JawaPos.com-Kasus taksi Green SM yang mati mendadak di atas rel hingga memicu kecelakaan kereta di Bekasi menjadi perhatian publik. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan, bagaimana mobil listrik (electric vehicle/EV) bisa tiba-tiba kehilangan daya di momen krusial.
Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi, menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan erat dengan sistem kelistrikan dan proteksi canggih yang dimiliki kendaraan listrik.
“Berbeda dengan mobil ICE yang mati karena masalah pasokan bahan bakar atau pengapian, EV biasanya mati karena kegagalan pada sistem manajemen energi atau sirkit proteksi,” kata Agus saat dihubungi dari Jakarta, Kamis.
Berikut sejumlah penyebab yang bisa membuat mobil listrik mati mendadak, seperti yang diduga terjadi pada kasus taksi Green SM di Bekasi:
1. Aki 12 Volt Drop atau Mati
Agus menyebutkan bahwa penyebab paling umum adalah gangguan pada baterai 12 volt (aki), yang justru menjadi komponen vital.
“Ini adalah penyebab paling umum. Meskipun memiliki baterai traksi bertegangan tinggi (HV), sistem komputer, lampu, dan sensor EV dijalankan oleh baterai 12V biasa. Jika baterai 12V drop atau mati, main relay tidak bisa menutup, sehingga daya dari baterai besar tidak bisa mengalir ke motor penggerak. Mobil akan mati total meskipun persentase baterai utama masih 80 persen,” ujarnya.
2. Sistem BMS Memutus Daya
Selain itu, sistem Battery Management System (BMS) bisa secara otomatis mematikan kendaraan jika terdeteksi kondisi berbahaya.
“Jika inverter atau baterai mengalami overheating akibat kegagalan pompa pendingin atau cuaca ekstrem, sistem BMS akan memutus aliran daya secara mendadak untuk mencegah kebakaran atau kerusakan permanen,” jelas Agus.
3. Proteksi Tegangan Tinggi (HVIL) Aktif
Guncangan saat melintasi rel juga berpotensi memicu sistem pengaman tegangan tinggi.
“Jika sensor mendeteksi adanya kebocoran arus ke sasis atau adanya soket kabel tegangan tinggi yang longgar akibat guncangan di rel kereta yang tidak rata, sistem akan langsung melakukan emergency shut-off dalam hitungan milidetik,” imbuhnya.
4. Gangguan Elektromagnetik (Jarang Terjadi)
Meski kecil kemungkinannya, medan elektromagnetik di area rel juga bisa memengaruhi sistem kendaraan.
“Meskipun jarang dan teknologinya sudah semakin terproteksi, area perlintasan kereta api memiliki medan elektromagnetik yang kuat dari kabel transmisi atas pada KRL dan rel jalur balik. Pada unit dengan proteksi shielding yang kurang sempurna, EMI ekstrem berpotensi mengganggu komunikasi data pada Controller Area Network kendaraan, yang menyebabkan komputer salah membaca data dan mematikan sistem sebagai bentuk proteksi,” terang Agus.
Sementara itu, pakar otomotif ITB lainnya, Yannes Martinus Pasaribu, menegaskan bahwa faktor elektromagnetik bukan penyebab utama.
“Secara teknis, EV memiliki potensi yang sangat rendah untuk mati mesin secara mendadak saat melintasi rel kereta api karena medan elektromagnetik,” ujarnya.
Ia menambahkan, kendaraan listrik modern telah dibekali sistem perlindungan terhadap interferensi elektromagnetik dan wajib lolos berbagai uji kompatibilitas sebelum dipasarkan.
Kasus taksi Green SM di Bekasi ini menjadi pengingat bahwa meski teknologi kendaraan listrik semakin canggih, sistem proteksi yang dirancang untuk keselamatan justru bisa menyebabkan kendaraan berhenti total dalam kondisi tertentu.