← Beranda
Psikologi Parenting: 9 Tanda Kamu Dibesarkan Orang Tua yang Tidak Dewasa Secara Emosional
Mohammad Maulana IqbalSelasa, 2 Juni 2026 | 00.18 WIB
Tanda kamu dibesarkan parenting orang tua yang tidak dewasa secara emosional kata Psikologi (Magnific/ freepik)

JawaPos.com – Psikologi parenting menunjukkan bahwa orang tua yang tidak dewasa secara emosional sering kali tidak menyadari dampak masa kecil yang mereka ciptakan bagi anak-anaknya.

Kematangan emosional orang tua menjadi fondasi penting dalam membentuk rasa aman dan kepercayaan diri seorang anak sejak dini.

Pola asuh yang tidak stabil secara emosional dapat meninggalkan jejak mendalam pada cara seseorang membangun hubungan di masa dewasa.

Dilansir dari laman YourTango pada Senin (1/6), berikut sembilan tanda yang menunjukkan bahwa kamu mungkin dibesarkan oleh orang tua yang tidak dewasa secara emosional.

1. Orang tua sering meluapkan emosi secara berlebihan

Orang tua yang tidak dewasa secara emosional cenderung kewalahan menghadapi perasaan kuat seperti marah, sedih, atau malu.

Alih-alih mengelola emosi tersebut, mereka melampiaskannya kepada orang-orang di sekitar mereka, termasuk anak-anaknya.

Kondisi ini menciptakan lingkungan rumah yang tidak stabil karena ancaman ledakan emosi selalu terasa mengintai kapan saja.

2. Kamu diminta membantu menenangkan emosi orang tua

Orang tua yang tidak dewasa secara emosional sering mengandalkan anak untuk membantu meregulasi perasaan mereka sendiri.

Mereka cenderung menyalahkan orang lain atas emosi yang mereka rasakan dan kesulitan menyelesaikan konflik sehari-hari secara mandiri.

Sebuah studi tahun 2021 mengungkapkan bahwa pola ini menciptakan lingkungan yang tidak stabil dan berdampak buruk pada perkembangan anak.

3. Diam atau komentar menyakitkan digunakan sebagai hukuman

Orang tua yang tidak dewasa secara emosional sering menggunakan diam atau sindiran kecil sebagai alat untuk menghukum anak.

Meski secara fisik hadir di rumah, dukungan emosional yang mereka berikan hampir tidak terasa oleh anak-anak mereka.

Perlakuan semacam ini mendorong anak mencari perhatian dengan cara yang tidak sehat, seperti perilaku menarik perhatian berlebihan.

4. Tingkah laku wajar anak dianggap serangan pribadi

Anak-anak secara alamiah belum matang dan sesekali akan bertindak di luar batas, hal ini adalah sesuatu yang normal.

Namun orang tua yang tidak dewasa secara emosional menafsirkan perilaku wajar anak sebagai bentuk serangan atau penghinaan pribadi.

Studi tahun 2017 menemukan bahwa anak yang diasuh pola seperti ini cenderung mengembangkan gaya kelekatan tidak aman dalam hubungan dewasa mereka.

5. Kasih sayang terasa bersyarat dan bergantung pada prestasi

Orang tua yang tidak dewasa secara emosional kerap menahan pujian dan membuat cinta terasa seperti sesuatu yang harus diraih.

Studi tahun 2012 dalam Journal of Adolescence menemukan bahwa anak yang merasakan kasih sayang bersyarat lebih rentan terhadap rasa malu saat gagal.

Kondisi ini mendorong anak tumbuh dengan kebutuhan kuat akan validasi eksternal dan kesulitan menerima diri sendiri apa adanya.

6. Kemarahan menjadi respons utama menggantikan empati

Orang tua yang tidak dewasa secara emosional cenderung merespons situasi sulit dengan kemarahan alih-alih empati yang tulus.

Mereka menghindari kerentanan dan cenderung menjadi reaktif saat menghadapi konflik atau saat kebutuhan mereka tidak terpenuhi.

Studi tahun 2019 menunjukkan bahwa anak-anak dalam pola asuh seperti ini berisiko mengalami masalah regulasi emosi dan kelekatan tidak aman di masa dewasa.

7. Kamu merasa bertanggung jawab menjaga kedamaian di rumah

Ketika orang tua tidak mampu menangani konflik secara sehat, anak-anak belajar mengambil peran sebagai penjaga suasana di rumah.

Fenomena ini disebut parentifikasi, yaitu kondisi di mana anak didorong menjalankan peran emosional orang dewasa sebelum waktunya.

Studi tahun 2023 dalam Adversity and Resilience Science menjelaskan bahwa kondisi ini membuat anak tumbuh menjadi orang yang sangat menghindari konflik.

8. Kamu diajarkan merasa bersalah karena memiliki kebutuhan normal

Orang tua yang tidak dewasa secara emosional sering merespons kebutuhan anak seolah kebutuhan itu menjadi beban yang tidak perlu.

Rasa bersalah yang ditanamkan ini berfungsi sebagai bentuk kendali psikologis yang membuat anak takut kehilangan perhatian orang tua.

Studi tahun 2014 dalam Developmental Psychology menemukan bahwa kontrol psikologis orang tua berkontribusi pada kesulitan penyesuaian diri di masa remaja.

9. Kamu belajar menyembunyikan perasaan agar orang tua tidak marah

Orang tua yang tidak dewasa secara emosional cenderung mengabaikan atau bahkan mempermalukan ekspresi emosi anak mereka.

Studi tahun 2013 dalam Social Development menemukan bahwa orang tua yang kesulitan meregulasi emosi lebih sering menganggap remeh perasaan anak.

Akibatnya anak belajar bahwa menyembunyikan perasaan jauh lebih aman daripada mengungkapkan apa yang sesungguhnya mereka rasakan.

***

 

EDITOR: Novia Tri Astuti