JawaPos.com - Pabrikan otomotif asal Jerman, Mercedes-Benz mendapatkan tekanan cukup berat di tengah persaingan industri otomotif global akibatnya, dua fasilitas produksinya di dalam negeri berpotensi ditutup.
CarsCoops pada Senin (28/9) melaporkan, langkah ini mengikuti jejak rekan satu negaranya yakni Volkswagen yang juga tengah menghadapi tekanan terhadap operasional manufaktur di Jerman.
Kepala Produksi Mercedes-Benz, Michael Schiebe, mengatakan perusahaan masih berupaya mempertahankan seluruh fasilitas produksi di Jerman. Namun, langkah tersebut bergantung pada kemampuan perusahaan meningkatkan efisiensi dan menekan biaya.
“Tujuan jelas perusahaan adalah mempertahankan semua lokasi kami di Jerman,” kata Schiebe saat berbicara dengan pekerja di pabrik Sindelfingen.
Namun, ia memperingatkan bahwa jika upaya tersebut tidak tercapai, Mercedes harus menutup satu pabrik perakitan dan satu fasilitas powertrain di Jerman.
Mercedes, perlu mencapai kesepakatan baru mengenai pengurangan biaya dengan serikat pekerja IG Metall.
Perusahaan juga meminta adanya perubahan kondisi operasional, untuk meningkatkan produktivitas manufaktur di Jerman.
Ancaman tersebut langsung mendapat penolakan dari IG Metall. Serikat pekerja menilai ancaman penutupan pabrik bukan cara untuk menentukan masa depan perusahaan dan menyatakan siap memberikan perlawanan jika pekerja ditekan untuk memberikan konsesi.
Mercedes belum mengungkap fasilitas mana yang berpotensi ditutup. Saat ini, perusahaan mengoperasikan tiga fasilitas perakitan kendaraan dan tujuh pabrik powertrain di Jerman.
Tekanan Mercedes tidak hanya datang dari tingginya biaya produksi di dalam negeri. Kebangkitan produsen China, turut mengubah peta persaingan industri otomotif global.
Merek seperti BYD, Geely, GAC, dan Changan menawarkan kendaraan dengan harga yang dinilai lebih kompetitif dibandingkan banyak merek tradisional Eropa.
Dampaknya terlihat jelas di Tiongkok. Penjualan Mercedes pada kuartal kedua anjlok 30 persen, sementara perusahaan mencatat kerugian sekitar USD 800 juta di pasar tersebut.
Di sisi lain, tarif perdagangan turut memperberat tekanan. Mercedes mencatat kerugian sekitar USD 1,1 miliar, akibat tarif Amerika Serikat sepanjang 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi Mercedes bukan sekadar soal penjualan, tetapi juga kemampuan mempertahankan struktur produksi di tengah perubahan peta persaingan otomotif dunia. (*)