← Beranda
7 Kalimat yang Sebaiknya Tidak Diucapkan ke Anak saat Marah, dan Ini Kalimat Penggantinya
Emilia Nailun NajaSenin, 25 Mei 2026 | 01.16 WIB
Ilustrasi orang tua dan anak. (Pexels/Annushka Ahuja)

JawaPos.com - Mendidik anak bukan hal sederhana, apalagi saat emosi sedang tidak stabil. Dalam kondisi lelah atau tertekan, orang tua kerap tanpa sadar melontarkan kata-kata yang justru melukai anak. 

Menurut dr. Aisah Dahlan dalam sesi tanya jawab di saluran youtube nya mengatakan bentakan bukan sekadar suara keras. 

Saat anak dimarahi, terjadi loncatan aliran listrik yang terlalu cepat di otak hingga bisa membuat “kabel” atau sel saraf terganggu. Kondisi ini berisiko memengaruhi emosi dan perkembangan anak dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Bidan Rahmi di channel youtube nya mengingatkan bahwa setiap ucapan orang tua akan terekam dalam memori anak dan bisa terbawa hingga dewasa. 

Karena itu, penting bagi orang tua untuk lebih bijak dalam memilih kata, terutama saat sedang marah.

Berikut tujuh kalimat yang sebaiknya dihindari ke anak saat marah, beserta alternatif yang lebih tepat:

1. Membandingkan anak dengan orang lain

Ucapan seperti “kenapa kamu nggak bisa kayak kakakmu?” masih sering dianggap cara memotivasi. Padahal, perbandingan justru membuat anak merasa tidak cukup baik. 

Dalam jangka panjang, hal ini bisa menurunkan rasa percaya diri dan memicu hubungan yang tidak sehat dengan saudara. 

Sebagai gantinya, orang tua dapat menekankan bahwa setiap anak memiliki proses dan kemampuan yang berbeda, lalu mengajak anak mencari solusi tanpa tekanan.

2. Melarang anak mengekspresikan emosi

Tidak sedikit orang tua yang langsung menghentikan tangisan anak dengan kalimat seperti “jangan nangis, gitu aja cengeng”.
 
Cara ini terlihat praktis, tetapi membuat anak tidak terbiasa mengenali emosinya sendiri. Memberi ruang justru lebih membantu. 

Anak bisa dibiarkan menenangkan diri terlebih dahulu, kemudian diajak berbicara agar memahami apa yang dirasakannya.

3. Mengancam saat anak tidak menurut

Ancaman seperti “kalau nggak nurut, ibu tinggal di sini ya” sering digunakan agar anak cepat patuh. Namun, cara ini dapat menimbulkan rasa takut kehilangan dan membuat anak merasa tidak aman. 

Pendekatan yang lebih tepat adalah menggunakan konsekuensi yang logis, misalnya menjelaskan dampak dari keterlambatan tanpa menakut-nakuti.

4. Memberi label negatif pada anak

Memberi cap seperti “nakal” atau “pemalas” terlihat sederhana, tetapi dapat melekat kuat dalam ingatan anak. Label ini berpotensi membentuk cara anak memandang dirinya sendiri. 

Karena itu, yang perlu disorot adalah perilakunya, bukan pribadinya. Orang tua bisa langsung mengarahkan tindakan yang perlu diperbaiki tanpa menyematkan label.

5. Mendikte tanpa penjelasan

Kalimat seperti “nggak usah nanya, pokoknya ikut saja” kerap muncul saat orang tua ingin cepat. Sayangnya, hal ini membuat anak merasa tidak dilibatkan dan kurang dihargai. 

Memberikan penjelasan singkat mengenai alasan di balik aturan dapat membantu anak memahami situasi sekaligus belajar mengambil keputusan.

6. Meremehkan usaha anak

Ucapan “gitu saja masa nggak bisa” sering keluar tanpa disadari. Padahal, kalimat ini dapat membuat anak ragu terhadap kemampuannya sendiri. 

Sebaliknya, orang tua bisa menunjukkan bahwa proses belajar memang tidak selalu mudah, lalu memberi pilihan apakah anak ingin mencoba lagi atau membutuhkan bantuan.

7. Menyalahkan anak atas emosi orang tua

Dalam kondisi emosi, kalimat seperti “ibu marah gara-gara kamu” bisa saja terucap. Dampaknya, anak merasa menjadi penyebab emosi orang dewasa dan memikul rasa bersalah yang tidak semestinya. 

Lebih tepat jika orang tua menyampaikan kondisi diri secara jujur, misalnya sedang lelah atau butuh waktu untuk menenangkan diri, tanpa menyalahkan anak.

EDITOR: Hanny Suwindari