JawaPos.com - Hujan abu vulkanik bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga bisa mempercepat kerusakan wiper dan membuat kaca mobil baret jika dibersihkan dengan cara yang salah. Pengemudi perlu lebih berhati-hati sebelum mengaktifkan wiper ketika permukaan kaca dipenuhi abu.
Disisi lain wiper mobil yang mulai rusak sering kali tidak langsung disadari pengemudi. Padahal, komponen ini memiliki peran penting dalam menjaga kaca depan tetap bersih dan membantu pengemudi melihat kondisi jalan ketika hujan.
Masalahnya, penurunan performa wiper biasanya berlangsung secara bertahap. Wiper masih bergerak seperti biasa, tetapi kualitas sapuannya mulai menurun.
Kondisi tersebut semakin perlu diperhatikan ketika mobil digunakan di wilayah yang terdampak hujan abu vulkanik akibat erupsi gunung berapi.
Abu vulkanik memiliki partikel yang dapat bersifat abrasif. Ketika abu menempel di kaca depan kemudian wiper langsung diaktifkan, partikel tersebut dapat bergesekan dengan permukaan kaca.
Akibatnya, kaca mobil berisiko mengalami baret halus, sementara karet wiper juga dapat lebih cepat aus atau rusak. Karena itu, ketika kaca mobil dipenuhi abu vulkanik, pengemudi sebaiknya tidak langsung menyalakan wiper.
Bersihkan atau bilas terlebih dahulu abu yang menempel pada kaca menggunakan air hingga permukaannya cukup bersih. Langkah ini penting karena fungsi utama wiper adalah menyapu air, bukan membersihkan tumpukan debu atau abu kering dari permukaan kaca.
Wiper Rusak Bisa Ganggu Visibilitas
Selain hujan abu vulkanik, kondisi wiper yang sudah menurun juga dapat menjadi masalah ketika hujan biasa. Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan visibilitas merupakan bagian penting dalam proses pengambilan keputusan pengemudi.
“Pengemudi mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Karena itu, visibilitas yang baik menjadi bagian penting dalam membantu pengemudi membaca situasi dan mengambil keputusan lebih awal,” ujar Yannes.
Menurutnya, hujan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lebih dari 31 persen. Risiko tersebut dapat semakin besar ketika kondisi kaca depan dan wiper tidak mendukung pandangan pengemudi.
Kenali Tanda Wiper Harus Diganti
Country Sales Director Bosch Mobility Aftermarket, Griselda Iwandi, mengatakan pengemudi tidak perlu menunggu wiper berhenti bekerja untuk melakukan penggantian.
Ada beberapa tanda yang dapat menjadi indikator bahwa wiper mulai kehilangan performanya.
Pertama, muncul garis air setelah wiper menyapu kaca. Kondisi ini menunjukkan permukaan karet tidak lagi membersihkan air secara optimal.
Kedua, wiper menimbulkan suara berdecit. Suara tersebut dapat muncul ketika karet wiper sudah tidak bekerja dengan baik atau terdapat masalah pada permukaan kaca dan karet.
Ketiga, gerakan wiper tidak lagi mulus. Wiper yang bergerak tersendat atau tidak stabil dapat membuat sebagian area kaca tidak tersapu sempurna.
Keempat, terdapat bagian kaca yang tidak ikut tersapu. Kondisi ini menjadi salah satu tanda paling mudah terlihat, terutama ketika hujan cukup deras.
“Pengemudi tidak perlu menunggu sampai wiper berhenti berfungsi. Ketika hasil sapuannya mulai menurun, itu sudah menjadi tanda untuk melakukan pemeriksaan dan penggantian,” kata Griselda.
Bosch menyebut wiper idealnya diganti setiap enam bulan. Namun, kondisi pemakaian kendaraan tetap perlu menjadi pertimbangan.
Mobil yang sering digunakan di daerah berdebu, panas, atau terdampak abu vulkanik membutuhkan perhatian lebih terhadap kondisi karet wiper.
Jangan Hanya Periksa Karet Wiper
Performa wiper tidak hanya bergantung pada kondisi karetnya. Kesesuaian produk dengan kendaraan, pemasangan yang tepat serta keaslian produk juga dapat memengaruhi kinerjanya.
Karena itu, pengemudi perlu memastikan ukuran dan spesifikasi wiper sesuai dengan kendaraan yang digunakan.
Yoke Pribadi, President Director PT Berkat Otopart Indonesia, mengatakan edukasi kepada konsumen juga perlu mencakup kesesuaian produk, keaslian dan pemilihan kanal pembelian yang tepercaya.
Hal ini penting karena wiper merupakan komponen sederhana yang bekerja langsung untuk menjaga visibilitas pengemudi.
Cara Aman Membersihkan Kaca Mobil dari Abu Vulkanik
Ketika mobil terkena hujan abu vulkanik, jangan langsung mengusap kaca dengan kain kering atau mengaktifkan wiper. Bilas terlebih dahulu menggunakan air untuk mengangkat partikel abu. Setelah sebagian besar abu terlepas, barulah kaca dapat dibersihkan secara hati-hati.
Hindari menggosok permukaan kaca dengan tekanan berlebihan karena sisa partikel abu masih berpotensi menyebabkan goresan.
Jika abu menumpuk sangat tebal, sebaiknya kendaraan tidak digunakan terlebih dahulu sampai kondisi lingkungan lebih aman dan kaca serta sistem wiper dapat dibersihkan dengan benar.
Keselamatan Dimulai dari Hal Sederhana
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, Aan Suhanan, melalui Heri Prabowo, menegaskan keselamatan tidak berhenti ketika kendaraan dinyatakan laik jalan.
Keselamatan perlu dijaga sepanjang masa penggunaan kendaraan, mulai dari desain, produksi, registrasi hingga operasional. Prinsip tersebut juga sejalan dengan kampanye keselamatan yang melibatkan pemerintah dan industri.
Bosch melalui inisiatif Care for Sight turut memberikan perhatian terhadap aspek visibilitas. Dalam momentum 100 tahun teknologi wipernya, Bosch bersama Yayasan Tunas Bakti Nusantara (YTBN) memberikan kontribusi wiper untuk mendukung kendaraan ambulans.
Pada akhirnya, merawat wiper bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga menjaga keselamatan dan visibilitas saat berkendara.
Terlebih ketika menghadapi kondisi ekstrem seperti hujan abu vulkanik, pengemudi perlu mengingat satu hal penting: jangan gunakan wiper untuk membersihkan abu kering dari kaca karena dapat mempercepat kerusakan karet dan berisiko membuat kaca mobil baret.
Sebelum berkendara, pastikan kaca bersih, wiper bekerja optimal, dan kondisi kendaraan siap menghadapi situasi jalan.