← Beranda
Pola Asuh Orang Tua yang Baik Membuat Anak Memiliki 7 Sikap Perhatian dan Sangat Berempati
Akhmad Iqbal FirmansyahSabtu, 13 September 2025 | 08.57 WIB
Ilustrasi orang yang memiliki sikap perhatian dan berempati. (Freepik)

JawaPos.com – Orang yang tumbuh menjadi pribadi yang penuh perhatian dan sangat berempati cenderung memiliki pola asuh yang baik dari orang tuanya.

Mereka mungkin sejak dini diajarkan nilai-nilai atau tindakan yang yang berguna untuk membangun hubungan dan saling menghormati.

Dan seringkali pola asuh yang tepat dari orang tua terlihat ketika seseorang tumbuh dewasa dan menjalin hubungan dengan seseorang.

Dilansir dari geediting.com, ada tujuh sifat yang menonjol ketika seseorang mendapatkan pola asuh yang tepat dari orang tuanya.

Perilaku ini tidak hanya sekedar sopan santun, tapi telah diajarkan menjadi sebuah kebiasaan yang melekat.

Baca Juga: 6 Kebiasaan Sederhana yang Membuat Seseorang Menjadi Lebih Disukai dan Dihargai Dalam Lingkungan Sosial

  1. Menghormati Batasan

Setiap hubungan tentu tetap ada batasannya, dan ini bukan hanya tentang sopan santun dan bersikap baik.

Namun, ini adalah tentang menghargai ruang pribadi yang harus dijaga sebagai batasan, sehingga hubungan yang dibangun lebih harmonis.

Sikap menghargai batasan pribadi orang lain seringkali dimiliki ketika seseorang diasuh oleh orang tua yang baik.

Mereka sejak kecil diajarkan bahwa setiap individu harus memahami bahwa ada batasan yang tidak boleh dilewati.

Dan ketika mereka melanggarnya, itu akan membuat hubungan menjadi tidak nyaman atau merasa diabaikan.

Baca Juga: Hyeri Alami Cedera Serius Hingga Dilarikan ke IGD Saat Persiapan Fan Meeting Tour, Tetap Jalani Tur Dengan Tekad Kuat

Perilaku menghormati batasan tidak hanya tentang fisik, tapi juga tentang batasan emosional dan mental.

Jadi, orang yang mendapatkan pola asuh yang tepat selalu memahami bahwa setiap orang batasan yang harus dijaga dan dihormati.

  1. Menerima Kerentanan

Semua orang pasti diharapkan harus memiliki ketangguhan dan tidak mudah merasa emosional.

Justru membangun hubungan pribadi yang bermakna perlu memahami kerentanan dalam diri sendiri.

Dan seseorang yang mampu menerima kerentanan cenderung tumbuh karena pola asuh yang baik dari orang tuanya.

Mereka tidak keberatan berbagi kerentanan mereka kepada orang lain, dan tidak menganggapnya sebagai kelemahan.

Ini karena orang tua mereka mengajarkan bahwa bersikap terbuka terhadap kerentanan adalah kekuatan sejati dalam diri.

Selain itu, berbagi kerentanan membuat orang lain mudah merasa nyaman dan terlihat lebih mudah didekati.

Oleh karena itu, seseorang yang merasa nyaman untuk terbuka terhadap kerentanan mereka adalah bukti keterbukaan emosional yang tinggi.

  1. Memiliki Kemandirian Emosional

Seseorang yang dibesarkan dengan pola asuh yang baik cenderung memahami tanggung jawab dan kebahagiaannya sendiri.

Ini karena sejak kecil mereka diajarkan untuk memiliki kemandirian atas kesejahteraan emosional mereka sendiri, sehingga mereka dapat menentukan apa yang benar-benar penting.

Selain itu, mereka adalah orang yang tidak menggantungkan kebahagiaan dan tanggung jawab mereka kepada orang lain.

Namun, bukan berarti mereka selalu berusaha menjadi sempurna dan tidak membutuhkan bantuan orang lain di sekitarnya.

mereka lebih memahami bahwa kesejahteraan sejati datang dari diri mereka sendiri dan bagaimana usaha mereka mencapainya.

Oleh karena itu, pola asuh orang yang baik membuat seseorang lebih mandiri dan memahami hal yang harus mereka usahakan sendiri.

  1. Tulus Dalam Berinteraksi

Seseorang yang memahami pentingnya komunikasi terbuka dalam hubungan adalah orang yang telah mendapatkan pola asuh yang baik dari orang tuanya.

Mereka mungkin sejak kecil selalu diajarkan menghargai komunikasi terbuka, dengan memberikan mereka perasaan didengar dan dihargai.

Pola asuh seperti ini membuat seseorang lebih mudah terbuka terhadap perasaannya ketika membangun hubungan dengan seseorang.

Melalui ajaran ini sejak dini, mereka memahami bahwa komunikasi terbuka bukan hanya tentang berbicara, tapi juga tentang mendengarkan dan memahami.

Jadi, ketika seseorang memiliki keterampilan dalam mambangun komunikasi terbuka, mereka mungkin belajar dari pola asuh orang tuanya.

  1. Menunjukkan Empati

Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan dan pengalaman orang lain lebih mendalam seperti milik diri sendiri.

Dan orang yang mampu menunjukkan empati ketika menjalin hubungan seringkali diajarkan melalui pola asuh orang tuanya.

Sejak kecil mereka dibesarkan agar mempraktekkan empati kepada semua orang yang ditemui, sehingga mereka dapat lebih terhubung.

Selain itu, pola asuh ini membuat seseorang tumbuh dengan keterampilan untuk memposisikan diri dan memahami sudut pandang orang lain.

Empati juga tidak hanya tentang memahami orang lain, tapi juga tentang menghargai dan tidak menghakimi perasaan orang lain.

Jadi, kemampuan berempati seseorang seringkali diajarkan ketika mereka sejak usia dini oleh pola asuh orang tuanya.

  1. Memiliki Kesabaran

Sikap sabar seseorang tidak datang secara alami dari diri mereka, tapi diajarkan dari pola asuh yang diterapkan  oleh orang tuanya sejak dini.

Mereka seringkali diajarkan pentingnya bersabar dalam menunggu dan memahami orang lain, sehingga mereka dapat mengontrol emosinya sendiri.

Selain itu, orang yang sabar cenderung memahami bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan mereka, dan itu adalah hal yang wajar.

Alih-alih mereka menghakimi dan menyerah karena keadaan, mereka cenderung lebih mudah memahami dan beradaptasi dengan keadaan.

Kesabaran ini juga membuat mereka tidak mudah terburu-buru dalam membuat keputusan, sehingga mereka dapat lebih cermat untuk bertindak.

Jadi, sikap sabar seseorang adalah tanda bahwa mereka sejak kecil mendapatkan pola asuh yang baik dan bertanggung jawab dari orang tuanya.

  1. Mampu Mengakui Kesalahan

Mengakui kesalahan diri sendiri tidak semudah yang dibayangkan, karena naluri seseorang cenderung ingin melindungi diri sendiri.

Namun, orang yang mendapatkan pola asuh yang baik dari orang tuanya cenderung mampu bertanggung jawab dan mengakui kesalahannya sendiri.

Ini karena mereka dibesarkan untuk tidak segan belajar dari kesalahan dan terbuka terhadap setiap masukan dari orang lain untuk tumbuh dan berkembang.

Alih-alih selalu mencari alasan untuk membela diri, mereka cenderung mengerti cara bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri.

Selain itu, mereka dapat mengambil langkah untuk memperbaiki diri, karena sejak kecil mereka diajarkan untuk jujur daripada terus merasa benar.

Jadi, orang yang mampu mengakui kesalahannya secara terbuka adalah tanda bahwa mereka sejak kecil diajarkan tanggung jawab dan jujur.

EDITOR: Hanny Suwindari