← Beranda
Tiongkok Mampu Rilis 3 EV Baru per Hari, CATL Ingatkan Kegagalan Baterai Massal
AntaraSelasa, 8 September 2026 | 02.27 WIB
Ilustrasi baterai mobil listrik di dalam salah satu pusat perbaikan Ning Service. (Car News China)

 

 

JawaPos.com - Jadwal pengembangan kendaraan listrik (EV) yang semakin singkat dan persaingan harga di Tiongkok berkontribusi terhadap masalah kualitas baterai di pasar domestik, seperti yang diperingatkan Chairman Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL) Robin Zeng.

Dalam pidato utamanya pada 2026 World Power Battery Conference di Yibin, Provinsi Sichuan, dikutip laman Carnewschina, Zeng mengatakan lebih dari 600 model kendaraan baru telah diluncurkan di Tiongkok sepanjang 2026. Angka tersebut setara dengan sekitar tiga peluncuran kendaraan baru setiap hari.

Zeng mengatakan pemangkasan waktu pengujian dan validasi untuk mengejar kecepatan tersebut telah berkontribusi terhadap sejumlah produk baterai kendaraan listrik yang mengalami kegagalan secara massal pada tingkat produksi atau batch. Zeng tidak menyebutkan merek kendaraan maupun pemasok baterai yang terdampak.

Peringatan tersebut muncul di tengah tekanan harga yang masih berlangsung di pasar kendaraan listrik Tiongkok.

Data industri yang dikutip dalam pemberitaan terbaru menunjukkan penurunan harga transaksi sejumlah kendaraan listrik Tiongkok di segmen pasar massal pada paruh pertama 2026. Sementara itu, harga sel baterai lithium iron phosphate (LFP) dilaporkan berada di bawah 0,35 yuan/Wh (sekitar Rp 920).

Tren tersebut memberikan gambaran mengenai tekanan biaya yang dihadapi produsen kendaraan dan pemasok, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan adanya hubungan sebab-akibat dengan kegagalan baterai.

China sebelumnya juga telah mengalami sejumlah kasus kualitas baterai yang melibatkan produsen kendaraan dan pemasok baterai.

Pada Desember 2025, anak usaha Geely, Viridi E-Mobility Technology, menggugat produsen baterai Sunwoda. Viridi mengklaim adanya cacat kualitas pada sel baterai yang dipasok antara Juni 2021 hingga Desember 2023 dan meminta ganti rugi sebesar 2,31 miliar yuan (Rp 6 triliun).

Perselisihan tersebut kemudian diselesaikan. Sunwoda sepakat membayar 608 juta yuan (Rp 1,5 triliun), setelah memperhitungkan sejumlah pembayaran yang sebelumnya telah ditanggung.

Dalam kasus lainnya, pemberitaan pada Juli menyebut masalah baterai yang melibatkan sel buatan CALB berdampak pada sekitar 213.000 kendaraan GAC Aion. Keluhan yang muncul mencakup baterai menggembung, kehilangan daya, dan kegagalan lainnya.

Kasus tersebut kemudian dikenal sebagai kontroversi “banana battery” karena beberapa sel yang terdampak dilaporkan mengalami perubahan bentuk menjadi melengkung. CALB selanjutnya mengumumkan reformasi terkait kualitas dan langkah-langkah pemeriksaan.

Zeng berpendapat bahwa toleransi cacat berdasarkan ukuran parts per million (PPM) yang umum digunakan saat ini tidak cukup untuk produksi baterai kendaraan listrik dalam volume besar.

Baterai traksi terdiri atas sel-sel baterai yang terhubung dalam konfigurasi seri dan paralel. Dalam konsep yang disebut barrel effect atau efek laras, jangkauan operasi, perilaku pengisian daya, dan kestabilan termal sebuah paket baterai yang terhubung secara seri dapat dibatasi oleh sel dengan kapasitas paling rendah atau impedansi paling tinggi.

Dengan tingkat cacat 1 PPM, setiap satu miliar sel yang diproduksi dapat memasukkan hingga 1.000 sel cacat ke dalam proses produksi. Sebaliknya, CATL mengatakan bahwa perusahaan menetapkan target produksi sel tunggal dengan tingkat cacat tidak lebih dari satu sel per satu miliar sel (1 PPB), atau target tingkat cacat 1.000 kali lebih rendah.

Angka 1 PPB tersebut merupakan target internal untuk rekayasa dan pengendalian produksi, bukan tingkat kegagalan kendaraan yang telah diaudit secara independen.

Prinsip yang lebih luas adalah bahwa kualitas sel baterai bergantung pada pengendalian berbagai variabel dalam proses produksi yang dapat menimbulkan cacat tersembunyi.

CATL mengatakan perusahaan menggunakan pemeriksaan otomatis dan pengendalian proses untuk mengidentifikasi cacat selama produksi sel.

 

Skala Produksi dan Batas Pengujian

Peringatan tersebut disampaikan ketika produsen baterai Tiongkok menyumbang lebih dari 70 persen volume pemasangan baterai kendaraan listrik secara global. SNE Research mencatat pemasangan baterai secara global mencapai 608 GWh pada paruh pertama 2026, dengan pemasok asal Tiongkok menempati tujuh dari 10 posisi teratas.

Pada skala produksi sebesar itu, tingkat cacat yang kecil sekalipun dapat berarti jumlah sel cacat yang secara absolut cukup besar masuk ke proses produksi dan berpotensi masuk ke armada kendaraan.

Baca Juga: BYD Bidik TKDN 60 Persen Mulai 2027, Perakitan Baterai Disiapkan di Indonesia

Namun, sel cacat dalam proses produksi tidak selalu berujung pada kegagalan di lapangan, karena pemeriksaan tambahan, sistem manajemen baterai, dan pengendalian pada tingkat paket baterai dapat mencegah atau mengurangi dampak dari sejumlah jenis kegagalan. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan