← Beranda
Erupsi Hingga Muntahkan Lava Air Mancur, Status Aktivitas Gunung Anak Krakatau Masih Siaga
Syahrul YunizarSabtu, 5 September 2026 | 18.44 WIB
Tangkapan layar kondisi Gunung Anak Krakatau dalam pantauan CCTV Lava93 milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, KESDM. (Dok PVMBG)

JawaPos.com - Meski erupsi berjam-jam sejak Jumat tengah malam (4/9) sampai Sabtu pagi (5/9), status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tetap level III atau siaga. Badan Geologi, tidak meningkatkan status yang sudah bertahan sejak 2 Juli lalu.

Kepala Badan Geologi Lana saria menyampaikan bahwa potensi dan ancaman bahaya dari erupsi pada pukul 23.07 WIB-04.40 WIB itu berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar. Untuk itu, pihaknya menyampaikan beberapa rekomendasi.

”Pertama, masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau,” kata dia.

Baca Juga: Misteri Dentuman di Langit Bandung Terjawab, Berikut Penjelasan Badan Geologi ESDM

Kedua, lana meminta seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Ketiga, masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung diminta untuk tetap tenang.

”Dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat,” ujarnya.

Keempat, masyarakat diminta terus memantau perkembangan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang bergerak di bawah Badan Geologi. Selain itu, masyarakat juga bisa memonitor perkembangan informasi dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau.

Lebih lanjut, dijelaskan oleh Lana, Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A di Perairan Selat Sunda. Berdasar catatan sejarah pada 1883, erupsi besar terjadi hingga menghasilkan tsunami. Goncangan gempa bumi memicu erupsi Anak Krakatau dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau yang menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda juga terjadi pada 22 Desember 2018.

”Setelah 22 Desember 2018, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai
fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunungapi Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023,” ujarnya.

Baca Juga: Pemerintah Jakarta dan Guangdong Bahas Potensi Penguataan Kerja Sama Ekonomi

Jeda erupsi yang cukup lama berlangsung hingga kembali menghasilkan erupsi pada 2 Juli 2026. Kemudian sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada level III atau siaga. Sampai hari ini, level tersebut belum dan tidak berubah.

EDITOR: Bintang Pradewo