← Beranda
Laboratorium Konfirmasi 4 Sampel Positif Dalam Kasus MBG Berastagi
Dimas ChoirulRabu, 9 September 2026 | 03.05 WIB
Feby br Purba, siswi keracunan MBG kembali mendapat perawatan medis karena racun jamur masuk ke saraf kepalanya (Foto: Sumut Pos)

JawaPos.com – Dokumen hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel dalam kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tersebar di media sosial. Dokumen yang terpampamg kop hasil pemeriksaan dari UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara tersebut menunjukkan empat temuan positif dari sejumlah sampel yang diuji.

Temuan tersebut meliputi Bacillus cereus pada nasi dari sekolah, Staphylococcus aureus pada ikan teri pakai saus dari sekolah, E. coli pada melon dari sekolah, serta Staphylococcus aureus pada sampel muntahan siswa.

Dokumen tersebut merupakan hasil pemeriksaan yang diterima pada 14 Agustus 2026 dengan lokasi kejadian di SMAN 1 Berastagi. Pemeriksaan dilakukan terhadap parameter Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus.

Dokumen itu turut disoroti dokter Ferry Kusmalingga melalui utas di akun Threads @dr.ferrykslg. Ia menyebut telah membaca dua halaman hasil pemeriksaan laboratorium tersebut dan menemukan sejumlah hasil positif.

Ferry kemudian merinci empat temuan positif tersebut yakni Bacillus cereus pada nasi dari sekolah, Staphylococcus aureus pada ikan dan saus dari sekolah, E. coli pada melon dari sekolah, serta Staphylococcus aureus pada sampel muntahan siswa. "Tidak ada/ negatif salmonella pada sampel yang diperiksa," tulisnya dikutip Selasa (8/9).

Soroti Staphylococcus aureus

Menurut Ferry, keberadaan Staphylococcus aureus menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam kasus tersebut. Bakteri tersebut, kata dia, dapat mencemari makanan melalui tangan penjamah makanan maupun kulit dan hidung. Bakteri kemudian dapat berkembang apabila makanan disimpan pada suhu yang tidak tepat.

Ferry menyebut keracunan dapat terjadi akibat enterotoksin yang dihasilkan bakteri tersebut. "Menyebabkan keracunan makanan lewat enterotoksin yang tahan panas, meskipun bakterinya sendiri mungkin sudah mati saat proses pemanasan," ujarnya.

Menurut dia, toksin tersebut dapat menyebabkan sejumlah gejala seperti muntah, mual, kram perut hingga diare.

 

Bacillus cereus Ditemukan pada Nasi

Temuan lainnya adalah Bacillus cereus pada sampel nasi dari sekolah. Ferry menjelaskan, bakteri tersebut merupakan bakteri pembentuk spora yang dapat mencemari makanan dengan kandungan karbohidrat tinggi, termasuk nasi, pasta maupun mi.

"Bacillus cereus sering berhubungan dengan makanan yang: dimasak dalam jumlah banyak, dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang, atau tidak disimpan kembali dengan benar," jelasnya. Ia juga menyoroti toksin yang dihasilkan Bacillus cereus. Menurut Ferry, bakteri tersebut dapat menghasilkan toksin yang menyebabkan muntah maupun diare akut.

E. Coli dan Pertanyaan soal Gagal Ginjal

Ferry kemudian menyoroti temuan E. coli pada sampel melon dari sekolah. Hal ini dinilai menarik karena terdapat laporan mengenai korban yang mengalami gagal ginjal. Namun, ia tidak menyimpulkan bahwa temuan E. coli tersebut secara langsung menjadi penyebab gagal ginjal pada korban.

Ferry menjelaskan bahwa beberapa strain Escherichia coli memang dapat menyebabkan komplikasi serius. Terutama strain tertentu seperti Shiga toxin-producing E. coli (STEC)."Karena memang beberapa strain bakteri Escherichia coli (E. coli) dapat menyebabkan gagal ginjal, terutama melalui komplikasi dari strain tertentu atau infeksi berat," terangnya.

Ia menyebut infeksi STEC dapat menyebabkan diare berat atau berdarah, kerusakan sel darah, penurunan trombosit hingga acute kidney injury atau gagal ginjal akut melalui hemolytic uremic syndrome (HUS).

Penyebab Gangguan Saraf Belum Bisa Dipastikan

Terkait laporan adanya korban yang mengalami gangguan pada saraf otak hingga amnesia, Ferry menekankan bahwa persoalannya sangat kompleks dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Ia juga memberikan batasan bahwa dirinya tidak memeriksa pasien secara langsung.

Ia menyebut banyak kemungkinan faktor-faktor yang menyebabkan pasien mengalami hal tersebut.

Ferry mengingatkan bahwa panel pemeriksaan laboratorium tersebut hanya mencari empat jenis bakteri, yakni Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Padahal, menurut dia, kejadian keracunan massal dapat memiliki penyebab lain. Termasuk virus, bakteri lain, parasit, toksin, kontaminasi kimia, pestisida hingga logam.

Selain itu, Ferry menyebut kondisi medis seperti dehidrasi berat, diare berat, muntah terus-menerus dan tekanan darah turun juga dapat berkontribusi terhadap cedera ginjal akut akibat berkurangnya aliran darah ke ginjal.

Sementara untuk gangguan pada saraf otak, ia menyebut perlu diperiksa kembali kemungkinan terjadinya syok atau sepsis. Di akhir utasnya, Ferry meminta Badan Gizi Nasional (BGN) evaluasi serius terhadap pelaksanaan program MBG.

"Satu kasus keracunan sudah terlalu banyak Saya berharap tidak ada lagi kasus seperti ini Anak anak adalah mutiara hati setiap orang tuanya," pungkasnya.

 

EDITOR: Diar Candra