← Beranda
8 Tanda Diam-Diam bahwa Anda Perlahan-Lahan Menjadi Orang Tua yang Sulit Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Senin, 9 Februari 2026 | 17.10 WIB
seseorang yang perlahan menjadi orang tua yang sulit./Freepik/shurkin_son

JawaPos.com - Tidak ada orang tua yang bercita-cita menjadi “orang tua yang sulit”. Semua orang tua pada dasarnya ingin menjadi sosok yang penuh kasih, pengertian, dan mampu membimbing anak dengan baik.

Namun dalam praktiknya, tekanan hidup, kelelahan mental, trauma masa lalu, dan tuntutan sosial sering kali membuat pola pengasuhan berubah tanpa disadari.

Menurut psikologi, seseorang bisa perlahan-lahan berkembang menjadi orang tua yang “sulit” bukan karena niat buruk, melainkan karena mekanisme pertahanan diri, stres kronis, dan pola pikir yang terbentuk dari pengalaman hidup.

Perubahan ini sering terjadi secara halus, sehingga banyak orang tua tidak menyadarinya sampai hubungan dengan anak mulai terasa renggang.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (6/2), terdapat 8 tanda diam-diam bahwa seseorang perlahan-lahan menjadi orang tua yang sulit menurut sudut pandang psikologi:

1. Lebih Fokus pada Kontrol daripada Koneksi Emosional

Salah satu tanda paling awal adalah ketika orang tua mulai lebih peduli pada kepatuhan anak daripada hubungan emosional dengan anak. Aturan menjadi segalanya, sementara perasaan anak dianggap tidak terlalu penting.

Kalimat seperti:

“Pokoknya ikut kata orang tua.”

“Tidak perlu banyak alasan.”

“Saya orang tua, kamu anak.”

menjadi lebih sering muncul.

Dalam psikologi, ini disebut authoritarian parenting style, di mana kontrol dan kekuasaan lebih dominan daripada empati dan dialog. Anak mungkin patuh, tetapi secara emosional merasa jauh dan tidak aman untuk mengekspresikan diri.

2. Mudah Tersinggung oleh Perilaku Anak yang Sebenarnya Normal

Anak-anak secara alami berisik, bertanya banyak hal, membantah, dan bereksplorasi. Namun tanda menjadi orang tua yang sulit adalah ketika perilaku normal ini dianggap sebagai “gangguan”, “pembangkangan”, atau “tidak sopan”.

Contohnya:

Anak bertanya → dianggap melawan

Anak menangis → dianggap manja

Anak berpendapat → dianggap tidak tahu diri

Secara psikologis, ini sering berkaitan dengan kelelahan emosional (emotional burnout) dan stres yang menumpuk, sehingga toleransi terhadap perilaku anak menjadi sangat rendah.

3. Sering Membandingkan Anak dengan Anak Lain

Kalimat seperti:

“Anak si A lebih nurut.”

“Kenapa kamu tidak bisa seperti dia?”

“Anak orang lain lebih pintar.”

menjadi pola komunikasi yang sering.

Dalam psikologi, perbandingan sosial ini bukan hanya melukai anak, tetapi juga menunjukkan bahwa orang tua mulai melihat anak sebagai “objek pencapaian” bukan sebagai individu yang unik. Ini menciptakan hubungan berbasis prestasi, bukan hubungan berbasis kasih sayang.

4. Sulit Mengakui Kesalahan di Hadapan Anak

Orang tua yang sehat secara psikologis mampu berkata, “Mama/Papa salah.”
Namun tanda menjadi orang tua yang sulit adalah ketika ego lebih besar daripada kebutuhan emosional anak.

Alih-alih meminta maaf, orang tua memilih:

Membenarkan diri

Menyalahkan anak

Menghindari topik

Mengubah narasi agar tetap terlihat benar

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan defense mechanism (mekanisme pertahanan ego) seperti denial dan rationalization.

5. Menggunakan Rasa Takut sebagai Alat Mendidik

Ancaman menjadi alat utama disiplin:

“Kalau tidak nurut, mama tinggal.”

“Nanti ayah marah besar.”

“Kamu mau mama sakit gara-gara kamu?”

Ini disebut sebagai fear-based parenting, di mana kepatuhan dibangun dari rasa takut, bukan dari kesadaran dan pemahaman. Anak mungkin terlihat “baik”, tetapi secara psikologis tumbuh dengan kecemasan, rasa bersalah, dan ketakutan akan kehilangan kasih sayang.

6. Merasa Selalu Paling Berkorban

Orang tua mulai sering berkata:

“Mama sudah berkorban segalanya buat kamu.”

“Kamu tidak tahu betapa capeknya mama.”

“Hidup mama hancur demi kamu.”

Secara psikologis, ini menciptakan emotional burden pada anak, membuat anak merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang tua. Ini adalah pola relasi tidak sehat yang bisa membentuk anak menjadi people pleaser atau individu yang sulit menetapkan batasan saat dewasa.

7. Menutup Diri dari Perubahan dan Pembelajaran

Tanda lain adalah ketika orang tua menolak belajar:

Menolak ilmu parenting baru

Merasa cara lama selalu benar

Menganggap psikologi sebagai “teori aneh”

Menolak masukan dari anak

Kalimat seperti:

“Dari dulu juga begini, tetap jadi orang.”

menjadi pembenaran utama. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan fixed mindset — pola pikir kaku yang menolak perkembangan.

8. Hubungan Terasa Lebih Dingin daripada Hangat

Tanda paling nyata adalah perubahan suasana hubungan:

Komunikasi terasa kaku

Anak jarang bercerita

Anak lebih nyaman ke orang lain

Interaksi hanya soal tugas dan kewajiban

Tidak ada lagi kedekatan emosional, hanya struktur, aturan, dan fungsi. Secara psikologis, ini adalah tanda emotional distancing — jarak emosional yang terbentuk perlahan dan sering tidak disadari.

Penutup: Kesadaran adalah Awal Perubahan

Menjadi orang tua yang sulit bukanlah label permanen. Psikologi melihat ini sebagai proses, bukan identitas. Banyak orang tua berubah bukan karena jahat, tetapi karena lelah, terluka, tidak pernah diajari cara mencintai yang sehat, dan tidak pernah dipeluk secara emosional saat mereka kecil.

Kesadaran adalah langkah pertama:

“Apakah saya sedang mendidik anak, atau sedang melampiaskan luka saya sendiri?”

Orang tua yang baik bukan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang mau belajar, refleksi diri, dan memperbaiki diri. Anak tidak butuh orang tua tanpa salah — anak butuh orang tua yang mau bertumbuh.

EDITOR: Hanny Suwindari