda merasa sangat kewalahan dalam waktu yang lama, sulit mengendalikan emosi, terus-menerus merasa tidak mampu, atau tekanan pengasuhan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang bijaksana.
Meminta bantuan bukan tanda kegagalan.
Justru, mengenali bahwa diri sendiri membutuhkan bantuan merupakan bentuk tanggung jawab.
Parenting Tidak Harus Sempurna
Salah satu sumber tekanan terbesar dalam parenting adalah keinginan menjadi orang tua yang sempurna.
Orang tua mungkin melihat keluarga lain di media sosial.
Anaknya terlihat tenang.
Makannya lahap.
Rumahnya rapi.
Orang tuanya tampak selalu sabar.
Lalu muncul pikiran:
"Kenapa saya tidak bisa seperti itu?"
Padahal, kehidupan keluarga tidak hanya terdiri dari momen yang terlihat.
Ada malam ketika orang tua kehilangan kesabaran.
Ada pagi ketika anak tidak mau sekolah.
Ada waktu ketika orang tua berkata terlalu keras.
Ada hari ketika rumah berantakan dan semua orang kelelahan.
Kesalahan dalam parenting tidak otomatis menghancurkan hubungan orang tua dan anak.
Yang penting adalah kemampuan untuk melakukan repair, yaitu memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik.
Misalnya, setelah membentak anak, orang tua dapat mengatakan:
"Tadi Mama terlalu keras bicara. Mama sedang marah, tetapi Mama seharusnya tidak membentak kamu. Maaf."
Permintaan maaf seperti ini bukan membuat orang tua kehilangan wibawa.
Justru anak dapat belajar bahwa orang dewasa pun bisa melakukan kesalahan dan bertanggung jawab untuk memperbaikinya.
Jika Hari Ini Terasa Berat, Mulailah dari Satu Hal
Anda tidak harus menerapkan tujuh strategi sekaligus.
Jika mengasuh si kecil sedang terasa sangat berat, pilih satu perubahan kecil terlebih dahulu.
Misalnya, selama minggu ini fokus pada:
"Saya akan berhenti sejenak sebelum membentak."
Minggu berikutnya, Anda bisa mencoba:
"Saya akan memvalidasi emosi anak sebelum memberikan nasihat."
Kemudian:
"Saya akan memberikan pujian ketika anak melakukan sesuatu yang positif."
Parenting adalah proses jangka panjang.
Perubahan kecil yang dilakukan berulang kali dapat jauh lebih realistis daripada mencoba menjadi orang tua sempurna dalam satu hari.
Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu tenang, selalu benar, dan tidak pernah melakukan kesalahan.
Anak membutuhkan orang tua yang cukup hadir, mau belajar, memberikan batasan yang aman, berusaha memahami emosinya, dan bersedia memperbaiki hubungan ketika terjadi kesalahan.
Jadi, jika hari ini Anda merasa berat mengasuh si kecil, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Anda gagal sebagai orang tua.
Mungkin Anda hanya sedang lelah.
Mungkin Anda membutuhkan bantuan.
Mungkin ada strategi pengasuhan yang perlu disesuaikan.
Dan mungkin, yang paling Anda butuhkan bukan menjadi orang tua yang lebih sempurna, tetapi menjadi orang tua yang lebih berbelas kasih kepada diri sendiri sambil terus belajar memahami anak.
Karena parenting bukan tentang memenangkan setiap pertengkaran dengan anak.
Parenting adalah tentang membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk tumbuh, belajar, melakukan kesalahan, dan pada akhirnya menjadi pribadi yang mampu mengelola dirinya sendiri.