JawaPos.com - Motor listrik mulai mendapat tempat sebagai pilihan mobilitas area perkotaan. Bukan hanya karena menawarkan penggerak tanpa emisi gas buang saat digunakan, melainkan juga karena produsen semakin memperhatikan jarak tempuh, teknologi konektivitas, hingga ketersediaan layanan purna jual.
Salah satunya terlihat pada Indomobil eMotor Sprinto. Sprinto mampu ditunggangi untuk jarak tempuh hingga 110 kilometer dalam sekali pengisian daya. Selain itu, Sprinto telah dirakit di Indonesia dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 50 persen.
Perkembangan tersebut menjadi bagian dari upaya PT Indomobil Emotor Internasional (IEI) memperkuat kehadirannya di pasar kendaraan listrik roda dua. Sprinto sendiri dikembangkan untuk kebutuhan mobilitas harian di perkotaan dengan menggabungkan performa, teknologi dan kepraktisan.
Bagi konsumen, kemampuan menempuh hingga 110 kilometer menjadi salah satu aspek penting karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pengisian daya dalam aktivitas sehari-hari. Sementara dari sisi industri, perakitan lokal dan capaian TKDN menunjukkan semakin besarnya keterlibatan industri dalam negeri dalam rantai produksi kendaraan listrik.
Dibekali Tiga Mode Berkendara
Indomobil eMotor Sprinto mengusung motor listrik berdaya 3,5 kW. Motor tersebut diklaim menghasilkan torsi instan hingga 195 Nm dan tersedia dalam tiga pilihan mode berkendara, yakni Comfort, Sport, dan Boost.
Pilihan mode tersebut memberikan karakter berkendara yang berbeda sesuai kebutuhan. Pengendara dapat menyesuaikan respons kendaraan, baik ketika mengutamakan kenyamanan untuk penggunaan sehari-hari maupun membutuhkan respons performa yang lebih agresif.
Untuk menunjang kebutuhan perjalanan harian, Sprinto memiliki kemampuan jelajah hingga 110 kilometer dalam satu kali pengisian daya.
Aspek teknologi juga menjadi bagian dari perangkat yang ditawarkan. Skuter listrik ini dilengkapi panel instrumen digital yang terintegrasi dengan Android Auto dan CarPlay. Fitur tersebut memungkinkan pengendara mengakses sejumlah fungsi dari smartphone melalui sistem konektivitas kendaraan.
Kehadiran fitur semacam ini menunjukkan bahwa persaingan motor listrik tidak lagi hanya berkutat pada kapasitas baterai atau tenaga motor. Konektivitas, kemudahan penggunaan dan pengalaman berkendara juga menjadi bagian yang semakin diperhatikan dalam pengembangan kendaraan listrik roda dua.
Industri Lokal Ikut Diperkuat
Tantangan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia tidak berhenti pada menghadirkan model baru. Infrastruktur pendukung, kemampuan industri lokal, ketersediaan suku cadang dan layanan purna jual ikut menentukan apakah kendaraan listrik dapat digunakan secara luas dalam jangka panjang.
Dari sisi produksi, Sprinto dan lini produk Indomobil eMotor lainnya dirakit secara lokal di fasilitas PT National Assemblers di Cakung, Jakarta Timur. Produk tersebut disebut telah memiliki sertifikasi TKDN sebesar 50 persen.
Kandungan lokal menjadi salah satu indikator penting dalam perkembangan industri kendaraan listrik nasional karena menunjukkan adanya keterlibatan manufaktur dalam negeri dalam proses produksi.
Selain produksi, jaringan layanan juga menjadi faktor yang tidak kalah penting bagi konsumen kendaraan listrik. Indomobil eMotor saat ini didukung 155 dealer resmi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Jaringan tersebut mencakup dukungan servis, suku cadang dan layanan purna jual. Bagi calon pengguna motor listrik, keberadaan jaringan layanan menjadi pertimbangan tersendiri karena berkaitan dengan kemudahan perawatan kendaraan setelah pembelian.
CEO PT Indomobil Emotor Internasional Pius Wirawan mengatakan pengembangan kendaraan listrik tidak cukup hanya mengandalkan kehadiran produk. Menurut dia, industri, jaringan layanan, teknologi dan akses masyarakat terhadap kendaraan listrik harus berjalan beriringan.
“Bagi kami, pengembangan kendaraan listrik perlu berjalan sebagai sebuah ekosistem. Karena itu, kami terus memperkuat produk yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas masyarakat, meningkatkan kontribusi industri dalam negeri, serta memperluas jaringan layanan agar kendaraan listrik semakin mudah diterima dan digunakan dalam aktivitas sehari-hari,” ujar Pius.
Pandangan tersebut menempatkan pengembangan motor listrik dalam konteks yang lebih luas. Ketika jumlah kendaraan listrik bertambah, kebutuhan terhadap dukungan industri dan layanan juga ikut meningkat.
Pius sebelumnya juga menyebut transformasi menuju mobilitas yang lebih ramah lingkungan tidak hanya bergantung pada sebuah produk.
“Kami mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang diberikan kepada Indomobil eMotor khususnya Sprinto. Penghargaan yang akhirnya hadir di Sprinto ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan solusi mobilitas yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, sekaligus berkontribusi terhadap perkembangan ekosistem kendaraan listrik yang semakin berkelanjutan,” lanjut Pius.
Meski demikian, semakin banyaknya pilihan motor listrik di pasar membuat konsumen memiliki lebih banyak pertimbangan sebelum beralih dari kendaraan bermesin bensin. Jarak tempuh, waktu dan akses pengisian daya, performa, harga, ketersediaan suku cadang serta jaringan servis menjadi sejumlah faktor yang saling berkaitan.
Karena itu, keberhasilan adopsi motor listrik tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih sebuah model. Kemudahan penggunaan dalam kehidupan sehari-hari menjadi faktor penting agar kendaraan listrik benar-benar menjadi alternatif transportasi, khususnya bagi masyarakat perkotaan.
Dalam konteks tersebut, Sprinto menjadi salah satu contoh produk yang menggabungkan aspek performa, jarak tempuh, konektivitas, produksi lokal dan jaringan layanan dalam satu paket kendaraan listrik roda dua.