JawaPos.com - Fenomena anak-anak bermain Roblox semakin marak. Padahal, game online asal Amerika Serikat ini sebenarnya ditujukan untuk pengguna usia 13 tahun ke atas.
Namun kenyataannya, banyak siswa usia sekolah dasar sudah terbiasa menjelajahi dunia virtual lewat game ini.
Apa yang membuat Roblox begitu digemari? Platform ini bukan hanya sekadar tempat bermain, melainkan juga wadah untuk berkreasi.
Anak bisa membangun dunia sendiri, mendesain karakter (avatar), bahkan membuat game. Tak heran, Roblox dianggap seru sekaligus menantang imajinasi.
Menurut Nur Ainy Fardana, Psikolog Pendidikan dan Perkembangan Anak dari Universitas Airlangga Surabaya, ada sisi positif yang bisa diambil dari Roblox.
“Roblox bisa menjadi media anak untuk berkreasi, belajar teknologi, hingga bersosialisasi dengan pemain dari berbagai negara,” jelasnya.
Manfaat Roblox bagi Anak
Jika digunakan dengan tepat, Roblox bisa melatih berbagai keterampilan, antara lain:
- Kreativitas dan logika: anak belajar membangun dunia permainan serta mencoba pemrograman sederhana.
- Kemampuan berpikir kritis: mereka perlu membuat strategi, mengatur sumber daya, dan mengambil keputusan.
- Kerja sama: mode tim mendorong anak berkomunikasi dan bekerja sama dengan pemain lain.
“Banyak permainan di Roblox yang bisa memicu ide-ide kreatif anak,” tambah Ainy.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meski bermanfaat, dunia digital yang terbuka ini juga penuh risiko. Roblox memungkinkan anak berinteraksi dengan orang asing tanpa batasan yang jelas.
Hal ini bisa membuka celah terjadinya paparan konten tidak pantas, bahasa kasar, bahkan tindakan penipuan atau grooming.
Dari sisi psikologis, anak yang bermain Roblox terlalu lama berpotensi mengalami beberapa hal berikut:
- Kecanduan
- Prestasi sekolah menurun
- Waktu tidur berkurang
- Gangguan emosi karena kompetisi yang ketat di dalam game.
“Roblox adalah dunia terbuka, dan artinya risiko juga terbuka lebar,” tegas Ainy.
Peran Penting Orang Tua
Melarang anak bermain Roblox sama sekali bukanlah solusi. Justru bisa menimbulkan perlawanan atau membuat anak mencari cara lain untuk tetap bermain.
Yang lebih efektif adalah pendampingan. Orang tua sebaiknya melakukan beberapa trik berikut:
- Memanfaatkan fitur keamanan seperti filter konten dan pengaturan privasi,
- Membatasi waktu bermain,
- Ikut bermain bersama anak agar tahu lingkungan game yang dimasuki,
- Menjelaskan alasan di balik aturan yang dibuat.
“Diskusikan dengan anak, dengarkan pendapat mereka, lalu jelaskan risiko yang ada. Dengan begitu, aturan terasa lebih adil,” ujar Ainy.
Alternatif dan Deteksi Kecanduan
Supaya anak tidak sepenuhnya bergantung pada Roblox, orang tua bisa menawarkan alternatif lain, seperti:
- Game edukatif,
- Kegiatan offline (olahraga, menggambar, musik),
- Aktivitas kreatif yang sesuai minat anak
Selain itu, penting mengenali tanda-tanda awal kecanduan game, seperti perubahan mood yang ekstrem, nilai sekolah menurun, pola tidur berantakan, hingga menarik diri dari aktivitas sosial.
Jika kondisi sudah mengganggu rutinitas, orang tua disarankan segera mencari bantuan profesional. Psikolog dapat membantu memberikan strategi dan menyusun aturan bermain yang lebih sehat.
Jadi Role Model Digital
Ainy juga menekankan, orang tua harus menjadi teladan dalam penggunaan gawai. “Kalau ingin anak bijak di dunia digital, orang tua juga harus memberi contoh penggunaan teknologi yang seimbang,” katanya.
Kuncinya adalah keseimbangan. Anak tetap bisa mengeksplorasi minatnya di dunia digital, tapi dengan batasan yang jelas. Dengan cara ini, Roblox dapat menjadi ruang belajar sekaligus hiburan yang aman, tanpa mengorbankan tumbuh kembang anak.