← Beranda
IDAI Desak Pemerintah Serius Atasi Karhutla, Jangan Cuma Hitung Luas yang Dipadamkan
Tazkia Royyan Hikmatiar• Sabtu, 17 Oktober 2026 | 23.30 WIB
Personel TNI AU membantu pemadaman karhutla di Kalsel (Dok Antara).

 

JawaPos.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendesak pemerintah dan pihak terkait meningkatkan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatra, dan Papua. 

Penanganan tidak boleh hanya berfokus pada luas lahan yang berhasil dipadamkan, tetapi juga harus memastikan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, terlindungi dari paparan asap.

“Targetnya bukan hanya diukur dari berapa hektar api yang bisa dipadamkan ya, tapi berapa baik kesehatan masyarakat, terutama anak-anak ini bisa terlindungi," kata Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), Sabtu (17/10).

Ia mengatakan, karhutla yang belum tertangani secara optimal di Kalimantan dan Sumatra telah menjadi persoalan lintas negara. 

Baca Juga: Jakarta Game Fest 2026 Jadi Panggung Developer Lokal Bidik Pasar Global

"Kami mendesak pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk ayo segera kita atasi kebakaran ini dengan lebih intens lagi. Jangan sampai korbannya terus berjatuhan,” tegas dr. Piprim.

Menurut dr. Piprim, keberhasilan penanganan karhutla seharusnya tidak semata-mata diukur dari jumlah hektare lahan yang berhasil dipadamkan. Perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak yang rentan terhadap dampak polusi udara, juga harus menjadi indikator utama.

dr. Piprim menegaskan, udara bersih merupakan kebutuhan dasar sekaligus bagian dari hak anak untuk hidup sehat. Karena itu, orang tua, pemerintah, hingga tenaga medis memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak-anak mendapatkan lingkungan yang sehat agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

“Udara bersih itu bukan sesuatu yang mewah, tapi kebutuhan dasar dan bagian dari hak anak untuk hidup sehat,” ucapnya..

Iamenambahkan, anak-anak bukan pihak yang menyebabkan kebakaran hutan, tetapi justru menjadi salah satu kelompok yang paling rentan menanggung dampaknya. Oleh karena itu, upaya pencegahan paparan asap harus lebih diutamakan daripada sekadar mengobati anak-anak yang sudah mengalami gangguan kesehatan.

Salah satu langkah yang disarankan adalah membatasi aktivitas anak di luar ruangan selama kualitas udara memburuk. Selain itu, IDAI mendorong agar sekolah dan fasilitas pendidikan mempertimbangkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau secara daring untuk mengurangi risiko paparan asap.

Orang tua juga diminta aktif memantau informasi kualitas udara melalui sumber-sumber yang tersedia secara daring. Penggunaan masker dapat dipertimbangkan sesuai kondisi dan usia anak, dengan memperhatikan bahwa bayi dan anak di bawah usia dua tahun tidak dianjurkan menggunakan masker.

“Jadi, aktivitas luar ruangan perlu dibatasi. Kemudian sekolah dan fasilitas pendidikan juga mungkin kita advokasi supaya mengutamakan pembelajaran jarak jauh atau online,” pungkas dr. Piprim.

EDITOR: Sabik Aji Taufan