← Beranda
7 Kebiasaan Orang Tua Sabar saat Menghadapi Anak Rewel Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalKamis, 4 Juni 2026 | 20.39 WIB
Kebiasaan orang tua sabar saat menghadapi anak rewel menurut psikologi (Magnific/Freepik)

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa kesabaran dan empati adalah dua kualitas mendasar yang secara mendalam memengaruhi cara orang tua berinteraksi dengan anak mereka.

Kebiasaan orang tua yang sabar dalam menghadapi anak rewel bukan sesuatu yang muncul begitu saja, melainkan hasil dari latihan dan kesadaran yang terus dibangun.

Mengembangkan pola asuh yang penuh empati mungkin terasa berat di tengah tuntutan kehidupan modern, namun dampaknya pada tumbuh kembang anak sangat luar biasa.

Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (4/6), berikut tujuh kebiasaan yang secara konsisten dipraktikkan oleh orang tua dengan kesabaran luar biasa saat semua orang di rumah sedang rewel dan lelah.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Orang Tua Ini Bakal Mengubah Anaknya Menjadi Sosok Manja, Awas Jangan Sampai Salah Asuh

1. Berusaha memutus siklus pengasuhan yang tidak sehat

Keyakinan bahwa anak harus dihukum saat membuat kesalahan sering kali berakar dari cara seseorang sendiri diperlakukan saat kecil dulu.

Memahami latar belakang pengasuhan yang pernah dialami adalah langkah kuat pertama untuk mulai mengevaluasi pendekatan yang selama ini dianggap normal.

Menantang narasi bahwa disiplin keras adalah satu-satunya cara dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih penuh kasih adalah pilihan yang sangat bisa dilakukan.

2. Secara aktif mempelajari cara pengasuhan yang lebih baik

Frustrasi dan ketidaksabaran terhadap anak sering kali lahir dari tidak tahu cara yang lebih baik selain cara yang sudah dikenal sejak kecil.

Metode-metode pengasuhan yang familiar dari masa kecil tidak selalu yang paling efektif, dan mencari tahu pendekatan alternatif adalah langkah yang sangat penting.

Mempelajari strategi disiplin yang baru dan konstruktif memberdayakan orang tua untuk membuat pilihan yang lebih baik dalam setiap interaksi dengan anak mereka.

3. Memperhatikan upaya koneksi yang dilakukan anak

Anak-anak selalu mencoba terhubung dengan orang dewasa melalui berbagi cerita dan bermain, dan seberapa sering upaya itu ditolak sering tidak disadari.

Mengenali dan merespons upaya koneksi ini secara positif memperkuat ikatan kepercayaan antara orang tua dan anak secara signifikan.

Psikolog klinis Dr. Samantha Rodman Whiten menyarankan orang tua untuk secara khusus menyebutkan kualitas unik anak dan mengungkapkan kebahagiaan memiliki anak tersebut.

4. Memandang ulang tantrum dan ledakan emosi anak

Mengubah cara pandang terhadap tantrum sebagai respons stres daripada taktik manipulasi membuka ruang untuk pendekatan yang jauh lebih empatik.

Pergeseran pola pikir ini memungkinkan orang tua untuk merespons emosi yang mendasari perilaku tersebut daripada sekadar bereaksi terhadap perilaku itu sendiri.

Menciptakan ruang yang lebih aman bagi ekspresi emosional anak adalah investasi jangka panjang yang membentuk kesehatan mental mereka secara mendalam.

5. Peka terhadap emosi dan ekspresi nonverbal anak

Memperhatikan ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan emosi anak membantu orang tua membangun empati yang lebih dalam dan koneksi yang lebih bermakna.

Orang dewasa sering menjadi tidak peka terhadap sinyal-sinyal nonverbal anak seiring waktu, padahal sinyal-sinyal inilah yang paling jujur mengungkapkan kondisi batin anak.

Dengan merespons sinyal-sinyal tersebut secara lebih penuh perhatian, orang tua bisa memenuhi kebutuhan anak dengan lebih tepat dan lebih efektif.

6. Belajar menemukan dan merayakan momen kesenangan bersama anak

Banyak orang dewasa yang dibesarkan dengan pesan bahwa kegembiraan anak adalah hal yang berlebihan atau merepotkan, dan keyakinan itu perlu dilepaskan.

Merangkul momen-momen penuh kegembiraan tidak hanya memperkaya kehidupan anak, tetapi juga menghadirkan lebih banyak kebahagiaan ke dalam kehidupan orang tua.

Ekspresi kegembiraan adalah bagian penting dari perkembangan emosional dan kognitif anak yang perlu didukung, bukan diredam atau diabaikan.

7. Tertawa dan bermain bersama anak secara tulus

Bagi banyak orang dewasa yang tidak pernah bermain bersama orang tua mereka, konsep ini mungkin terasa asing dan tidak nyaman pada awalnya.

Namun ketika orang tua belajar bermain dan tertawa bersama anak, ikatan yang terbentuk jauh lebih kuat dan lebih otentik dari sebelumnya.

Momen-momen berbagi tawa ini tidak hanya mempererat koneksi dengan anak tetapi juga menghidupkan kembali rasa ingin tahu dan kreativitas dalam diri orang tua sendiri.

Baca Juga: Orang Tua yang Menjaga Hubungan Kuat dengan Anak-Anak Dewasa Biasanya Menghindari 7 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

EDITOR: Candra Mega Sari