← Beranda
6 Tanda Kamu Dibesarkan oleh Orang Tua yang Belum Matang secara Emosional, Salah Satunya Malu Menunjukkan Emosi
Mellyna Putri DiniarSelasa, 16 Juni 2026 | 00.37 WIB
Ilustrasi orang tua yang belum memiliki kematangan emosional dalam pola pengasuhan anak (Freepik)

JawaPos.com - Sebagian orang menjalani hidup yang tampak normal, namun merasakan ketidaksesuaian batin yang sulit dijelaskan. Perasaan ini sering bukan berasal dari satu trauma besar, melainkan pola kecil yang terbentuk sejak masa kecil. 

Pola tersebut memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berelasi tanpa disadari. Dalam teori psikologi Carl Jung, hal ini dapat berkaitan dengan pengasuhan oleh orang tua yang secara emosional belum matang. 

Bukan selalu soal kekerasan, tetapi ketidakhadiran secara psikologis dalam memahami dunia batin anak. Dampaknya membentuk cara seseorang memandang diri dan orang lain hingga dewasa.

Dari perspektif ini, terdapat sejumlah tanda yang menunjukkan adaptasi psikologis tersebut. Tanda ini bukan kelemahan, melainkan strategi bertahan yang terbentuk sejak dini. Jika dikenali, pola ini dapat membantu memahami akar masalah emosional yang lebih dalam.

Dilansir dari YouTube Psyphoria, Senin (15/6), pembahasan ini merujuk pada konsep Carl Jung tentang persona, shadow, dan pembentukan diri yang dipengaruhi pengalaman masa kecil.

Baca Juga: 9 Tanda Halus bahwa Anggota Keluarga Menolerir Anda tetapi Sebenarnya Tidak Menikmati Kehadiran Anda Menurut Psikologi

1. Hidup dengan "Topeng" agar Bisa Diterima

Banyak orang tumbuh dengan kebiasaan menyesuaikan diri agar tidak ditolak. Mereka belajar menjadi versi yang "diinginkan", bukan versi yang asli. 

Lama-kelamaan, terbentuklah persona, topeng sosial yang dipakai untuk berinteraksi dengan dunia. Masalahnya, topeng ini sering menjadi lebih kuat daripada diri yang sebenarnya. 

Akibatnya, seseorang bisa terlihat percaya diri dan stabil, tetapi merasa kosong atau tidak benar-benar mengenal dirinya sendiri. Bahkan saat sendirian, ia tetap "berperan" seolah ada yang sedang menonton.

2. Terlalu Bertanggung Jawab atas Perasaan Orang Lain

Sejak kecil, sebagian orang belajar bahwa emosi orang lain harus dijaga agar suasana tetap aman. Saat dewasa, pola ini berubah menjadi kebiasaan merasa bersalah ketika orang lain sedih, marah, atau kecewa.

Batas antara tanggung jawab diri dan orang lain menjadi kabur. Akhirnya, kebutuhan pribadi sering dikorbankan demi menjaga kenyamanan orang lain. Ini bukan kebaikan murni, tetapi pola adaptasi yang terbawa dari masa kecil.

3. Merasa Malu saat Menunjukkan Emosi Sendiri

Emosi seperti marah, sedih, atau kecewa sering tidak hanya ditekan, tetapi juga dianggap salah. Ketika emosi muncul, yang terasa bukan sekadar tidak nyaman, tetapi juga rasa malu terhadap diri sendiri.

Dalam konsep Carl Jung, ini berkaitan dengan shadow, bagian diri yang tidak pernah benar-benar diterima. Akibatnya, seseorang bisa menjadi sangat keras pada dirinya sendiri hanya karena merasakan emosi yang sebenarnya wajar.

4. Terjebak dalam Pola Hubungan yang Berulang

Dalam hubungan, seseorang bisa tanpa sadar tertarik pada pola yang familiar, meski tidak sehat. Ketidakpastian, jarak emosional, atau hubungan yang tidak stabil justru terasa "normal."

Sistem saraf membaca pola itu sebagai sesuatu yang dikenal, bukan berbahaya. Akibatnya, hubungan yang sehat justru bisa terasa asing atau kurang “hidup”, meskipun sebenarnya lebih aman.

5. Selalu Siaga dalam Situasi Sosial

Sebagian orang terbiasa membaca suasana sebelum benar-benar merasa aman. Mereka cepat menangkap perubahan ekspresi, nada suara, atau energi orang lain di sekitarnya.

Kondisi ini membuat tubuh seperti selalu waspada, bahkan ketika tidak ada ancaman nyata. Sulit benar-benar santai karena sebagian perhatian terus digunakan untuk "mengamankan situasi."

6. Merasa Kosong Meski Hidup Terlihat Lengkap dan Bahagia

Dari luar, hidup bisa terlihat baik: pekerjaan berjalan, hubungan ada, pencapaian tercapai. Namun di dalam, ada rasa kosong yang tidak sepenuhnya terisi.

Kekosongan ini sering ditutupi dengan kesibukan, pencapaian, atau validasi dari luar. Namun tetap kembali, karena akar masalahnya bukan kekurangan hal di luar, melainkan kebutuhan untuk benar-benar "dilihat" dan dipahami secara emosional.

Pola-pola ini bukan kesalahan karakter, melainkan hasil adaptasi psikologis yang terbentuk sejak lama. Memahaminya bukan untuk menyalahkan masa lalu, tetapi untuk menyadari apa yang masih bekerja di dalam diri hingga hari ini.

Perubahan dimulai ketika seseorang berhenti hidup dari pola lama yang otomatis, dan mulai membangun hubungan yang lebih jujur dengan dirinya sendiri, tanpa topeng, tanpa penyangkalan.

Baca Juga: 10 Ungkapan yang Terdengar Mendukung tetapi Sebenarnya Merupakan Tanda Manipulasi Halus Menurut Psikologi

EDITOR: Candra Mega Sari