← Beranda
BGN Bakal Aktivasi 480 Dapur MBG di Wilayah Indonesia Timur dan 3T mulai 2 Oktober 2026
Dimas Choirul• Rabu, 30 September 2026 | 15.24 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) bakal mengaktivasi 480 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah timur Indonesia mulai dilakukan 2 Oktober 2026.

Aktivasi tersebut diprioritaskan untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta daerah dengan tingkat stunting tinggi.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, ratusan dapur tersebut tersebar di 16 provinsi dan 116 kabupaten/kota. Sebanyak 211 SPPG merupakan Mitra Mandiri, sedangkan 269 lainnya merupakan SPPG terpencil.

"Kami telah memutuskan bahwa pada hari Jumat nanti tanggal 2 Oktober tahun 2026 kami akan melaksanakan aktivasi dapur SPBG yang siap beroperasi di wilayah 3T, di wilayah yang stuntingnya tinggi dan wilayah yang stuntingnya tinggi sekali yang kita mulai di wilayah timur Indonesia," kata Sudaryono melalui pernyataannya yang diunggah di akun instagram @sudaru_sudaryono, dikutip Rabu (30/9).

Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi Rabu 30 September 2026, Cek Target Supportnya

Adapun 16 provinsi yang menjadi sasaran aktivasi meliputi Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Induk atau Papua, Sulawesi Tengah, Papua Barat Daya, Papua Barat, Maluku Utara, Maluku, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Sudaryono mengatakan, aktivasi akan dilakukan terhadap SPPG yang dinilai telah siap beroperasi. BGN juga akan menempatkan kepala SPPG serta mengaktifkan virtual account (VA) sebagai bagian dari tahapan aktivasi.

"Jadi dapur-dapur ini lebih dari BGN yang menghubungi mitra-mitranya menempatkan kepala SPPG-nya dan mengaktifkan VA-nya," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Sudaryono akan berada di Maluku pada 2 Oktober. Sementara itu, Wakil Kepala BGN, para deputi, dan pejabat eselon II akan disebar ke sejumlah provinsi lainnya untuk melakukan aktivasi.

Setelah aktivasi, dapur tidak langsung menjalankan layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) secara penuh. BGN akan melakukan sejumlah tahapan, termasuk pelatihan penjamah makanan dan peningkatan jumlah penerima manfaat secara bertahap.

"Selanjutnya nanti setelah kita aktivasi, akan ada tahapan-tahapan termasuk tahapan pelatihan, tahapan penjamah makanan harus dilatih termasuk juga ada nanti penerima manfaatnya dimulai dari sekian jumlah, jumlahnya makin ditambah dan seterusnya," kata Sudaryono.

Menurut dia, dapur-dapur tersebut diperkirakan baru siap beroperasi sekitar tiga sampai empat minggu setelah aktivasi pada 2 Oktober.

BGN juga akan melanjutkan pembukaan dapur di wilayah lain secara bertahap. Prioritas diberikan kepada daerah 3T, wilayah dengan angka stunting tinggi, serta daerah yang masih memiliki sekolah yang belum mendapatkan layanan MBG.

Sudaryono menegaskan, penentuan dapur yang akan diaktifkan tidak dilakukan berdasarkan permintaan pihak tertentu. BGN menggunakan sistem dan database untuk menentukan lokasi yang mendapat prioritas.

Baca Juga: Olahraga untuk Turunkan Berat Badan Tetap Harus Utamakan Kesehatan Jantung

"Sekali lagi bapak dan ibu semuanya, penentuan dari mana yang kemudian dibuka dan mana yang menjadi duluan dan mana yang belakangan ditentukan oleh sistem, ditentukan oleh database kami," tegasnya.

Dia juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai pihak yang mengatasnamakan BGN dalam proses aktivasi dapur SPPG. BGN menyatakan tidak memberikan kewenangan kepada asosiasi maupun individu untuk menjadi perantara dalam proses tersebut.

"Sehingga kami tidak mengotorisasi siapapun, tidak mengotorisasi asosiasi manapun, tidak mengotorisasi pribadi-pribadi manapun yang kemudian barangkali nanti ada orang-orang oknum-oknum yang mengatasnamakan saya, mengatasnamakan pimpinan di BGN kemudian melakukan tindakan-tindakan yang merugikan, tindakan-tindakan yang kemudian tidak sesuai apakah itu dengan pungutan-pungutan dan lain sebagainya," pungkas Sudaryono.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan