JawaPos.com - Pernyataan Plt. Deputi Bidang Pembinaan Komunikasi Pemerintah di Badan Komunikasi (Bakom) Ulta Levenia Nababan, mengenai proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) di tengah fenomena erupsi enam gunung api di Indonesia menjadi sorotan publik. Pernyataan tersebut ramai diperbincangkan karena Ulta mempertanyakan kemungkinan adanya faktor lain di balik sejumlah erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan.
Melalui pernyataannya, Ulta mengakui bahwa pemikirannya mengenai fenomena tersebut merupakan pandangan pribadi. Ia menyadari pertanyaan dan spekulasi yang disampaikannya berpotensi dikategorikan sebagai teori konspirasi.
Ulta mengatakan dirinya memiliki karakter skeptis dan tidak ingin langsung menerima suatu penjelasan hanya karena dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Ia tak memungkiri, membuka kemungkinan adanya perspektif lain untuk melihat rangkaian fenomena alam tersebut.
Baca Juga: Jangan Diabaikan, Ini 9 Kebiasaan Orang Toxic yang Bisa Merusak Hubungan
"HAARP ini sering dikaitkan dengan teori konspirasi karena memang awalnya didanai oleh US Air Force, US Navy dan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency). Walau tdk ada bukti ilmiah, tapi banyak spekulasi bahwa Project HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai hingga gempa bumi," tulis Ulta Levenia dalam media sosial Instagram, Senin (7/9).
Menurut Ulta, HAARP merupakan proyek penelitian ionosfer yang dalam sejarahnya pernah berkaitan dengan sejumlah lembaga Amerika Serikat. Program tersebut kemudian menjadi bahan spekulasi di kalangan masyarakat karena dikaitkan dengan kemampuan memengaruhi berbagai fenomena alam.
Namun, Ulta mengakui belum terdapat bukti ilmiah kredibel yang membuktikan bahwa HAARP dapat mengendalikan cuaca, memicu badai, maupun menyebabkan gempa bumi. Karena itu, keterkaitan antara HAARP dan erupsi gunung api yang ia singgung masih berada dalam ranah dugaan.
"HAARP atau Beruntun bencana alam ini mungkin memang terjadi secara natural, memang kejadian alam yang harus kita terima. [PEMIKIRAN PRIBADI]," tuturnya.
Baca Juga: Karismanya Bikin Disegani! 6 Weton Ini Konon Punya Wibawa Layaknya Bangsawan
Ulta kemudian menjelaskan alasan dirinya tetap mempertanyakan penjelasan yang dinilai umum. Ia menyebut sikap skeptis membuatnya mempertimbangkan alternatif lain, meskipun menyadari pemikiran tersebut kemungkinan besar akan disebut sebagai teori konspirasi.
"Tapi karna saya orangnya skeptis banget, gak mau terima dengan penjelasan yang biasa dan lumrah HARUS diterima," bebernya.
Ia turut menyinggung pandangan mengenai teori konspirasi yang pada waktu tertentu dapat kembali dibicarakan setelah suatu proyek atau informasi dinyatakan terbuka untuk publik. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari alasan Ulta mengaku berani menyampaikan pemikirannya meski berpotensi mendapat kritik.
"Maka ada alternative lain kemungkinan besar akan digolongkan ke teori konspirasi. Tapi toh terbukti konspirasi sebagian besar adalah fakta yang tertunda. Kalau di Amerika umurnya konspirasi 20-40 tahun tergantung kapan sebuah project ditutup/ selesai dan sudah bisa untuk disclosed to public," tuturnya.
Ulta kemudian menghubungkan keberadaan HAARP dengan perspektif geopolitik dan intelijen. Ia mempertanyakan alasan penggunaan pemancar radio berenergi tinggi dalam penelitian ionosfer yang pernah berpusat di Alaska.
Baca Juga: Karismanya Bikin Disegani! 6 Weton Ini Konon Punya Wibawa Layaknya Bangsawan
"Kenapa ada gap conspiracy ini ttg Project HAARP, karena kalau dilihat dg kaca mata geopolitik dan intelijen, Project HAARP berkaitan dengan penelitian eksploitasi ionosfer dan menggunakan energi radio frekuensi tinggi yang awalnya berpusat di Alaska," urainya.
Ulta lantas mengaitkan pertanyaannya dengan momentum kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia. Ia menyoroti waktu terjadinya erupsi sejumlah gunung api setelah pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok.
"Walau gak ada bukti ilmiah yg kredible, tapi otak skeptis pasti berfikir atau setidaknya entertain pemikiran, "Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dg Putin di Vladivostok, 6 Gunung Vulkanik Indonesia Erupsi secara bersamaan?" ungkapnya.
Ulta menyebut, dirinya bukan satu-satunya pihak yang pernah memiliki kecurigaan serupa terhadap HAARP. Ia mengatakan sejumlah negara seperti Jepang, Tiongkok, dan Turki pernah dikaitkan dengan kecurigaan mengenai proyek tersebut.
Baca Juga: Bukan Makin Susah, 7 Weton Ini Konon Makin Sejahtera di Masa Tua
"Yg curiga ttg ini bukan sy sendiri pasti, Jepang, China, dan Turkiye pernah punya kecurigaan yg sama," pungkasnya.