← Beranda
5 Kasus Dugaan Keracunan MBG Terbesar sepanjang 2026, Paling Parah Makan Korban hingga 809 Orang 
Dimas ChoirulKamis, 3 September 2026 | 02.10 WIB
Sejumlah santri Ponpes Manba’ul Hikam menjalani perawatan di RS Siti Hajar Sidoarjo setelah diduga mengalami keracunan menu MBG. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)

 

 

JawaPos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah dugaan keracunan massal terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Hingga berita ini ditulis, jumlah korban dalam kasus tersebut mencapai 566 orang.

Data tersebut masih dinamis dan terus diperbarui sesuai pendataan. Kasus Sidoarjo menambah daftar panjang insiden gangguan kesehatan yang terjadi setelah penerima manfaat mengonsumsi makanan MBG sepanjang 2026.

Sejumlah kasus bahkan melibatkan ratusan siswa, santri, guru, hingga kelompok penerima manfaat lainnya dalam satu kejadian. Berdasarkan data yang dihimpun Redaksi JawaPos.com, berikut lima kasus dengan jumlah korban terbesar sepanjang 2026:

1. Gubug, Grobogan: 803 Orang

Kasus dengan jumlah korban terbesar terjadi di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada awal Januari 2026. Sebanyak 803 orang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Mereka berasal dari sejumlah satuan pendidikan dan pondok pesantren yang menerima makanan dari SPPG Gubug Kwaron 1 di Desa Kuwaron. Total penerima manfaat dari dapur tersebut mencapai 2.904 orang.

Dari 803 korban, 115 orang sempat menjalani rawat inap. Pemerintah daerah kemudian melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kejadian.

Tim Satgas Percepatan MBG Jawa Tengah saat itu menduga gangguan kesehatan berkaitan dengan menu ayam. Namun, dugaan tersebut belum dapat disebut sebagai penyebab pasti sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

Ketua Tim Investigasi Independen BGN Karimah Muhamad mengatakan, terkait dengan pembiayaan bisa dibayarkan semua oleh BGN setelah selesai laporan di lapangan tentang data korban, gejalanya dan apasaja pengobatanya.

”Kepala BGN akan disposisi dan bagian keuangan akan membayarnya. Jadi dapur SPPG tidak punya kewajiban membayar tagihan,” kata Karimah Muhamad.

 

2. SMKN 6 Semarang: 707 Orang

Kasus besar berikutnya terjadi di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah, pada 31 Juli 2026. Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat 707 orang mengalami gejala gangguan kesehatan, terdiri dari 693 siswa dan 14 guru.

Sebanyak 42 siswa sempat mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan. Investigasi Dinkes Kota Semarang kemudian menemukan persoalan pada pelaksanaan standar operasional prosedur (SOP) di dapur penyedia makanan.

Dari 19 SOP yang diperiksa, hanya tiga yang dinilai terpenuhi. "Artinya ada 16 SOP yang tidak terpenuhi," tegas Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam.

Salah satu temuan lainnya adalah makanan berupa rendang telah dimasak sejak sekitar pukul 21.00 WIB pada malam sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pemeriksaan untuk mengetahui faktor yang berkontribusi terhadap kejadian.

Kasus Semarang kemudian semakin mendapat perhatian setelah hasil pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri E. coli pada beberapa sampel makanan.

 

3. Sidoarjo: 566 Orang

Kasus terbaru terjadi di wilayah Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Dugaan keracunan bermula pada 1 September 2026 setelah santri Pondok Pesantren Manba'ul Hikam dan penerima manfaat dari sejumlah lembaga pendidikan sekitar mengonsumsi menu MBG dari SPPG Kalitengah.

Jumlah korban terus bertambah. Hingga 2 September, 566 orang tercatat mengalami gejala. Dari jumlah tersebut, 123 orang menjalani perawatan, sementara korban lainnya telah mendapatkan penanganan dan sebagian diperbolehkan pulang.

Jumlah tersebut masih dapat berubah karena pendataan terhadap korban masih berlangsung. SPPG Kalitengah telah dihentikan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Sampel makanan dan bahan pangan juga diperiksa untuk memastikan penyebab kejadian. Hingga data terakhir, penyebab pasti dugaan keracunan Sidoarjo masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Namun, berdasarkan data versi BGN, sebanyak 512 siswa telah mendapatkan penanganan. Dari jumlah tersebut, 80 siswa masih menjalani rawat inap, 312 siswa telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, sementara 120 siswa masih dalam tahap observasi.

"Yang utama bagi kami saat ini adalah keselamatan dan kesehatan anak-anak kita. Untuk itu, BGN akan terus mengawal 80 siswa yang masih menjalani rawat inap dan memastikan mereka mendapatkan penanganan yang diperlukan hingga kondisi mereka kembali sehat dan dapat pulang ke rumah masing-masing," ujar Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana di Jakarta, Rabu (2/9).

 

4. SMAN 2 Kudus: 545 Orang

Kasus dengan jumlah korban terbesar keempat terjadi di SMAN 2 Kudus, Jawa Tengah, pada akhir Januari 2026. Sebanyak 545 orang siswa terdampak. Mereka mengonsumsi menu MBG berupa soto ayam yang dipasok dari SPPG Purwosari Kapasan.

Berbeda dengan sejumlah kasus yang penyebabnya masih diteliti, kasus Kudus telah memiliki temuan laboratorium yang disampaikan BGN. Hasil pemeriksaan menemukan bakteri E. coli pada kuah soto dan sambal yang dikonsumsi para penerima manfaat.

Temuan tersebut menjadi salah satu bukti penting dalam rangkaian evaluasi keamanan pangan MBG pada awal 2026. Sekretaris DKK Kudus, Nuryanto, membenarkan temuan tersebut.

Ia menyampaikan bahwa hasil laboratorium menunjukkan adanya kandungan bakteri E. coli pada sampel makanan yang diuji. “Berdasarkan hasil uji laboratorium yang keluar pada 4 Februari, sampel makanan MBG dinyatakan positif mengandung bakteri E. coli,” ujarnya, Sabtu (7/2).

 

5. Depapre, Jayapura: 543 Orang

Kasus kelima terjadi di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, pada awal Agustus 2026. Jumlah korban semula dilaporkan mencapai 527 orang. Namun, berdasarkan pendataan berikutnya, Pemkab Jayapura merevisi jumlah tersebut menjadi 543 orang.
Korban berasal dari kelompok penerima manfaat yang beragam, mulai dari balita, siswa PAUD hingga SMP, ibu hamil, hingga lansia.

Kasus tersebut juga menjadi perhatian karena hasil pemeriksaan laboratorium menemukan E. coli pada beberapa makanan yang dikonsumsi penerima manfaat.

Baca Juga: SPPG Kalitengah Sudah Kantongi SLHS, BGN Tetap Investigasi Bahan Baku MBG

Jika lima kasus tersebut dijumlahkan, terdapat 3.164 orang yang terdampak. Namun, angka tersebut bukan merupakan data resmi jumlah seluruh korban kasus MBG secara nasional, melainkan akumulasi dari lima insiden dengan jumlah korban terbesar yang teridentifikasi berdasarkan laporan pemerintah daerah. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan