← Beranda
Kisah Haru Triyono, Penumpang Virgo Transport 8 yang Rajin Berderma Lewat Kamis Berkah
Ardini PramithaSenin, 14 September 2026 | 01.14 WIB
Tari (baju pink) memantau kabar adiknya Triyono yang jadi salah satu penumpang kapal Virgo Transport 8 (Dok Ardini Pramitha/JawaPos.com).

JawaPos.com - Raut cemas tak bisa disembunyikan Tari saat menanti kabar tentang adiknya, Triyono (50). Adiknya itu merupakan satu dari 243 penumpang Kapal Virgo Transport 8 yang dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9).

Di tengah ketidakpastian itu, Tari hanya bisa berharap nama adiknya segera ditemukan dalam daftar korban selamat. Bersama keluarga, Tari mendatangi Posko Informasi di Terminal Gapura Surya Nusantara Surabaya. Mereka berusaha memastikan keberadaan Triyono dengan mencermati manifest penumpang, sembari menunggu informasi terbaru mengenai proses pencarian.

Tatapan Tari tak lepas dari papan berisi data penumpang. Di antara keluarga penumpang lainnya yang sama-sama menanti kepastian, ia terus mencari nama adiknya. Namun hingga kini, keberadaan Triyono masih belum diketahui.

Di tengah rasa cemas yang menyelimuti, Tari teringat pada sosok adiknya yang dikenal gemar berbagi. Triyono disebut rutin menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu warga yang membutuhkan. Ia bahkan memiliki kegiatan sosial yang dilakukan setiap pekan melalui program yang diberi nama “Kamis Berkah”.

Tari yang sehari-hari berjualan nasi mengatakan, Triyono rutin mengirimkan uang untuk kemudian disalurkan kepada para janda. “Dia ada program Kamis Berkah. Saya jualan nasi, kemudian lewat telepon dia rutin transfer uang untuk disumbangkan kepada para janda. Setiap hari Kamis dia selalu buat Kamis Berkah,” kata Tari.

Kebiasaan tersebut kini menjadi kenangan yang terus terlintas di benak keluarga. Biasanya, komunikasi dengan Triyono berjalan seperti biasa. Namun kini, telepon dan pesan hanya berujung pada penantian. Keluarga tidak tahu kapan kabar berikutnya akan datang atau seperti apa kepastian yang akan mereka terima.

Tari mengaku pertama kali mendapat kabar mengenai musibah tersebut dari anggota keluarga di Nganjuk, Jawa Timur. Mendengar kabar itu, ia langsung berusaha menghubungi keluarga lainnya yang berada di Kalimantan untuk memastikan informasi mengenai kondisi Triyono.

“Setelah dengar kabar itu, saya langsung telepon adik saya lagi yang di Banjar dan ipar saya. Diberitahu kalau kapalnya tenggelam tadi malam,” ujarnya.

Kabar tersebut sontak membuat keluarga panik. Dalam kondisi penuh kebingungan, mereka berusaha mencari informasi dari berbagai sumber sembari menunggu kabar mengenai proses pencarian. Triyono diketahui telah cukup lama bekerja sebagai sopir ekspedisi dengan rute Surabaya-Banjarmasin.

 

Pekerjaan itu membuatnya terbiasa melakukan perjalanan antarpulau untuk mengantarkan barang. Perjalanan menuju Banjarmasin pun bukan sesuatu yang asing baginya. “Dia kerja driver ekspedisi rute Surabaya–Banjarmasin. Sudah lama kerja di situ,” tutur Tari.

Triyono juga telah berkeluarga. Sementara itu, istrinya saat ini berdomisili di Sulawesi. Kini, keluarga hanya bisa menunggu sambil memanjatkan harapan. Di tengah rasa takut kehilangan, Tari berusaha tetap percaya bahwa adiknya masih memiliki kesempatan untuk ditemukan dalam keadaan selamat.

Bagi keluarga, setiap informasi yang datang menjadi sangat berarti. Mereka berharap penantian ini segera berakhir dengan kabar baik, bukan semakin panjang dalam ketidakpastian. Harapan itu masih terus mereka jaga, meski rasa sedih, cemas, dan bingung belum juga mereda. “Semoga segera ketemu dalam keadaan selamat,” pungkas Tari.

 

EDITOR: Diar Candra