← Beranda
Tren PHEV di Daerah Terhambat karena Edukasi Minim dan Infrastruktur Buruk
Nanda PrayogaMinggu, 24 Mei 2026 | 18.54 WIB
Mazda CX-80 PHEV yang dijual di Indonesia. (mazda.co.id)

 

JawaPos.com - Penetrasi kendaraan plug in hybrid electric vehicle (PHEV) masih menghadapi berbagai tantangan di daerah.

Padahal teknologi PHEV mulai dilirik karena dianggap  sebagai solusi transisi menuju elektrifikasi otomotif di Indonesia.

Pemicu hambatan itu yakni keterbatasan infrastruktur pengisian daya hingga minimnya edukasi masyarakat. Hal itu menjadi faktor utama yang menghambat adopsi kendaraan jenis ini di luar kota besar.

Di sejumlah wilayah, konsumen masih mempertimbangkan aspek kepraktisan penggunaan kendaraan plug in hybrid. Pasalnya, fasilitas charging station belum tersebar merata sehingga pengguna lebih sering mengandalkan mesin berbahan bakar konvensional dibanding memaksimalkan mode listrik yang menjadi keunggulan utama PHEV.

Selain infrastruktur, tantangan juga datang dari sisi harga kendaraan yang relatif lebih tinggi dibanding mobil bermesin konvensional. Kondisi tersebut membuat pasar kendaraan plug in hybrid di daerah masih terbatas pada kalangan tertentu, terutama konsumen dengan daya beli menengah ke atas.

Melihat hal ini, Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) Jongkie Sugiarto tak memungkiri PHEV masih sedikit kesulitan dalam hal penetrasi di daerah.

“PHEV masih perlu edukasi konsumen, karena teknologi nya agak sedikit unik, tapi sangat banyak positif poinnya,” kata Jongkie saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (20/5).

Bahkan, dia menekankan bahwa edukasi mengenai PHEV di kota-kota besar juga sama kurangnya. Alhasil, banyak masyarakat yang tampak kurang memahami keunggulan maupun kekurangan dari teknologi ini.

“Bukan hanya di daerah, secara keseluruhan , masih banyak yang tidak tahu mengenai PHEV dan REEV,” jelasnya.

Baca Juga: 5 Perbedaan Mobil HEV dan PHEV yang Perlu Dietahui sebelum Membeli

Ada Tren Positif Penjualan PHEV di Daerah 

Chery Indonesia merupakan salah satu pemain pada segmen PHEV di Indonesia. Jenis produknya di segmen itu adalah Chery Tiggo 8 CSH dan Chery Tiggo 9 CSH.

Direktur Pemasaran Chery Sales Indonesia (CSI) Budi Darmawan menjelaskan, kontribusi penjualan PHEV di daerah atau non-Jabodetabek tampak baik dan terus menunjukkan tren positif.

“Kontribusi penjualan PHEV 50 persen Jabodetabek, 50 persen non-Jabodetabek. Tapi di luar jabodetabek trennya semakin positif, karena konsumen juga semakin paham mengenai teknologi hybrid dan manfaat efisiensinya,” kata Budi saat dihubungi JawaPos.com.

Chery mulai menyadari  bahwa pasar kendaraan PHEV di Indonesia sangat potensial. Tak hanya Jabodetabek, produsen otomotif asal Tiongkok ini mulai memperkuat posisi di Jawa Timur dan Jawa Barat sebagai pasar PHEV terbesar kedua dan ketiga.

Baca Juga: Nissan Perkenalkan Dua SUV PHEV Baru di Beijing, Terrano Siap Masuk Pasar Global

Strategi Chery

Budi menjabarkan strategi Chery memperluas penetrasi di luar kota besar. Brand itu tidak hanya berfokus pada ekspansi jaringan dealer. “Tapi juga edukasi produk kepada konsumen, test drive, dan meningkatkan layanan aftersales,” ungkapnya.

Sama halnya dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo), Chery juga tak memungkiri terdapat kendala dalam hal penetrasi PHEV di daerah, salah satunya terkait tingkat pemahaman pada konsumen terkait keunggulan dari teknologi PHEV itu sendiri.

“Faktor utamanya bukan hanya harga, tapi tingkat familiaritas konsumen terhadap teknologi PHEV, pemahaman mengenai pola pemakaian, dan apa relevansinya dengan kebutuhan mobilitas mereka. Karena itu, fokus kami adalah membangun kepercayaan dan memperluas pemahaman pasar agar adopsi dapat tumbuh secara lebih berkelanjutan,” tukasnya.

Baca Juga: DFSK Siapkan Kejutan? SUV Kamuflase Ini Diduga E5 Plus PHEV

Sejatinya Pasar PHEV Tumbuh Signifikan

Memasuki 2026, pasar kendaraan PHEV mulai menunjukkan pertumbuhan signifikan. Total distribusi mobil PHEV melonjak menjadi 2.089 unit, jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang hanya mencatat 91 unit.

Berdasarkan data Gaikindo, khusus pada April 2026 distribusi kendaraan PHEV meningkat 60,2 persen dibanding Maret 2026. Jika pada Maret penyalurannya berada di angka 355 unit, maka pada April jumlahnya naik cukup tajam.

Dominasi produsen asal Tiongkok juga semakin terlihat di segmen ini. Nama-nama seperti Chery dan Wuling berhasil mencuri perhatian lewat penjualan model PHEV mereka.

Chery menjadi pemimpin pasar lewat model Chery Tiggo 8 CSH yang mencatat distribusi 229 unit sepanjang April 2026. Raihan tersebut membuatnya unggul cukup jauh dari para pesaing.

Sementara itu, Wuling menempel di posisi kedua melalui Wuling Eksion dengan distribusi sebanyak 183 unit.

Baca Juga: Garansi Hingga 10 Tahun! LEPAS L8 PHEV dan E4 EV Jadi Sorotan IIMS 2026

Daftar mobil PHEV dengan distribusi tertinggi pada April 2026 adalah sebagai berikut:

  • Chery Tiggo 8 CSH: 229 unit
  • Wuling Eksion: 183 unit
  • Chery Tiggo 9 CSH: 52 unit
  • Geely Starray EM-i: 35 unit
  • Jaecoo J8 SHS: 31 unit
  • Mazda CX-80: 14 unit

PHEV Hal Baru Bagi Konsumen

Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Bebin Djuana menegaskan, PHEV sejatinya menjadi hal baru bagi konsumen di daerah.

“PHEV makhluk baru bagi konsumen di luar kota-kota metropolitan. Dibutuhkan sosialisasi agar mendapatkan pemahaman yang benar. Konsumen daerah pahamnya hybrid lama dan janji-janjinya,” kata Bebin kepada JawaPos.com.

Meski begitu, dia tak memungkiri bahwa PHEV bisa saja jadi pilihan terbaik, jika memang Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) masih sedikit. Terlebih, PHEV memiliki kelebihan tersendiri, seperti halnya hanya menghemat konsumsi BBM yang saat ini mahal.

“PHEV yang sekarang mengusung konsep baru, dibekali baterai generasi baru yang lebih ringan/ringkas, tidak mahal, masa pakai lebih panjang dan lebih aman dengan kapasitas lebih besar, mampu berjalan lebih jauh tanpa menghidupkan mesin. Info-info seperti ini belum sampai ke konsumen,” tukasnya.

EDITOR: Ilham Safutra