← Beranda
Simak, Orang Tumbuh Tanpa Uang Menunjukkan 7 Perilaku Bawah Sadar Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Jumat, 12 Juni 2026 | 01.20 WIB
Ilustrasi orang yang dompetnya kosong tanpa uang. (Freepik)

JawaPos.com - Tumbuh dalam kondisi ekonomi terbatas bukan hanya membentuk cara seseorang mengelola uang, tetapi juga dapat memengaruhi pola pikir, emosi, dan respons bawah sadar di masa dewasa.

Dalam psikologi perkembangan, pengalaman masa kecil—terutama yang berkaitan dengan keamanan finansial—sering membentuk schema atau “kerangka berpikir otomatis” yang memengaruhi keputusan tanpa disadari.

Namun penting untuk diingat: tidak semua orang yang tumbuh miskin akan memiliki perilaku ini, dan tidak semua orang dengan perilaku ini pasti berasal dari latar belakang miskin. Ini adalah kecenderungan, bukan hukum pasti.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh perilaku bawah sadar yang sering dikaitkan dengan pengalaman tumbuh tanpa uang yang cukup.

1. Hypervigilance terhadap uang (selalu waspada berlebihan)

Banyak orang yang tumbuh dalam kondisi kekurangan cenderung memiliki “radar finansial” yang sangat sensitif saat dewasa. Mereka bisa sangat sadar terhadap harga, pengeluaran kecil, atau perubahan saldo rekening.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan scarcity mindset (pola pikir kelangkaan). Otak terbiasa memprediksi kekurangan sehingga selalu siaga.

Dampaknya:

Sulit bersantai saat membelanjakan uang
Sering memeriksa pengeluaran berulang kali
Merasa cemas walaupun kondisi sudah stabil

2. Sulit merasa aman secara finansial, meski sudah cukup

Orang yang tumbuh dalam ketidakpastian ekonomi sering membawa “jejak emosional” bahwa uang bisa hilang kapan saja.

Akibatnya, meskipun secara objektif sudah memiliki penghasilan stabil, perasaan aman itu tidak sepenuhnya muncul.

Ini disebut sebagai emotional lag—emosi tertinggal dari realitas.

Contoh:

Tetap merasa “kurang” walau tabungan sudah ada
Takut kehilangan pekerjaan secara berlebihan
Sulit menikmati hasil kerja

3. Kecenderungan menunda kesenangan (extreme delayed gratification)

Sebagian orang menjadi sangat disiplin dalam menahan diri karena terbiasa tidak punya banyak pilihan.

Namun dalam bentuk ekstrem, ini bisa berubah menjadi:

Sulit menikmati hidup saat ini
Merasa bersalah ketika membeli sesuatu untuk diri sendiri
Selalu menunda kebahagiaan “sampai nanti”

Dalam psikologi, ini adalah adaptasi terhadap lingkungan masa kecil yang serba terbatas.

4. Overthinking dalam pengeluaran kecil

Orang dengan latar belakang kekurangan sering memiliki proses mental panjang bahkan untuk keputusan kecil, seperti membeli makanan atau barang sederhana.

Hal ini bukan sekadar hemat, tetapi karena otak terbiasa “menghitung risiko” secara berlebihan.

Mereka bisa:

Membandingkan harga berulang kali
Merasa bersalah setelah belanja
Menyesali pengeluaran meski kecil
5. Kesulitan menerima bantuan atau hadiah

Beberapa orang yang tumbuh tanpa uang merasa tidak nyaman menerima bantuan, karena:

Tidak terbiasa mendapatkan “tanpa harus bekerja keras”
Merasa berutang secara emosional
Takut dianggap lemah atau bergantung

Dalam psikologi sosial, ini berkaitan dengan self-reliance schema—keyakinan bahwa seseorang harus selalu mandiri untuk bertahan.

6. Dorongan kuat untuk “mengamankan masa depan”

Pengalaman kekurangan sering menciptakan dorongan bawah sadar untuk memastikan masa depan tidak pernah kembali seperti masa lalu.

Ini bisa muncul sebagai:

Obsesi menabung berlebihan
Ketakutan mengambil risiko finansial
Sulit menikmati uang meski sudah cukup

Dalam bentuk sehat, ini menjadi perencanaan keuangan yang baik. Dalam bentuk ekstrem, bisa berubah menjadi kecemasan kronis terhadap masa depan.

7. Sensitivitas terhadap status sosial dan uang orang lain

Orang yang pernah hidup dalam keterbatasan kadang menjadi lebih peka terhadap perbedaan ekonomi.

Ini bisa muncul sebagai:

Membandingkan diri dengan orang lain
Merasa “tertinggal” secara sosial
Atau sebaliknya, sangat anti terhadap kemewahan

Dalam psikologi, ini sering terkait dengan social comparison theory, yaitu kecenderungan manusia menilai diri berdasarkan posisi orang lain.

Kesimpulan

Tumbuh tanpa uang cukup tidak menentukan masa depan seseorang, tetapi bisa membentuk pola bawah sadar tertentu yang terbawa hingga dewasa. Pola ini bukan “cacat”, melainkan bentuk adaptasi otak terhadap lingkungan masa kecil.

Yang penting adalah kesadaran. Ketika seseorang menyadari pola ini, ia bisa:

Mengurangi kecemasan finansial yang tidak perlu
Belajar menikmati hidup tanpa rasa bersalah
Mengelola uang dengan lebih seimbang, bukan hanya berdasarkan ketakutan masa lalu

Pada akhirnya, pengalaman masa kecil mungkin membentuk awal cerita, tetapi bukan akhir dari bagaimana seseorang hidup dan mengambil keputusan.

EDITOR: Hanny Suwindari