JawaPos.com - Perkembangan kendaraan listrik ikut mengubah kebutuhan energi dan infrastruktur Indonesia.
Pertumbuhan mobil listrik, hilirisasi mineral, pusat data, hingga elektrifikasi rumah tangga diproyeksikan mendorong konsumsi listrik nasional melonjak.
Riset The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks menyebut konsumsi listrik Indonesia berpotensi naik dari sekitar 300 TWh pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060. "Elektrifikasi menjadi salah satu pendorong utama perubahan kebutuhan energi," kata Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin.
Potensi energi terbarukan Indonesia mencapai sekitar 3.687 GW, tetapi pemanfaatannya masih kurang dari 0,5 persen. Pengembangan pembangkit energi bersih, BESS, modernisasi jaringan listrik, hingga infrastruktur kendaraan listrik menjadi peluang investasi yang ikut terbuka.
Di sisi lain, kebutuhan energi bersih juga semakin penting bagi industri digital. Pertumbuhan AI mendorong pusat data menjadi salah satu konsumen listrik baru.
"Momentum pertumbuhan AI membuat pusat data menjadi growth engine baru," kata Chairman Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma.
Nikel dan baterai
Perubahan juga terjadi pada industri pertambangan. Indonesia menguasai sekitar 60 persen produksi nikel dunia, tetapi sekitar 97 persen listrik untuk pemrosesan nikel masih berasal dari captive coal power.
"Produk nikel dengan intensitas karbon lebih rendah berpotensi memiliki diferensiasi nilai," kata Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk Budiawansyah.
Peluang berikutnya mengarah pada komponen baterai, BESS, daur ulang, dan produk logam rendah karbon. Standar global seperti EU CBAM dan Battery Regulation turut mendorong perubahan tersebut.
Riset tersebut melihat kebutuhan pembiayaan juga semakin kompleks. Kesiapan proyek, risiko, arus kas, dan struktur pembiayaan menjadi pertimbangan dalam merealisasikan proyek berkelanjutan.
"Strategi ke depan harus memadukan penciptaan nilai, ketahanan, dan keberlanjutan," ujar Head of Research PT Bank DBS Indonesia William Simadiputra.
Dalam sektor kendaraan listrik, perubahan itu menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar tidak hanya bergantung pada penjualan kendaraan.
Baca Juga: Periklindo Gelar PEVC 2026, Bahas Masa Depan Kendaraan Listrik dan Ekonomi Elektrifikasi
Ketersediaan listrik bersih, baterai, infrastruktur pengisian dan penukaran baterai, serta pembiayaan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem elektrifikasi Indonesia. (*)