JawaPos.com - Anak yang suka membantah alias ngeyel selama ini seringkali dianggap merepotkan bagi kebanyakan orang tua. Padahal, Psikolog Keluarga Pritta Tyas menyebut bahwa anak yang suka membantah tidak selalu menjadi tanda perilaku buruk.
Justru, anak yang berani menyampaikan pendapat dan perasaannya dinilai lebih mudah dipahami oleh orang tua dibandingkan anak yang terlalu pendiam.
Menurut Pritta, kemampuan remaja untuk mengungkapkan apa yang dirasakan menjadi modal penting bagi orang tua dalam mengenali kebutuhan emosional anak. Dengan begitu, berbagai persoalan yang mungkin dialami remaja, termasuk gangguan kesehatan mental, berpeluang lebih cepat terdeteksi.
"Kalau anak itu ngeyelan, berarti dia berani mengkomunikasikan apa yang dia mau, apa yang dia rasa, sehingga lebih mudah untuk kita mendeteksi apa yang anak kita butuhkan dan emosi apa yang membuat dia enggak nyaman," ujarnya kepada wartawan, Rabu (1/7).
Ia menjelaskan, ketika remaja terbuka menyampaikan isi hati dan pikirannya, orang tua memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengetahui penyebab perubahan perilaku maupun kondisi emosional anak.
Sebaliknya, anak yang terlalu pendiam atau selalu menuruti keinginan orang tua justru dapat menyulitkan proses komunikasi. Menurutnya, orang tua akan lebih sulit menggali apa yang sebenarnya sedang dirasakan anak jika mereka tidak terbiasa mengungkapkan pendapat.
"Kalau ada masalah gangguan mental, lebih cepat kedeteksi daripada anak yang pendiam, penurut, apa kata mama. Kita lebih susah menggali sebenarnya apa yang sedang terjadi di dia. Jadi kalau ada masalah gangguan mental, lebih susah untuk cepat-cepat menangani atau membantu," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pritta juga meluruskan anggapan bahwa tingkat kedewasaan remaja dipengaruhi oleh jenis kelamin. Menurutnya, hingga saat ini belum ada riset yang menunjukkan bahwa anak laki-laki atau perempuan memiliki tingkat kematangan yang berbeda hanya karena faktor gender.
Ia menegaskan bahwa yang lebih berpengaruh adalah temperamen masing-masing anak. Ada anak yang cenderung mudah mengikuti aturan tetapi kurang memiliki inisiatif, sementara ada pula yang lebih sulit diatur namun memiliki inisiatif yang tinggi.
Baca Juga: 7 Frasa Pria Ini Tunjukkan Tingkat Kecerdasan Emosionalnya Rendah Menurut Psikologi
"Belum ada riset yang menyatakan salah satu gender lebih cepat matangnya daripada yang lain. Yang berpengaruh bukan gendernya, tapi temperamen anaknya. Jadi gender tidak berpengaruh sebenarnya," papar Pritta. (*)