← Beranda
12 Pelajaran Hidup Penting yang Kerap Lupa Diajarkan Ayah kepada Anak Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSabtu, 6 Juni 2026 | 19.41 WIB
Pelajaran hidup penting yang kerap lupa diajarkan ayah kepada anak menurut psikologi (Magnific/Jcomp)

JawaPos.com – Peran ayah dalam membentuk karakter dan kesiapan hidup anak secara psikologi sangat besar dan tidak bisa digantikan oleh sekolah atau internet semata.

Pelajaran hidup yang paling berdampak hampir selalu datang dari rumah, khususnya dari cara seorang ayah menghadapi stres, konflik, dan hubungan dengan orang lain.

Banyak ayah muda yang berusaha keras hadir untuk anaknya, namun tanpa sadar melewatkan pelajaran-pelajaran mendasar yang akan sangat dibutuhkan anak di masa depan.

Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (6/6), berikut 12 pelajaran hidup yang terlalu sering terlupakan oleh para ayah namun sangat penting untuk membentuk anak menjadi orang dewasa yang percaya diri dan berkapasitas.

Baca Juga: 7 Tanda Anda Adalah Orang Tua yang Lebih Baik dari yang Anda Kira, Meskipun Terkadang Anda Meragukan Diri Sendiri Menurut Psikologi

1. Mengatur emosi adalah kebutuhan, bukan pilihan

Para ahli dari Child Mind Institute menegaskan bahwa regulasi emosi adalah keterampilan yang perlu dilatih berulang kali agar benar-benar dikuasai.

Ketika ayah menekan emosinya atau meledak saat konflik, anak secara tidak sadar menyerap mekanisme koping yang berbahaya untuk dibawa ke kehidupan dewasanya.

2. Kemampuan bercerita adalah keterampilan yang berharga

Menurut pakar Harvard Business, storytelling bukan hanya alat komunikasi interpersonal, tetapi juga kekuatan nyata dalam kepemimpinan dan pengaruh profesional.

Laporan dari Common Sense Media menunjukkan bahwa banyak kesulitan pemahaman membaca anak saat ini berakar dari kurangnya kegiatan membaca dan bercerita di rumah.

3. Etiket memberi tip adalah bagian dari menghormati orang lain

Cara berinteraksi dengan pekerja layanan dan memberi tip yang layak mencerminkan rasa hormat yang akan membentuk pola hubungan sosial anak di masa depan.

Momen makan di restoran bersama anak adalah kesempatan nyata untuk mengajarkan prinsip-prinsip dasar rasa hormat secara langsung dalam praktik kehidupan.

4. Mengganti ban bisa menjaga keselamatan di jalan

Studi Michelin North America menemukan bahwa hampir 53 persen remaja usia 15 hingga 17 tahun tidak tahu cara mengganti ban kendaraan mereka sendiri.

Mengajarkan keterampilan praktis ini bukan hanya soal keamanan, tetapi juga cara membangun kemandirian dan kemampuan memecahkan masalah pada anak sejak dini.

5. Waktu di alam bebas memiliki manfaat nyata untuk kesehatan mental

Studi dalam Scientific Reports menemukan bahwa orang yang menghabiskan setidaknya dua jam di luar ruangan per minggu lebih banyak melaporkan kondisi kesehatan yang lebih baik.

Alih-alih membiarkan anak larut dalam layar teknologi, ayah bisa mengajak anak beraktivitas di luar sebagai cara merawat kesehatan fisik dan emosional mereka.

6. Berbicara di depan umum menjadi lebih mudah dengan latihan

Riset dalam Journal of Further and Higher Education menunjukkan bahwa ketakutan berbicara di depan umum adalah hambatan yang akan terus muncul dalam kehidupan kerja dan sosial dewasa.

Membantu anak mengenali dan menghadapi rasa cemasnya sejak dini, serta berlatih di lingkungan kecil yang aman, membangun kepercayaan diri jangka panjang yang sangat berharga.

7. Kemampuan membuat lelucon membantu membangun koneksi

Humor yang digunakan dengan tepat adalah keterampilan sosial yang efektif untuk membangun koneksi romantis, kepemimpinan di tempat kerja, dan meredakan konflik.

Ketika anak tidak diajarkan cara menggunakan humor secara sehat, mereka akan kesulitan meredakan ketegangan dan terhubung dengan orang lain secara tulus.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Orang Tua Sabar saat Menghadapi Anak Rewel Menurut Psikologi

8. Integritas dan kerja keras adalah satu paket

Banyak anak kehilangan pengalaman langsung yang bisa mengajarkan mereka tentang arti integritas dan nilai dari usaha yang sungguh-sungguh tanpa jalan pintas.

Menjadi panutan moral yang berani menyuarakan kebenaran dan bertindak jujur adalah cara paling efektif seorang ayah mengajarkan integritas kepada anaknya.

9. Waktu sendirian itu sehat jika seimbang

Psikiater Steven Gans menjelaskan bahwa waktu sendirian sangat berharga untuk melindungi kesehatan mental dan memberi ruang bagi seseorang untuk mengatur emosinya.

Ketika ayah menjadi teladan dengan memprioritaskan waktunya sendiri secara sehat, anak belajar bahwa kesendirian adalah kebutuhan, bukan tanda kegagalan sosial.

10. Merawat diri sendiri bukan tanda kelemahan

Pakar kesejahteraan holistik Jeff Siegel mencatat bahwa banyak pria diajarkan untuk mengabaikan diri mereka sendiri demi memenuhi ekspektasi maskulinitas yang tidak sehat.

Bahkan praktik sederhana seperti pernapasan sadar atau journaling bisa memberi dampak besar bagi ayah, pasangan, dan anak-anak di sekitarnya.

11. Cara memperlakukan pasangan diajarkan dari rumah

Studi dari Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa anak menyerap standar hubungan, keterampilan komunikasi, dan rasa harga diri dari interaksi keluarga sejak dini.

Menunjukkan rasa terima kasih, hadir untuk hal-hal kecil, dan menjaga komunikasi yang sehat dalam hubungan adalah pelajaran yang membentuk cara anak menjalin hubungannya sendiri kelak.

12. Kesalahan tidak menjadikanmu lemah

Cara paling nyata seorang ayah gagal adalah ketika ia mengajarkan anak bahwa melakukan kesalahan adalah sesuatu yang memalukan dan harus ditutupi.

Menjadi teladan yang mau mencoba hal baru, keluar dari zona nyaman, dan mengakui kesalahan dengan lapang dada mengajarkan anak bahwa pertumbuhan selalu dimulai dari keberanian untuk gagal.

Baca Juga: 7 Etika Sehari-hari yang Harus Diajarkan Orang Tua kepada Anak Sedini Mungkin, Selain Ucapan Terima Kasih, Tolong, dan Maaf

 

EDITOR: Candra Mega Sari