← Beranda
Apindo Buka Suara soal Isu Pabrikan Jepang Hengkang ke Vietnam, Minta Jangan Buru-buru Simpulkan
Nanda PrayogaSenin, 3 Agustus 2026 | 22.42 WIB
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam. (Dok/JawaPos.com)

 

 

JawaPos.com - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) buka suara soal isu pabrikan otomotif Jepang. Perusahaan itu kabarnya akan merelokasi pabrik dari Indonesia ke Vietnam.

Desas-desus menyebutkan, perusahaan tersebut berlokasi di Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur. Mereka hanya memberi inisial J dan S untuk kedua pabrikan itu.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam, menegaskan belum ada keputusan final soal dua pabrikan otomotif itu. Dia mengimbau agar informasi itu diteliti lebih dulu.

"Kita belum dapat laporannya, jadi kita harus lihat dulu. Harus diteliti dulu, jangan digong langsung gitu. Karena itu bisa menyebabkan keresahan dan sebagainya," ungkap Bob di Jakarta, dikutip Senin (3/8).

Bob menegaskan semua pihak harus teliti soal isu hengkang ini. Bisa jadi ini cuma konsolidasi regional atau reposisi produk perusahaan multinasional itu.

Perusahaan yang dimaksud produksi komponen kelistrikan dan melakukan ekspor ke AS. Saat ini, produsen komponen ekspor memang menghadapi tantangan besar.

"Makanya kita harus klarifikasi lagi, apakah bener-bener hengkang, ya kan. Yang saya dengar nggak begitu, gitu loh. Jadi, ya, kita harus teliti lagi, lebih dalam lagi," tambah Bob.

Sebelumnya, Penasihat Khusus Presiden Bidang Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengungkapkan ada potensi PHK di dua perusahaan pemasok komponen otomotif. Ini terkait rencana sebagian produksi dipindah ke Vietnam.

Said tidak menyebutkan nama kedua perusahaan itu. Ia hanya menyebut lokasi di Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur, dengan inisial J dan S.

Presiden KSPI itu menyebut potensi PHK muncul karena prinsipal Jepang mempertimbangkan pindah sebagian produksi ke beberapa negara, termasuk Vietnam. Pergeseran ke kendaraan listrik juga jadi salah satu faktor.

Said memperkirakan sekitar 6.500 pekerja di Jawa Timur dan Jawa Barat bisa kehilangan pekerjaan. Sebagian besar berasal dari industri otomotif.
Menurut dia, sektor manufaktur sedang menghadapi banyak tantangan. Permintaan pasar melemah, biaya produksi naik, nilai tukar rupiah melemah, dan konflik global berdampak pada perdagangan.

Baca Juga: Robotaxi hingga Pabrik Pintar, Inovasi Tiongkok Ubah Cara Dunia Melihat Masa Depan Teknologi

"Perusahaan Indonesia yang berorientasi ekspor seperti sepatu, garmen, karena permintaan barang di luar negeri menurun akibat perang, maka orientasi perusahaan ini pun produksinya menurun," kata Said. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan