← Beranda
5 Tips Membeli Mobil Listrik, Dari Tempat Poduksi hingga Infrastruktur Charging, Ini yang Perlu Dicek
Rian AlfiantoJumat, 28 November 2025 | 23.40 WIB
Ilustrasi Mobil listrik Hyundai di arena GJAW 2025. (Istimewa)

JawaPos.com - Minat masyarakat terhadap mobil listrik terus meningkat pada 2025, seiring turunnya biaya operasional dan semakin banyaknya pilihan model baru di pasar.

Apalagi ditambah pilihan di pasar yang semakin beragam, gempuran merek pendatang baru dari Tiongkok membuat persaingan di sektor ini menjadi panas.

Namun, sebelum memutuskan beralih dari mobil konvensional ke kendaraan listrik, ada sejumlah hal penting yang perlu diperhatikan calon pembeli. Mulai dari lokasi produksi, fitur keselamatan, aftersales, hingga ketersediaan charging station.

Di tengah banyaknya pilihan EV, konsumen perlu memahami faktor-faktor yang benar-benar berdampak pada penggunaan sehari-hari.

Berikut lima tips utama yang bisa dijadikan panduan sebelum membeli mobil listrik di Indonesia.

1. Perhatikan Lokasi Produksi & Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)

Produksi lokal berpengaruh pada harga, ketersediaan suku cadang, hingga kecepatan waktu tunggu (lead time).

Saat ini, sejumlah pabrikan mulai merakit EV secara lokal, termasuk Hyundai melalui all-new Kona Electric yang diklaim memiliki TKDN hingga 80 persen, salah satu yang tertinggi di Indonesia.

Kenapa ini penting? Sebab TKDN membuat harga lebih kompetitif berkat insentif. Suku cadang dipastikan lebih mudah didapat karena sudah diproduksi lokal dan servis lebih cepat karena komponen tersedia di dalam negeri.

Jika Anda ingin mobil listrik yang mudah dirawat untuk jangka panjang, periksa apakah model pilihan Anda dirakit secara CKD atau masih impor CBU.

2. Cek Teknologi Keselamatan dan Fitur Penting EV

Mobil listrik modern umumnya sudah dibekali teknologi keselamatan berbasis sensor atau ADAS (Advanced Driver Assistance Systems). Contoh fitur yang perlu dicermati ada beberapa.

Misalnya, Lane Keeping Assist (membantu menjaga posisi lajur), Smart Cruise Control (berguna saat macet dan perjalanan jauh) dan Blind-spot View Monitor (meminimalkan titik buta).

Selain itu, fitur konektivitas smartphone seperti remote AC, penguncian jarak jauh, dan find my car juga makin relevan—terutama bagi pengguna baru yang ingin memantau kondisi mobil setiap saat.

3. Jarak Tempuh Realistis Sesuai Kebutuhan Harian

Jarak tempuh bukan sekadar angka di brosur, tetapi harus diuji di kondisi jalan sungguhan. Pada pengujian media, KONA Electric mencatat perjalanan Jakarta–Semarang sekitar 420 km dengan sisa baterai 15–20 persen.

Tips untuk pembeli, jika mobil dipakai dalam kota, daya jelajah 300–400 km sudah sangat cukup.

Sementara jika sering keluar kota, pilih baterai dengan jarak tempuh di atas 400 km dan pastikan jarak tempuh masih aman meski baterai tersisa 20–30 persen.

4. Pastikan Layanan Aftersales dan Garansi Memadai

EV membutuhkan perawatan lebih sederhana dari mobil bensin, tetapi tetap memerlukan jaringan servis yang kuat.

Oleh karena itu, aspek ini sangat penting dalam menentukan keberlanjutan hidup mobil listrik itu sendiri.

Hal yang perlu ditanyakan kepada dealer adalah apakah teknisi sudah bersertifikasi EV? Berapa lama garansi baterai (idealnya 8 tahun)? Apakah suku cadang tersedia lokal? Apakah dealer menyediakan layanan darurat untuk EV sangat perlu untuk diketahui.

Hyundai, misalnya, telah menyiapkan lebih dari 110 dealer EV-ready, tetapi jumlah itu berbeda untuk setiap merek. Pastikan lokasi servis tidak jauh dari rumah.

5. Cek Peta Infrastruktur Charging di Kota Anda

EV idealnya di-charge di rumah, tetapi jaringan SPKLU tetap penting untuk perjalanan jarak jauh. Periksa tiga hal.

Pertama, ketersediaan charger rumah dari merek terkait. Kedua, ketahui jumlah titik charging publik di kota Anda dan ketiga, akses ke 600+ charging points nasional (berbagai operator).

Beberapa merek juga menawarkan paket langganan charging untuk mengontrol biaya pengisian.

Jika sering bepergian antar kota, pastikan rute Anda sudah memiliki SPKLU di titik strategis seperti rest area, hotel, atau mal.

Kesimpulannya, mobil listrik menawarkan banyak keuntungan, tetapi keputusan membelinya tetap membutuhkan pertimbangan.

Dengan memahami lima aspek tersebut, mulai produksi lokal, fitur keselamatan, jarak tempuh, aftersales, hingga infrastruktur charging, konsumen dapat memilih EV yang paling sesuai dengan pola mobilitas mereka.

EDITOR: Bayu Putra