← Beranda
Titik Panas Bukan Akhir, Begini Tantangan Membaca Dampak Karhutla
Dimas ChoirulSelasa, 15 September 2026 | 05.46 WIB
Ilustrasi petugas gabungan melakukan pembasahan setelah karhutla di kawasan Gunung Bromo pada Jumat (11/9) (Dok BPBD Jatim).

 

JawaPos.com – Titik panas atau hotspot dapat menjadi penanda awal terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, informasi tersebut belum cukup untuk menggambarkan kondisi dan dampak kebakaran secara menyeluruh.

Untuk mengetahui area yang benar-benar terdampak, dibutuhkan pengolahan data serta citra satelit beresolusi tinggi. Teknologi tersebut memungkinkan pemantauan dilakukan lebih detail, termasuk melihat lokasi, persebaran, hingga estimasi luasan area yang terdampak.

Direktur Pengembangan Telkomsat, Anggoro K. Widiawan, mengatakan pemanfaatan data satelit saat ini berkembang dari sekadar menghadirkan gambar permukaan bumi menjadi informasi yang dapat membantu pengguna memahami suatu kondisi.

"Kami ingin membawa pemanfaatan data satelit lebih jauh dari sekadar melihat gambar permukaan bumi. Earth Intelligence memungkinkan data tersebut diolah menjadi informasi yang lebih mudah dipahami, mulai dari melihat indikasi suatu kejadian, mengetahui area yang terdampak, hingga memantau perubahan kondisi wilayah dari waktu ke waktu. Kolaborasi dengan berbagai mitra teknologi juga menjadi bagian dari upaya kami untuk terus memperkuat kapabilitas tersebut guna memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat," ujar Anggoro dalam keterangannya, dikutip Senin (14/9).

Salah satu penerapannya dilakukan untuk pemantauan karhutla melalui Karhutla GeoTSat. Platform tersebut menampilkan persebaran titik panas di berbagai wilayah Indonesia melalui dashboard berbasis data satelit.

Karhutla GeoTSat memanfaatkan data dari NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS) untuk menampilkan informasi hotspot dan aktivitas termal. Data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk visualisasi geospasial sehingga pengguna dapat melihat wilayah yang membutuhkan perhatian secara lebih mudah.

Platform tersebut juga dilengkapi Fire AI Assistant berbasis generative AI untuk membantu pengguna berinteraksi dan memahami informasi yang tersedia pada dashboard.

Meski demikian, informasi hotspot lebih tepat digunakan sebagai langkah awal untuk menentukan area yang perlu diperhatikan lebih lanjut. Ketika dibutuhkan gambaran yang lebih detail, pemantauan dapat dilanjutkan menggunakan citra satelit beresolusi tinggi.

Untuk kebutuhan tersebut, Telkomsat berkolaborasi dengan STAR.VISION dalam pemanfaatan citra satelit beresolusi tinggi hingga 50 sentimeter. Pengambilan citra dapat diarahkan pada lokasi tertentu yang ingin dipantau sehingga kondisi area dapat terlihat lebih jelas dan sesuai dengan kebutuhan analisis.

Salah satu penerapannya dilakukan di kawasan Bromo, Jawa Timur, untuk melihat kondisi wilayah pascakebakaran.

Citra satelit beresolusi 50 sentimeter digunakan untuk mengidentifikasi area yang terdampak secara lebih detail. Setelah diolah dan dianalisis, citra tersebut tidak hanya menjadi gambar, tetapi dapat dikembangkan menjadi informasi mengenai lokasi, persebaran, dan estimasi luas area yang terindikasi terdampak kebakaran.

Dari area sampel yang dianalisis, diperoleh estimasi wilayah yang terindikasi terdampak sekitar 1.325 hektare.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemantauan karhutla membutuhkan lebih dari satu jenis informasi. Data hotspot dapat digunakan untuk melihat indikasi awal secara luas, sementara citra resolusi tinggi membantu melihat kondisi area tertentu secara lebih detail.

Data tersebut kemudian dapat dipadukan dengan analisis geospasial untuk menghasilkan informasi yang lebih terukur mengenai kondisi suatu wilayah.

Pemanfaatan teknologi serupa juga tidak terbatas pada pemantauan karhutla. Pada sektor pertanian, data satelit dapat digunakan untuk melihat kondisi lahan dan tanaman. Di bidang lingkungan dan kehutanan, teknologi tersebut dapat membantu memantau perubahan tutupan lahan.

Sementara pada sektor pertambangan dan infrastruktur, data pengamatan bumi dapat digunakan untuk melihat perubahan kondisi suatu wilayah dari waktu ke waktu. Di sektor maritim, teknologi tersebut dapat dikembangkan untuk mendukung pemantauan aktivitas di wilayah perairan.

"Melalui GeoTSat, kami terus mengembangkan kemampuan untuk mengubah data pengamatan bumi menjadi informasi yang lebih mudah dipahami dan lebih bernilai bagi pengguna," ungkapnya.

EDITOR: Estu Suryowati