JawaPos.com – Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit paling banyak terjadi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kementerian Kesehatan mencatat kasus ISPA di tujuh provinsi terdampak karhutla mencapai 113.336 kasus per Rabu (9/9) lalu.
Sebagaimana diberitakan Antara Kamis (10/9), Juru Bicara Kementerian Kesehatan Widyawati dalam konferensi pers di Graha BNPB Jakarta menyampaikan bahwa sebaran kasus ISPA menjangkiti warga di 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi. Yaitu Provinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
"Laporan kasus ISPA terbagi dalam kelompok usia. Yakni sebanyak 26.545 kasus menyerang balita usia 0 hingga 5 tahun serta 86.791 kasus terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun," kata Widyawati.
Widyawati memaparkan bahwa melonjaknya kasus pernapasan berbanding lurus dengan memburuknya Indeks Standar Pencemar Udara di sejumlah daerah yang masuk dalam kategori sangat tidak sehat (merah) hingga berbahaya (hitam).
Kualitas udara kategori berbahaya atau warna hitam teridentifikasi mulai dari Kabupaten Kotawaringin Timur hingga Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah. Sementara status sangat tidak sehat atau merah meliputi Baning Kota di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat dan Kabupaten Tebo di Jambi.
Dia mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tidak panik, disiplin memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala sesak napas.
Kementerian Kesehatan selama masa tanggap darurat bencana ini telah menyiagakan sebanyak 1.691 puskesmas serta 360 rumah sakit rujukan untuk mengantisipasi lonjakan pasien terdampak paparan asap kebakaran hutan dan lahan di tujuh provinsi itu.
Kemenkes juga melakukan mobilisasi SDM kesehatan yang terdiri atas 18.457 dokter umum, 189 dokter spesialis paru, 238 spesialis THT, 280 spesialis mata, serta 212 dokter spesialis lainnya.
Selain tim dokter ahli, dia menambahkan bahwa pihaknya mendistribusikan tenaga bantuan teknis yang mencakup perawat, apoteker, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, epidemiolog, sanitarian, hingga pengemudi ambulans di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatra Selatan.
Sektor pendukung penanganan disiagakan melalui 87 Laboratorium Kesehatan Masyarakat untuk pengujian kualitas udara secara berkala. Serta penyiagaan layanan darurat Public Safety Center/PSC 119.
"Dari sisi pendistribusian logistik, Kemenkes telah menyalurkan 980.315 lembar masker, 277 unit oxygen concentrator, 41.000 pasang sarung tangan, 36 tabung oksigen, 4.908 unit APD, serta ratusan face shield dan air purifier," kata Widya.