← Beranda
Orang Tua yang Terlalu Melindungi Bisa Membentuk Anak Lebih Cemas, Ini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Penelitian
Zulfa Putri Hardiyati• Jumat, 24 April 2026 | 13.36 WIB
Tanpa Disadari Orang Tua yang Terlalu Melindungi Bisa Membentuk Anak Lebih Cemas — Ini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Penelitian (CANVA)

JawaPos.com - Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Rasa sayang, kekhawatiran, dan keinginan untuk melindungi sering kali menjadi dasar dalam mengambil keputusan pengasuhan.

 Namun, tidak semua niat baik selalu berujung pada dampak yang positif.

Dalam beberapa kasus, pola asuh yang terlalu protektif justru dapat membentuk anak menjadi lebih cemas.

Hal ini bukan karena orang tua berniat buruk, melainkan karena cara mereka merespons rasa takut dan kekhawatiran tanpa disadari “ditiru” oleh anak.

Berdasarkan artikel dari YourTango berjudul “Gaya Pengasuhan Umum yang Dikaitkan dengan Anak yang Lebih Cemas — Bahkan Ketika Orang Tua Bermaksud Baik, Menurut Penelitian” oleh Nicole Weaver (20 April 2026), ada beberapa penjelasan penting mengenai bagaimana kecemasan bisa terbentuk dari pola asuh.

1.      Anak meniru kecemasan orang tua

Penelitian menunjukkan bahwa anak cenderung lebih mirip dengan orang tuanya dibandingkan faktor genetik semata. Ini karena anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika orang tua sering terlihat khawatir atau takut, anak akan menangkap sinyal tersebut dan menganggapnya sebagai respons yang “normal”.

2. Perilaku orang tua yang terlalu cemas ikut memengaruhi

Anak sangat peka terhadap ekspresi, nada suara, dan bahasa tubuh orang tua. Bahkan tanpa disadari, kekhawatiran kecil yang sering ditunjukkan bisa membentuk pola pikir anak bahwa dunia adalah tempat yang penuh ancaman.

3. Melindungi anak secara berlebihan (helicopter parenting)

Pola asuh yang terlalu melindungi sering kali membuat anak tidak memiliki kesempatan untuk menghadapi tantangan. Akibatnya, mereka tidak belajar bagaimana mengelola rasa takut atau menyelesaikan masalah sendiri.

4. Membatasi pengalaman karena rasa takut

Ketika orang tua melarang anak mencoba sesuatu karena khawatir akan risiko, anak justru kehilangan kesempatan untuk belajar. Padahal, pengalaman menghadapi ketakutan secara bertahap sangat penting untuk membangun keberanian.

5. Membiarkan anak menghindari hal yang ditakuti

Alih-alih membantu anak menghadapi ketakutannya, beberapa orang tua justru membiarkan anak terus menghindar. Hal ini membuat rasa takut semakin kuat karena tidak pernah benar-benar dihadapi.

6. Pengaruh pola asuh terhadap perkembangan jangka panjang

Studi jangka panjang menemukan bahwa anak yang dibesarkan dengan kontrol berlebihan sejak kecil cenderung mengalami kesulitan dalam mengatur emosi, serta menghadapi tantangan sosial dan akademik di kemudian hari.

7. Kurangnya kesempatan untuk belajar mandiri

Anak yang selalu “dibantu” atau “diselamatkan” tidak akan belajar bahwa mereka sebenarnya mampu menghadapi kesulitan. Ini bisa menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan kecemasan.

Meski terdengar mengkhawatirkan, ada kabar baik dari temuan ini. Orang tua tidak perlu menjadi sempurna untuk membesarkan anak yang sehat secara emosional. Yang terpenting adalah memberi ruang bagi anak untuk mencoba, gagal, dan belajar.

Alih-alih selalu melindungi, orang tua bisa mulai mendampingi. Tunjukkan bahwa rasa takut itu wajar, tetapi juga bisa dihadapi. Ketika anak melihat orang tuanya mampu mengelola kecemasan dengan cara yang sehat, mereka pun akan belajar melakukan hal yang sama.

Pada akhirnya, kunci pengasuhan bukanlah menghilangkan semua risiko, melainkan membantu anak menjadi cukup kuat untuk menghadapinya.

EDITOR: Hanny Suwindari