JawaPos.com – Produsen kendaraan listrik asal Tiongkok, BYD Co., mulai memasuki salah satu segmen otomotif paling kompetitif di Jepang dengan meluncurkan mobil listrik ultrakompak bernama Racco. Kendaraan ini dikembangkan khusus untuk konsumen Jepang dan akan bersaing langsung dengan mobil kei bermesin bensin yang mendominasi pasar domestik.
Seperti dilansir Kyodo, Selasa (28/7), BYD meluncurkan Racco dengan harga dasar sekitar 2,15 juta yen atau sekitar Rp 238,7 juta (kurs 1 yen sekitar Rp111). Mobil berbentuk boxy tersebut dilengkapi pintu geser di kedua sisi belakang, fitur yang umum diminati konsumen Jepang.
Presiden BYD Japan, Liu Xueliang, mengatakan Racco dirancang setelah tim insinyur perusahaan melakukan riset langsung ke berbagai daerah di Jepang. Meski belum pernah tinggal di Jepang, mereka mempelajari kebutuhan masyarakat dan menemukan bahwa permintaan mobil mungil masih sangat tinggi, terutama di wilayah regional.
Menurut Liu, meski kendaraan listrik mulai berkembang, mobil hibrida masih menjadi pilihan utama masyarakat Jepang. Saat ini, sekitar 60 persen penjualan mobil di Jepang berasal dari kendaraan berteknologi hibrida.
"Bagaimanapun juga, tren global menuju kendaraan listrik tidak akan berubah," ujar Liu dalam wawancara dengan Kyodo. Ia optimistis kendaraan listrik akan terus berkembang meski adopsinya di Jepang berjalan lebih lambat dibanding negara lain.
Secara dimensi, Racco memiliki ukuran yang sama dengan mobil kei bermesin 660 cc yang menjadi ciri khas pasar Jepang. Kendaraan jenis ini dikenal lebih ringkas dibandingkan Fiat 500 dan selama bertahun-tahun menjadi pilihan masyarakat karena irit bahan bakar, praktis, dan mendapatkan insentif pajak dari pemerintah.
Lebih dari 90 persen mobil yang terjual di Jepang merupakan merek lokal. Sekitar seperempat di antaranya adalah mobil kei yang terkenal hemat biaya operasional dan cocok digunakan di jalan-jalan sempit perkotaan maupun daerah.
Meski pasar otomotif Jepang menyusut sekitar 40 persen dalam 25 tahun terakhir, permintaan terhadap mobil kei tetap relatif stabil. Segmen tersebut selama ini dikuasai Daihatsu Motor Co., Suzuki Motor Corp., dan Honda Motor Co., sementara Nissan, Mitsubishi Motors, serta Honda telah lebih dulu menawarkan mobil kei bertenaga listrik.
Liu menilai pilihan kendaraan listrik di Jepang masih sangat terbatas. Karena itu, BYD ingin menghadirkan lebih banyak model agar masyarakat semakin mengenal manfaat kendaraan listrik, termasuk kemampuan baterainya sebagai sumber listrik untuk berbagai kebutuhan selain menggerakkan kendaraan.
Persaingan di segmen mobil listrik mungil diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa tahun ke depan. Honda dan Suzuki telah mengumumkan rencana meluncurkan model EV mikro baru, sementara produsen otomotif Tiongkok Chery Automobile juga akan masuk ke pasar Jepang tahun depan melalui merek EMTA hasil kerja sama dengan peritel suku cadang Autobacs Seven Co. dan mitra lainnya.
Sejak resmi memasuki pasar Jepang pada 2023, BYD telah memperkenalkan lima model kendaraan. Sepanjang 2025, perusahaan menjual 3.742 unit, meningkat 68 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meski angka tersebut masih sangat kecil dibandingkan total pasar otomotif Jepang yang mencapai sekitar 4,5 juta kendaraan per tahun.
Melalui peluncuran Racco, BYD menargetkan penjualan tahunan sebanyak 10.000 unit. Perusahaan juga berencana memperluas jaringan dealernya dari sekitar 70 menjadi 100 showroom hingga akhir tahun agar dapat menjangkau seluruh 47 prefektur di Jepang.
Liu menegaskan BYD akan terus berupaya memenuhi kebutuhan pelanggan Jepang meski masih berstatus sebagai penantang di pasar otomotif domestik. Menurutnya, perusahaan berkomitmen menawarkan produk yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan konsumen Jepang.