← Beranda
Bisnis Kendaraan Listrik TBS Melaju, Pendapatan Electrum Naik 184 Persen
Dinarsa KurniawanSabtu, 29 Agustus 2026 | 06.27 WIB
Aktivitas tim TBS Energi Utama dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik yang mencatat pertumbuhan pendapatan Electrum sebesar 184 persen pada semester I 2026. (Istimewa)

 


JawaPos.com - Perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia terus membuka peluang bisnis baru, seiring meningkatnya penggunaan motor listrik dan kebutuhan infrastruktur pendukungnya.

Pertumbuhan tersebut turut tercermin dalam kinerja bisnis perusahaan yang mulai menggeser portofolio ke sektor infrastruktur berkelanjutan.

PT TBS Energi Utama Tbk mencatat pendapatan bisnis kendaraan listrik melalui Electrum mencapai USD 9,1 juta pada semester I 2026. Angka tersebut melonjak 184 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Direktur dan Chief Financial Officer TBS Juli Oktarina mengatakan pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan bisnis non-batu bara perseroan. "Bisnis non-batu bara kami dua kali lipat lebih besar," kata Juli.

Pada segmen kendaraan listrik, kinerja Electrum juga menunjukkan perbaikan profitabilitas. Laba kotor berbalik positif menjadi USD 0,4 juta, dari sebelumnya mencatat rugi USD 0,5 juta pada semester I 2025. "Bisnis inilah yang menghasilkan kas," ujar Juli.

Dari sisi operasional, ekosistem Electrum hingga semester I 2026 telah mencakup hampir 14.000 unit motor listrik dan sekitar 550 unit Battery Swapping Station (BSS). Aktivitas penukaran baterai juga telah mencapai lebih dari 1,7 juta kali per bulan.

Ekosistem tersebut turut didukung lebih dari 2.500 unit kendaraan dalam skema rent-to-own. Total jarak tempuh kendaraan dalam ekosistem Electrum telah melampaui 135 juta kilometer.

Juli mengatakan perkembangan bisnis kendaraan listrik berjalan seiring dengan agenda transformasi portofolio perseroan. "Inilah transisi yang kami janjikan," katanya.

Secara keseluruhan, bisnis non-batu bara menyumbang 66,5 persen terhadap pendapatan konsolidasi TBS pada semester I 2026. Kontribusi tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan bisnis batu bara yang berada di level 31,4 persen.

Kinerja konsolidasi juga menunjukkan perbaikan. Pendapatan tercatat relatif stabil sebesar USD 173 juta, sementara laba kotor meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi USD 28,2 juta dari USD 13,9 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Arus kas operasi turut berbalik positif menjadi USD 14,6 juta, dari sebelumnya negatif USD 31,6 juta. EBITDA konsolidasi meningkat 23,7 persen secara tahunan.
"Kami punya likuiditas untuk mendanai rencana pertumbuhan," tutur Juli.

Selain kendaraan listrik, pengelolaan limbah menjadi penyumbang terbesar dalam bisnis non-batu bara. Segmen tersebut membukukan pendapatan USD 105,9 juta atau tumbuh 77,8 persen secara tahunan dan menyumbang 92 persen EBITDA konsolidasi.

Di sektor energi terbarukan, proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 46 MWp ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026. Proyek tersebut diproyeksikan menambah sumber pendapatan dari bisnis di luar batu bara.
"Kami akan terus membangun di atas fondasi yang sudah ada," ungkap Juli. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan