← Beranda
Tren 'TV Moms': 5 Alasan Ibu Lebih Pilih Televisi ketimbang Tablet untuk Anak
Ryandi Zahdomo• Selasa, 30 Juni 2026 | 19.43 WIB
Ilustrasi anak-anak menonton tayangan televisi. (Pexels/Vika Glitter)

JawaPos.com - Belakangan ini muncul tren pengasuhan unik. Sejumlah ibu secara ketat melarang anak mereka memegang ponsel atau tablet, tetapi justru membiarkan televisi menyala hampir sepanjang hari di rumah.

Fenomena yang melahirkan istilah "TV Moms" ini didasari oleh keyakinan para orang tua bahwa dampak paparan layar besar jauh berbeda dengan gawai genggam.

Meskipun mayoritas pakar tumbuh kembang tidak menyarankan menyalakan TV terus-menerus, para ibu ini memiliki argumen kuat mengapa televisi jauh lebih ramah bagi perkembangan anak.

Terdapat lima alasan spesifik mengapa medium televisi dinilai memberikan dampak yang lebih positif dan memicu interaksi yang lebih sehat dibandingkan perangkat gawai kecil.

Baca Juga: Orang yang Tumbuh Besar dengan Mendengar 10 Frasa Ini dari Orang Tua, Biasanya Kesulitan Menetapkan Batasan Saat Dewasa

1. Tingkat Stimulasi Otak yang Jauh Lebih Rendah

Beberapa ibu, termasuk kreator konten Nikole Goncalves, mempercayai bahwa televisi memberikan stimulasi yang tidak seagresif ponsel pintar atau tablet. 

Goncalves menerapkan metode "slow TV" di rumahnya, yaitu hanya menayangkan acara-acara klasik dengan tempo lambat dan tenang.

Seperti "Magic School Bus" atau "Max and Ruby", di mana keduanya bukan merupakan tayangan modern yang bergerak terlalu cepat.

Langkah ini sejalan dengan peringatan dari psikiater anak, Dr. Zabina Bhasin. ia menjelaskan bahwa tayangan modern yang bertempo cepat berisiko mengganggu perkembangan otak anak.

"Hal ini dapat menyebabkan rentang perhatian yang lebih pendek, peningkatan iritabilitas (mudah marah), dan perilaku impulsif karena otak mereka kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kurang merangsang," papar Dr. Zabina Bhasin.

Baca Juga: 8 Ciri Kepribadian Orang yang Tidak Dekat dengan Orang Tua Saat Tumbuh Dewasa Menurut Psikologi, Apa Saja?

Dalam hal ini, pasifnya sifat menonton televisi dinilai lebih aman dari risiko stimulasi berlebihan (overstimulation).

2. Memberikan Ruang bagi Imajinasi dan Kreativitas

Tayangan dengan alur yang lambat memberikan jeda waktu bagi anak-anak untuk memproses apa yang mereka lihat, sekaligus memicu daya imajinasi mereka.

Saat anak tidak disuguhi stimulasi visual tanpa henti, mereka dirangsang untuk berpikir dan menerjemahkan cerita dengan cara mereka sendiri.

Aktivitas ini sangat kontras dengan kebiasaan menonton video pendek berdurasi singkat di gawai yang berganti secara konstan.

Memberi kesempatan kepada anak untuk menggunakan imajinasi mereka tidak hanya meningkatkan kreativitas, tetapi juga memperkuat keterampilan sosial, emosional, dan kognitif sejak dini.

Baca Juga: Tangis Orang Tua Palestina di Tepi Barat: 235 Anak Tewas, Tak Ada Satu Pun Tentara Israel DIdakwa

3. Kendali Penuh Berada di Tangan Orang Tua

Salah satu kelemahan terbesar gawai genggam adalah sulitnya memantau apa yang sedang digulir oleh anak secara instan, kecuali orang tua duduk menempel di sampingnya.

Sebaliknya, televisi menempatkan kendali penuh pada orang tua melalui kendali jarak jauh (remote control).

Orang tua dapat dengan mudah mengkurasi dan memilih saluran atau layanan streaming yang aman sebelum ditonton anak.

Meskipun aplikasi pembatas internet di ponsel sudah banyak tersedia, pengawasan pada layar TV jauh lebih transparan dan minim kecolongan konten negatif.

4. Membuka Ruang Diskusi dan Keterlibatan Keluarga

Penggunaan ponsel atau tablet cenderung bersifat individualistis, di mana anak akan terisolasi di dunianya sendiri dengan menunduk menatap layar.

Baca Juga: 7 Kesalahan yang Selalu Dihindari Orang Tua Hebat agar Hubungan dengan Anak Laki-Laki Tetap Dekat Hingga Dewasa

Sementara itu, menonton televisi merupakan aktivitas komunal yang dapat melibatkan seluruh anggota keluarga di ruang tengah.

Kondisi ini membuka peluang terjadinya komunikasi dua arah, baik antar saudara kandung maupun antara orang tua dan anak.

Shelley Pasnik, Direktur Center for Children and Technology, menyatakan bahwa interaksi timbal balik ini mengubah fokus tontonan.

"Hal ini mengalihkan fokus dari hubungan antara anak dan TV ke hubungan orang tua-anak," jelas Shelley Pasnik.

Melalui diskusi ringan saat tayangan berlangsung, anak justru dapat menyerap nilai edukasi secara lebih optimal.

Baca Juga: Anda Tahu Bahwa Anda Dibesarkan oleh Orang Tua yang Luar Biasa Ketika 10 Hal Ini Terasa Sepenuhnya Normal Menurut Psikologi

5. Anak Lebih Mudah Bosan dan Memilih Bermain Fisik

Gawai modern sengaja dirancang dengan algoritma yang adiktif agar penggunanya betah berlama-lama.

Namun, sifat televisi yang pasif membuat anak-anak memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk merasa bosan dan mengalihkan perhatiannya ke hal lain.

Perbedaan mendasar ini dijelaskan oleh Dr. Jason Nagata, seorang profesor madya kedokteran remaja di Amerika Serikat. Ia membedakan fitur desain aplikasi seluler dengan media konvensional.

"Fitur desain tertentu yang umum pada media sosial dan aplikasi seluler, seperti pengguliran tanpa batas (infinite scroll), pemutaran otomatis, dan notifikasi yang sering, secara spesifik dimaksudkan untuk membuat pengguna tetap terlibat dalam jangka waktu lama," ungkap Nagata.

Menurut pengalaman para ibu, saat anak-anak bosan menggunakan tablet, mereka hanya akan mencari video lain yang lebih menghibur.

Baca Juga: Dari Fun Match Padel ke Bangku Sekolah: Cerita Orang Tua di Balik Pilihan BINUS SCHOOL Surabaya

Namun ketika mereka mulai bosan menatap TV, mereka akan langsung berdiri dan beralih mengambil buku cerita, menyusun teka-teki, atau bermain fisik di dunia nyata.

EDITOR: Bayu Putra