← Beranda
Nikel Jadi Modal Indonesia Produksi Baterai, Masih Ada Potensi meski LFP kian Menguat
Nanda PrayogaSelasa, 18 Agustus 2026 | 13.00 WIB
Ilustrasi aktivitas pertambangan nikel di kawasan Pulau Obi, Halmahera Selatan. (ANTARA/Abdul Fatah)

 

 

JawaPos.com - Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik karena memiliki cadangan nikel yang melimpah.

Komoditas tersebut menjadi salah satu bahan utama baterai lithium-ion berbasis nikel seperti Nickel Manganese Cobalt (NMC), yang masih digunakan pada kendaraan listrik dengan kebutuhan densitas energi tinggi.

Namun, perkembangan teknologi baterai global mulai mengubah peta industri. Baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP) yang tidak menggunakan nikel kini semakin banyak digunakan, terutama pada kendaraan listrik produksi Tiongkok.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai masa depan industri nikel Indonesia dan strategi yang perlu disiapkan agar kekayaan sumber daya tersebut dapat menghasilkan nilai tambah lebih besar.

Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa menilai pergeseran menuju LFP tidak serta-merta menjadi ancaman besar bagi industri nikel Indonesia. Menurutnya, penggunaan nikel tidak hanya berkaitan dengan industri baterai kendaraan listrik, tetapi juga kebutuhan industri besi dan baja.

"Ya, yang pertama saya ingin jelaskan bahwa nikel itu tidak hanya untuk baterai kendaraan listrik. Nikel itu kan bisa diproduksi dengan dua kelas; kelas 1 atau kelas 2. Yang kelas 1 itu digunakan untuk baterai, yang kelas 2 itu untuk iron and steel, ya besi baja,” kata Fabby kepada JawaPos.com.

Fabby mengatakan sebagian besar produksi nikel Indonesia saat ini justru masih digunakan untuk kebutuhan besi dan baja. Karena itu, perubahan teknologi baterai tidak secara langsung membuat permintaan terhadap nikel Indonesia hilang.

"Malah kalau kita lihat dari produksi nikel Indonesia saat ini, kira-kira hampir tiga perempat ya, lebih dari tiga perempat nikel kita itu untuk besi dan baja, bukan untuk baterai sebenarnya. Jadi masih yang terbesar itu untuk besi baja. Jadi untuk urusan nikelnya sendiri, menurut saya kita enggak terlalu khawatir gitu ya kalau misalnya untuk baterai,” ungkapnya.

Ilustrasi baterai LFP yang digunakan pada mobil listrik. (Istimewa)
Ilustrasi baterai LFP yang digunakan pada mobil listrik. (Istimewa)

 

LFP Menguat, NMC Tetap Punya Pasar

Meski begitu, Fabby mengakui bahwa LFP kini memiliki posisi kuat dalam pasar kendaraan listrik global. Menurut dia, pangsa LFP sudah mencapai sekitar setengah dari pasar kendaraan listrik dunia dan berpotensi terus meningkat.

"Nah yang kedua, memang benar bahwa baterai LFP itu hari ini menguasai kira-kira 50 persen dari pangsa pasar kendaraan listrik global. Jadi lebih dari 50 persen, dan diperkirakan kalau saya lihat dari proyeksi yang dilakukan oleh beberapa lembaga menilai bahwa nanti pangsa pasar baterai berbasis nikel itu bisa turun di bawah 40 persen,” jelasnya.

Menurutnya, penurunan pangsa pasar baterai berbasis nikel tidak berarti teknologi NMC akan ditinggalkan. Baterai tersebut masih memiliki keunggulan dari sisi kepadatan energi sehingga tetap dibutuhkan untuk kendaraan atau perangkat yang memerlukan daya lebih besar.

"Jadi itu masih dipakai, dan kalau diprediksikan turun pangsa pasarnya jadi 40 persen, pangsa pasarnya turun tapi volumenya masih besar. Artinya kalau dilihat sebenarnya mungkin dalam waktu 10-15 tahun mendatang NMC itu tidak akan hilang, tetap akan dipakai. Hanya pangsanya berkurang,” jelasnya.

Fabby melihat NMC masih berpeluang digunakan untuk kendaraan premium maupun kendaraan komersial yang membutuhkan densitas energi tinggi. Sementara itu, LFP lebih banyak digunakan pada kendaraan listrik yang diproduksi perusahaan asal Tiongkok.

"Nah, terutama karena memang mobil-mobil kendaraan listrik buatan Tiongkok itu lebih preferensinya menggunakan baterai LFP. Sementara mobil-mobil saya kira kalau Eropa gitu ya masih menggunakan NMC. Jadi mungkin NMC enggak akan mati, tapi mungkin baterainya akan mendominasi segmen mobil premium dan komersial yang tadi saya katakan membutuhkan densitas energi tinggi gitu,” jelasnya.

 

Indonesia Perlu Melihat Teknologi Baterai Masa Depan

Meski nikel masih memiliki prospek, Fabby mengingatkan Indonesia tidak boleh hanya terpaku pada pengembangan baterai NMC. Menurutnya, pemerintah dan industri perlu melihat teknologi yang berpotensi berkembang dalam beberapa tahun mendatang.

"Jadi kalau kita ingin mengembangkan teknologi, ambil teknologi yang akan mulai besar di pasar dalam waktu 5 tahun ke depan misalnya. Dan dua teknologi yang saya katakan tadi ada peluang untuk komersialisasinya akan lebih besar di pasar. Nah, saya kira itu yang perlu dipertimbangkan,” jelasnya.

Fabby menyebut solid-state battery dan sodium-ion sebagai dua teknologi yang mulai berkembang dan patut diperhatikan Indonesia. Menurutnya, diversifikasi menjadi penting agar strategi industri baterai nasional tidak tertinggal ketika peta teknologi global berubah.

“Cuma kan begini, kalau kita bicara teknologi baterai untuk kendaraan listrik ya kan harus ada industri kendaraan listriknya yang kuat dulu. Pertanyaannya sekarang yang mau pakai itu siapa? Karena harus terintegrasi kan, baterai itu tidak berdiri sendiri gitu, tapi harus terintegrasi dengan industri kendaraan listrik. Jadi membangun satu rantai pasok gitu,” jelasnya.

Karena itu, pengembangan baterai menurut Fabby tidak cukup hanya membangun fasilitas produksi. Indonesia juga harus memastikan keberadaan industri pengguna sekaligus pasar yang dapat menyerap produk tersebut.

"Jadi kita harus jeli-jeli juga melihat teknologi apa yang harus kita kembangkan dan industri yang harus dibangun di Indonesia. Tapi bahwa kita harus berpikir beyond atau lebih dari sekadar bicara NMC atau membangun industri baterai berbasis NMC, karena menurut saya bahkan sudah agak tertinggal kita itu,” ungkap Fabby.

LFP Bisa Dikembangkan, tetapi Indonesia Tak Punya Lithium

Fabby juga menilai Indonesia tetap dapat mempertimbangkan pembangunan industri LFP. Namun, terdapat persoalan ketersediaan bahan baku karena Indonesia belum memiliki sumber lithium dalam jumlah besar seperti halnya nikel.

"Bahwa LFP harus dibangun, ya saya kira kan kalau hari ini industri kendaraan listrik di Indonesia kan memang didominasi oleh manufaktur asal Tiongkok ya, ada BYD, ada Chery dan lain-lain, mereka pakai baterai LFP. Produsen baterainya CATL itu juga yang memasok banyak perusahaan mobil listrik. Kalau BYD mereka mengembangkan sendiri baterainya,” jelasnya.

Menurut Fabby, persoalan lithium menjadi salah satu tantangan apabila Indonesia ingin mengembangkan industri LFP. Namun, ia melihat masih ada sejumlah kemungkinan sumber lithium yang dapat dikembangkan di dalam negeri.

"Nah, yang harus memang begini, kelemahannya dengan LFP kita kan enggak punya lithiumnya saat ini. Kecuali kalau kita bisa memproduksi lithium misalnya dari brine ya, kalau misalnya ada panas bumi itu ada airnya gitu ya, brine-nya itu, itu kalau diproses bisa menghasilkan lithium. Tapi kan mungkin mahal ya harganya. Tapi ya itu pilihan-pilihan,” jelasnya.

Di sisi lain, Fabby menilai Indonesia dapat memanfaatkan keunggulan nikel dengan mengembangkan ekosistem daur ulang baterai NMC. Menurutnya, baterai NMC Indonesia dapat diarahkan untuk pasar yang memiliki tuntutan regulasi lingkungan lebih ketat, termasuk pasar Eropa.

"Jadi kalau kita mau melihat, kita bisa saja memposisikan baterai NMC kita untuk solusi bagi pasar dengan regulasi lingkungan yang ketat seperti Uni Eropa gitu. Dan kemudian kita membangun industri untuk pengolahannya. Lalu kemudian ya itu tadi, kalau untuk dipakai di dalam negeri saya kira untuk pengembangan heavy-duty vehicles gitu mungkin, atau kendaraan-kendaraan yang membutuhkan densitas tinggi,” tukasnya.

Soroti pengembangan IBC

Besarnya sumber daya nikel juga membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah atau produk antara. Fabby menyoroti rencana pengembangan Indonesia Battery Corporation (IBC) sebagai bagian dari upaya membangun kapasitas produksi sel baterai di dalam negeri.

"Ya kan dengan adanya Indonesia Battery Corporation (IBC) sebenarnya tujuannya untuk membuat sel baterai kalau kita lihat. Hanya kan memang IBC itu kan mundur ya, dari yang tadinya direncanakan 2024 terus sekarang mundur ke 2027 kalau saya enggak salah,” ungkap dia.

Ia menilai tantangan Indonesia saat ini lebih banyak berkaitan dengan kecepatan eksekusi pembangunan industri baterai.

Fabby menilai Indonesia harus memastikan pembangunan industri baterai tidak berhenti pada satu teknologi saja. Dengan perkembangan LFP dan munculnya teknologi baru seperti solid-state serta sodium-ion, strategi industri perlu disusun dengan mempertimbangkan arah pasar dalam jangka panjang.

 

Nikel Indonesia masih Punya Prospek

Pandangan mengenai prospek nikel Indonesia juga disampaikan Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi.

Menurutnya, besarnya pasar kendaraan listrik global membuat baterai berbasis nikel masih memiliki ruang untuk berkembang meski LFP semakin banyak digunakan.

"Nah, saya kira pasar dari konsumen mobil listrik itu kan akan besar sekali kalau seluruh dunia itu. Nah sehingga baterai yang digunakan tidak hanya LFP, tapi juga baterai nikel juga. Saya kira perusahaan di Amerika itu menggunakan dua juga, ada nikel ada LFP tadi gitu ya. Sehingga menurut saya kalau Indonesia memang mau mengembangkan baterai listrik dari nikel saya kira enggak masalah, masih punya prospek yang cukup bagus,” ungkapnya.

Menurut Fahmy, Indonesia memiliki keunggulan karena mempunyai bahan baku nikel sendiri. Karena itu, pengembangan baterai berbasis nikel dinilai masih layak dilanjutkan.

"Nah masalahnya kalau nikel kan kita punya apa bahan bakunya gitu ya. Kalau LFP tadi itu kan kita enggak punya bahan bakunya tadi sehingga barangkali akan mahal dan kurang menarik bagi investor,” jelasnya.

Fahmy juga menilai pergeseran menuju LFP belum menjadi ancaman serius bagi industri nikel Indonesia selama permintaan kendaraan listrik global terus tumbuh. Namun, ia mengingatkan Indonesia perlu meningkatkan efisiensi industri baterai berbasis nikel agar mampu bersaing dengan teknologi LFP.

"Nah saya kira pengembangan baterai listrik dengan menggunakan nikel itu tetap saja dilakukan. Tetapi bagaimana pengembangan tadi dapat lebih efisien dan kalau kemudian harus bersaing dengan harga yang lebih murah atau ada yang lebih menarik sebagai competitive advantage dibanding LFP ya enggak masalah. Jadi yang perlu sekarang dikembangkan adalah bagaimana ekosistem industri baterai listrik dari hulu sampai hilir. Nah masalahnya kan Indonesia belum mengarah ke sana gitu ya, belum terintegrasi,” tukas dia.

 

Hilirisasi Harus sampai Sel Baterai

Fahmy menilai Indonesia tidak seharusnya berhenti sebagai pemasok bahan baku. Menurutnya, hilirisasi nikel perlu diarahkan hingga menghasilkan baterai yang dapat digunakan dalam industri kendaraan listrik.

"Saya kira kalau potensi baterai listrik dari nikel terutama, itu saya kira masih cukup besar baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk diekspor. Pada saatnya kan pengembangan mobil listrik atau kendaraan listrik itu kan cukup pesat dan permintaannya cukup besar tadi. Nah sehingga prospek dari baterai listrik yang dari nikel pun dia akan punya prospek yang cukup bagus,” tukasnya.

Menurutnya, pengembangan tersebut perlu dilakukan dalam satu ekosistem agar nilai tambah yang diperoleh Indonesia semakin besar.

"Sehingga bagaimana pengembangan hilirisasi nikel tadi itu bisa menghasilkan sampai baterai listrik, kemudian baterai listrik akan digunakan sebagai komponen utama mobil listrik tadi, dalam satu ekosistem industrialisasi. Tidak seperti sekarang, industrialisasi nikel itu kan sangat terbatas pada smelterisasi, dan itu hanya menghasilkan produk turunan pertama kedua kemudian diekspor tanpa memberikan nilai tambah yang cukup besar,” jelasnya.

Fahmy pun menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi produsen sel baterai, bukan hanya pemasok bahan baku.

"Saya kira sangat-sangat punya potensi yang cukup besar. Dan sudah ada pabriknya di Indonesia gitu ya yang sudah beroperasi sehingga potensinya cukup besar,” ungkap dia.

Dengan demikian, kekayaan nikel masih menjadi modal penting bagi Indonesia untuk membangun industri baterai. Namun, peluang tersebut tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku.

Baca Juga: Studi PYC: Mayoritas Mobil Listrik di Indonesia Pakai Baterai LFP, Hilirisasi Nikel Perlu Evaluasi

Indonesia perlu memperdalam hilirisasi hingga produksi sel baterai, membangun rantai pasok yang terintegrasi, serta menyesuaikan investasi dengan perkembangan teknologi baterai global. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan