← Beranda
Hari Anak 2026, Psikolog Ingatkan Masa Depan Anak Tak Terpaku pada Akademis
Tazkia Royyan HikmatiarJumat, 24 Juli 2026 | 00.33 WIB
Ilustrasi orang tua dan anaknya. (Magnific)

JawaPos.com - Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tahun 2026 mengambil tema Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan". Namun, psikolog anak mengingatkan bahwa masa depan anak tak melulu soal nilai akademis yang baik.

Hubungan emosional yang sehat antara orang tua dan anak justru menjadi fondasi penting agar anak tumbuh tangguh dan siap menghadapi berbagai tantangan hidup.

Psikolog Anak, Dhisty Azlia Firnady, M.Psi., Psikolog, menekankan bahwa masyarakat kerap memaknai masa depan anak sebatas prestasi di sekolah. Padahal, kelekatan emosional antara orang tua dan anak memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk kesehatan mental dan perkembangan anak.

Baca Juga: Persita Datangkan Luquinhas, Eks PSBS Biak Siap Pertajam Lini Serang Pendekar Cisadane

"Kalau ngomongin masa depan, kita sering lebih berpikir akademis, sekolah. Tapi jangan lupa hubungan yang sehat dan kelekatan emosional antara orang tua dan anak juga tidak kalah penting," ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (22/7).

Menurut Dhisty, anak yang merasa dicintai, didengar, dan dihargai akan lebih percaya diri untuk mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya. Perasaan diterima dan disayangi menjadi fondasi utama bagi tumbuh kembang anak sekaligus membangun ketahanan mental atau resilience saat menghadapi tantangan di masa depan.

Rumah Jadi Tempat Anak Merasa Aman

Ia menjelaskan, anak yang memiliki rasa aman di dalam keluarganya akan lebih berani menghadapi dunia luar. Sebab, mereka telah memiliki keyakinan bahwa ada tempat yang selalu menerima dan mendukung mereka ketika menghadapi kesulitan.

Karena itu, Dhisty mengajak para orang tua untuk mencintai anak secara utuh dengan hadir secara emosional, memberikan rasa aman dan nyaman, serta menjadi tempat pulang terbaik bagi anak-anak.

Menurutnya, rumah seharusnya menjadi ruang tumbuh yang aman dan nyaman. Anak akan betah berada di rumah ketika mereka merasakan kasih sayang tanpa syarat, didengarkan, dan dihargai oleh anggota keluarga.

Kehadiran orang tua secara emosional, kedekatan dengan figur lekat, serta pola komunikasi yang positif akan menciptakan rasa aman yang dibutuhkan anak untuk berkembang secara optimal.

Mengingat Kembali Hak Anak

Dhisty juga menyoroti pentingnya menghormati hak-hak anak, termasuk hak untuk menyampaikan pendapat dan mengekspresikan diri. Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk berbicara sekaligus mendengarkan pendapat mereka.

"Terkadang kita lupa bahwa anak jyga memiliki hak untuk berpendapat dan mengekspresikan diri, tentu berhak pula didengar pendapatnya," ucapnya.

Tak kalah penting, rasa aman yang dibutuhkan anak bukan hanya perlindungan secara fisik, tetapi juga keamanan emosional. Menurut Dhisty, anak sebaiknya terhindar dari bentakan, penghinaan, pelabelan negatif, ancaman, maupun pengabaian yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan perkembangan mereka.

Sebagai informasi, Hari Anak Nasional ke-42 tahun 2026 mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan". Tema tersebut menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa untuk menghadirkan lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah