← Beranda
Awalnya Takut Kehilangan, 5 Cara Orang Tua Menghadapi 'Empty Nest' agar Tetap Bahagia Saat Anak-Anak Meninggalkan Rumah
Zulfa Putri HardiyatiJumat, 24 April 2026 | 14.05 WIB
Awalnya Takut Kehilangan, Tapi Ternyata Tidak Terasa Sepi, 5 Cara Orang Tua Menghadapi “Empty Nest” agar Tetap Bahagia Saat Anak-Anak Meninggalkan Rumah (shutterstock)

JawaPos.com - Ketika anak-anak mulai tumbuh dewasa dan meninggalkan rumah, banyak orang tua merasa cemas menghadapi fase yang sering disebut sebagai empty nest atau “sarang kosong”.

Perubahan ini bukan hanya soal rumah yang lebih sepi, tetapi juga tentang perubahan peran dan identitas sebagai orang tua.

Wajar jika muncul perasaan campur aduk—mulai dari sedih, kehilangan, hingga kebingungan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Namun, fase ini tidak selalu harus dipenuhi kesedihan. Dengan cara pandang yang tepat, masa ini justru bisa menjadi awal dari babak baru yang lebih bermakna.

Berdasarkan artikel dari YourTango berjudul “Saat Anak-Anakku Meninggalkan Rumah, Kupikir Aku Akan Merasa Kehilangan, Tapi 5 Hal Ini Membuatku Merasa Tidak Sedih Setelah Anak-Anakku Meninggalkan Rumah” oleh Suzy Rosenstein (09 April 2026), berikut beberapa cara yang bisa membantu orang tua menghadapi fase ini dengan lebih positif:

1.      Mengizinkan diri merasakan semua emosi

Tidak perlu memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat atau bahagia. Perasaan sedih, takut, atau kehilangan adalah hal yang wajar.

 Justru dengan menerima emosi tersebut, Anda bisa memprosesnya dengan lebih sehat dan perlahan menemukan keseimbangan baru.

2. Keluar dari “mode otomatis” dalam berpikir

Banyak orang tua tanpa sadar terjebak dalam pikiran negatif seperti “hidupku sekarang kosong” atau “aku kehilangan tujuan”.

Penting untuk menyadari pola pikir ini dan mulai mempertanyakan apakah cara berpikir tersebut benar-benar membantu atau justru memperburuk keadaan.

3. Menentukan bagaimana ingin menjalani fase ini

Fase “sarang kosong” bisa dibentuk sesuai keinginan Anda. Anda bisa mulai mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang kini sudah mandiri, sekaligus menentukan peran baru dalam hidup yang lebih seimbang.

4. Melihat ini sebagai kesempatan untuk diri sendiri

Setelah bertahun-tahun fokus membesarkan anak, kini saatnya memberi ruang untuk diri sendiri. Anda bisa kembali mengejar hobi, tujuan pribadi, atau hal-hal yang dulu sempat tertunda.

5. Memilih untuk tetap mencintai hidup

Kebahagiaan dalam fase ini adalah pilihan. Dengan mengubah cara pandang dan fokus pada hal-hal yang bisa dinikmati, Anda dapat menciptakan pengalaman hidup yang tetap penuh makna meski anak-anak sudah tidak tinggal di rumah.

Pada akhirnya, “sarang kosong” bukanlah akhir dari peran sebagai orang tua, melainkan perubahan bentuk hubungan. Anak tetap menjadi bagian penting dalam hidup, hanya saja dengan cara yang berbeda.

Alih-alih melihatnya sebagai kehilangan, fase ini bisa menjadi momen untuk tumbuh, mengenal diri lebih dalam, dan menikmati kehidupan dari sudut pandang yang baru.

EDITOR: Hanny Suwindari