← Beranda
Mobil REEV Mulai Masuk Indonesia, Gaikindo Minta Pemerintah Beri Insentif
Nanda PrayogaSelasa, 14 Juli 2026 | 00.56 WIB
Deepal S05 REEV untuk pertama kalinya di Indonesia diperkenalkan Changan. (Istimewa)

JawaPos.com - Dunia otomotif Indonesia mulai memasuki babak baru dengan hadirnya mobil dengan opsi REEV (range extended electric vehicle).

Hal ini salah satunya tampak dengan diperkenalkannya Deepal S05 dengan varian REEV.

REEV sendiri adalah kendaraan listrik yang dilengkapi mesin bensin berkapasitas kecil. Mesin bensin itu bukan untuk menggerakkan roda, melainkan sebagai generator pengisi daya baterai.

Sederhananya, REEV merupakan kendaraan listrik yang memiliki cadangan energi sendiri di dalamnya. 

Baca Juga: 5 Perbedaan Changan Deepal S05 REEV dan BEV, Anda Harus Tahu 

Motor listrik memang tetap menjadi satu-satunya penggerak roda. Sementara itu, mesin bensin di dalamnya hanya berfungsi menyalakan generator untuk mengisi ulang baterai jika daya mulai menipis, terutama jika harus menempuh perjalanan jauh.

Melihat hal ini, tentu publik bertanya-tanya apakah mobil jenis ini memerlukan insentif dari pemerintah.

Vice Chairman Market Development Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo), Jongkie Sugiarto pun turut mengusulkan agar mobil dengan REEV diberikan insentif.

"Itu sudah kita usulkan dari dulu. Yang mesti dikasih insentif itu kalau bisa, listrik (BEV), Plug-in Hybrid, Hybrid, maupun REEV,” kata Jongkie di sela-sela konferensi pers GIIAS 2026, Senin (13/7).

Dia menekankan, insentif diperlukan lantaran REEV, BEV, hingga HEV telah memenuhi lima kriteria.

Baca Juga: Pre-Book Changan Deepal S05 REEV:  Diklaim Mampu Tempuh Jarak Lebih dari 1.100 Km 

Yakni hemat bahan bakar karena mesin ICE (Internal Combustion Engine) jarang bekerja, rendah polusi karena emisi berkurang drastis, dan tidak memerlukan infrastruktur tambahan lantaran tidak memerlukan charging station yang saat ini masih minim.

“Selanjutnya harga terjangkau, dibandingkan mobil Full BEV, karena baterainya lebih kecil. Terakhir menjaga ekosistem lokal lantaran masih memakai komponen mesin (ICE). Saya tidak khawatir pabrik radiator, knalpot, atau filter tutup. Di Thailand itu sudah mulai terjadi (pabrik komponen tutup karena peralihan ke BEV). Kita jangan sampai begitu,” tukasnya.

"Tolong diperhatikan, Hybrid ini juga bagus dan membantu program pemerintah sesuai Perpres 55 untuk akselerasi kendaraan listrik guna mengurangi subsidi BBM dan menekan polusi,” tutupnya.

Sebagai informasi, penerapan insentif kendaraan EV sendiri masih belum jelas kapan akan diterapkan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sendiri mengatakan bahwa dirinya belum mendapatkan informasi lebih lanjut terkait dengan penundaan rencana pemberian insentif khusus untuk kendaraan listrik selama 1 bulan.

Baca Juga: Teknologi REEV Jadi Solusi Baru Mobil Listrik di Indonesia, Ini Bedanya dengan Hybrid dan BEV

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto jugs mengatakan insentif kendaraan listrik masih dikaji dan kemungkinan penerapannya akan diundur hingga Agustus mendatang.

EDITOR: Bayu Putra