← Beranda
Bukan Cuma Mobil Listrik, Hybrid dan PHEV Mulai Geser LCGC
Dony Lesmana Eko PutraJumat, 11 September 2026 | 22.02 WIB
Mobil hybrid Toyota Yaris Cross varian GR. (Dony/JawPos.com)

JawaPos.com - Peralihan konsumen Indonesia ke kendaraan elektrifikasi kini tak hanya mengancam dominasi mobil konvensional, tetapi juga mulai menekan segmen LCGC.

Di tengah harga mobil listrik yang semakin terjangkau, teknologi hybrid dan PHEV muncul sebagai jalan tengah karena menawarkan efisiensi di dalam kota sekaligus fleksibilitas untuk perjalanan jarak jauh.

Mobil hybrid dan PHEV juga mulai mendapat perhatian karena menawarkan kombinasi efisiensi dan fleksibilitas penggunaan.

Untuk penggunaan di perkotaan, sistem hybrid dapat mengurangi konsumsi bahan bakar ketika kendaraan beroperasi dalam kondisi stop and go.

Sementara PHEV menawarkan opsi penggunaan tenaga listrik untuk perjalanan tertentu sebelum mesin pembakaran internal mengambil alih.

Menurut Kukuh Kumara Sekertaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) kepada JawaPos.com mengungkapkan bahwa teknologi tersebut juga dianggap menarik untuk konsumen yang masih membutuhkan kendaraan dengan kemampuan perjalanan jarak jauh, tetapi ingin menekan konsumsi bahan bakar dan emisi.

"Hybrid, plug-in hybrid, teknologi-teknologi baru itu punya kontribusi langsung untuk penurunan emisi sekaligus penghematan penggunaan bahan bakar fosil," ujar Kukuh Kumara ketika ditemuai saat pameran GIIAS Bandung (10/9).

Kukuh menambahkan, keunggulan lainnya, kendaraan hybrid dan PHEV tidak sepenuhnya bergantung pada ketersediaan infrastruktur SPKLU seperti mobil listrik murni.

LCGC Perlu Beradaptasi

Meningkatnya adopsi kendaraan elektrifikasi sekaligus menjadi tantangan bagi segmen LCGC yang selama lebih dari satu dekade menjadi salah satu pilihan utama konsumen Indonesia.

LCGC mulai diperkenalkan di Indonesia sejak 2013. Setelah lebih dari 10 tahun, perkembangan teknologi kendaraan membuat segmen tersebut dinilai perlu mendapatkan evaluasi, terutama terkait arah teknologi dan kebijakan pemerintah.

"LCGC sudah lebih dari 10 tahun, dari tahun 2013. Saatnya teknologi ini berkembang terus," ujarnya.

Kata Kukuh, masa depan LCGC tidak harus ditentukan melalui pemberian subsidi baru. Persaingan teknologi justru perlu menjadi pertimbangan utama.

"Masalahnya sekarang ada alternatif yang tanpa subsidi harganya murah. Ini kompetisi teknologi," katanya.

Dengan demikian, salah satu kemungkinan yang dapat dipertimbangkan adalah pengembangan teknologi LCGC agar tetap kompetitif, termasuk kemungkinan penggunaan teknologi hybrid.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra