← Beranda
DRMA Siapkan Fast Charging Motor Listrik 2 Menit, Teknologi Tinggal Finalisasi
Nanda Prayoga• Sabtu, 26 September 2026 | 04.28 WIB
Warga mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengsian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Cikokol, Kota Tangerang, Kamis (24/09/2026). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) tengah menyiapkan teknologi fast charging untuk sepeda motor listrik yang memungkinkan pengisian baterai dari 20 hingga 80 persen hanya dalam waktu sekitar dua menit.

Direktur DRMA Darmawan Widjaja mengatakan teknologi tersebut saat ini sudah siap digunakan dan hanya membutuhkan tahap finalisasi sebelum dikembangkan lebih lanjut.

"Teknologi yang kita coba kembangkan adalah dalam 2 menit, 20-80. Saat ini 5 menitan. Tapi yang 2 menit pun sebenarnya sudah siap cuma tinggal finalize saja," kata Darmawan saat ditemui dalam pameran Automechanika Indonesia 2026 di Jakarta, Jumat (25/9).

Menurut Darmawan, pengembangan teknologi pengisian cepat menjadi salah satu bagian dari upaya DRMA mengikuti perkembangan kendaraan listrik.

Yaitu, khususnya segmen roda dua. Ia menilai waktu pengisian menjadi salah satu aspek penting karena pengguna sepeda motor membutuhkan proses yang lebih praktis.

"Karena kalau motor kan nggak sabar juga kalau kita tunggu 15 menit ya. Nah, 2 menit. Maksimum 5 menit lah," ujarnya.

Selain fast charging, DRMA juga mengembangkan sejumlah komponen dan teknologi untuk kendaraan listrik.

Pengembangan tersebut mencakup baterai, BLDC untuk motor listrik roda dua, wiring harness bertegangan tinggi, hingga motor konversi.

Darmawan mengatakan DRMA telah melakukan konversi sepeda motor sejak 2025. Meski pasar motor konversi saat ini belum besar, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun kemampuan dalam memproduksi komponen kendaraan listrik.

"Motor konversi itu memang tidak besar pasarnya saat ini. Tapi itu menjadi cikal bakal kemampuan kita untuk memproduksi parts dari electric vehicle," katanya.

DRMA juga mengembangkan teknologi baterai dengan menggunakan beberapa jenis kimia, termasuk lithium iron phosphate (LFP) dan nickel manganese cobalt (NMC).

Penggunaan teknologi tersebut disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan kendaraan listrik.

"Kalau memang LFP ternyata jauh lebih dominan. Jadi kita harus mendukung yang LFP. Tapi NMC pun kita ada. Karena saat ini sih NMC masih sangat mendukung ya," ujar Darmawan.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra