← Beranda
Cara Kenali Anak yang Kemungkinan Alami Gangguan Kesehatan Mental, Salah Satunya Sulit Tidur
Tazkia Royyan HikmatiarKamis, 2 Juli 2026 | 05.05 WIB
Ilustrasi gangguan tidur, insomnia.

 

JawaPos.com - Ada sejumlah tanda yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengenali kemungkinan gangguan kesehatan mental pada remaja. Salah satu gejala yang paling mudah dikenali adalah perubahan pola tidur, seperti sulit tidur atau sering terbangun di malam hari.

Menurut Psikolog Keluarga Pritta Tyas, gangguan kesehatan mental pada remaja memiliki spektrum yang luas. Namun, orang tua dapat mulai mengamati apakah perubahan perilaku anak sudah mengganggu aktivitas sehari-harinya.

"Kalau mau disederhanakan, indikatornya yang pertama, apakah anak remaja ini mengalami permasalahan di kesehariannya. Misalnya rutinitas makan, entah nafsu makannya berkurang atau bahkan binge eating, jadi semakin stres semakin larinya ke makanan," kata Pritta, Rabu (1/7).

Selain pola makan, perubahan pola tidur juga menjadi tanda yang patut diwaspadai. Ia mengatakan bahwa orang tua perlu memperhatikan apabila anak mulai mengalami kesulitan tidur, sering terbangun pada malam hari, atau tidur yang tidak nyenyak hingga disertai mimpi buruk.

"Apakah anak remaja kita ini bermasalah dengan misalnya sulit tidur, atau tidurnya terbangun-bangun, atau pada saat tidur terbangun terus berkeringat karena mimpi yang tidak enak," jelasnya.

Pritta juga meminta orang tua mengamati apakah anak kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya sangat disukai. Misalnya, remaja yang biasanya bersemangat mengikuti latihan sepak bola atau menari tiba-tiba enggan mengikuti kegiatan tersebut tanpa alasan yang jelas.

"Biasanya hobi banget soccer, biasanya hobi banget dancing, terus tiba-tiba bilang, 'Ah malas, enggak mau berangkat.' Dan itu terjadi terus-menerus lebih dari dua sampai tiga minggu," tuturnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan tersebut perlu dilihat dalam konteks kehidupan anak. Jika remaja sedang menghadapi perubahan besar, seperti pindah rumah, pindah sekolah, orang tua bekerja di luar kota dalam waktu lama, atau kehilangan orang yang disayangi, perubahan emosi masih dapat dipengaruhi oleh kondisi tersebut.

Sebaliknya, apabila tidak ada perubahan besar tetapi gejala-gejala tersebut muncul secara intens dan berlangsung selama dua hingga tiga minggu, orang tua sebaiknya mulai mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan profesional.

Meski begitu, Pritta menegaskan bahwa menemui psikolog tidak harus menunggu hingga kondisi kesehatan mental anak terganggu. Menurutnya, konsultasi dapat dilakukan sebagai langkah pencegahan sekaligus mengenal kondisi psikologis anak sejak dini.

"Kalau kita mau ke psikolog itu tidak perlu menunggu kesehatan mental terganggu atau tidak perlu menunggu tanda-tanda ini ada. Sekadar untuk saling mengenal satu sama lain, untuk mental health check-up, itu boleh. Jadi tidak usah menunggu sampai masalah besar baru pergi ke profesional," katanya.

Ia pun mengimbau orang tua agar tidak terburu-buru mendiagnosis kondisi anak sendiri. Apabila komunikasi dalam keluarga mulai terasa buntu atau membutuhkan penengah, berkonsultasi dengan psikolog merupakan langkah yang tepat.

"Jangan analisis sendiri. Kalau memang terlihat komunikasinya membutuhkan penengah, boleh berkonsultasi kepada profesional," pungkas Pritta.

EDITOR: Estu Suryowati