← Beranda
Viral Pejabat BNPB Wawancara Bencana NTT dari Kafe, Begini Fakta Sebenarnya
Muhammad RidwanRabu, 26 Agustus 2026 | 14.39 WIB
Sebuah video wawancara pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di salah satu stasiun televisi swasta menjadi sorotan di media sosial. (Instagram)

JawaPos.com - Sebuah video wawancara pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di salah satu stasiun televisi swasta menjadi sorotan di media sosial. Dalam video tersebut, pejabat BNPB tampak memberikan wawancara secara daring dari sebuah rumah makan.

Video yang beredar pada Selasa (25/8) itu kemudian memunculkan beragam spekulasi dari warganet. Sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan keberadaan pejabat BNPB tersebut yang dinilai tidak berada di lokasi terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengakui bahwa sosok dalam video tersebut adalah dirinya.

Baca Juga: Profil Sabah FK: Hancurkan Klub Israel 5-2! 9 Tahun Berdiri Langsung Tembus Liga Champions

Berton menjelaskan, wawancara itu berlangsung pada Kamis (20/8) sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu, dirinya berada di sebuah rumah makan yang lokasinya berada di sekitar Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo.

"Kami memahami adanya video yang beredar dan persepsi yang kemudian muncul di media sosial. Namun perlu kami luruskan konteksnya. Pada saat video tersebut dilakukan, pejabat BNPB yang bersangkutan sedang menjalankan tugas komunikasi publik, yaitu memberikan wawancara secara langsung kepada salah satu televisi swasta nasional mengenai perkembangan penanganan gempa NTT. Kegiatan tersebut dilakukan pada malam hari, di luar jam kerja kantor," kata Berton kepada wartawan, Rabu (26/8).

Menurut Berton, lokasi rumah makan tersebut hanya berjarak sekitar 10 langkah dari Bandara Labuan Bajo. Ia menegaskan, Labuan Bajo memiliki peran penting dalam mendukung operasi penanganan gempa di wilayah NTT.

"Kita perlu melihat konteks lokasi tersebut. Labuan Bajo pada saat itu bukan sekadar tempat persinggahan, tetapi merupakan salah satu simpul penting operasi BNPB, termasuk penerimaan dan distribusi logistik untuk wilayah Flores bagian barat," ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan personel BNPB di suatu lokasi tidak serta-merta menunjukkan bahwa yang bersangkutan sedang tidak menjalankan tugas.

Baca Juga: PARFI Berduka Atas Meninggalnya Sutradara Eugene Panji, Ini Jejak Karyanya di Perfilman Indonesia

"Jadi, keberadaan seseorang di tempat tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa yang bersangkutan sedang tidak bekerja atau tidak berada dalam rangkaian operasi penanganan bencana," ucapnya.

Berton menegaskan, penanganan bencana bersifat berkelanjutan dan tidak terbatas pada jam kerja. Selama masa tanggap darurat, personel BNPB tetap menjalankan berbagai tugas, mulai dari koordinasi, pemantauan perkembangan situasi, pengolahan data hingga penyampaian informasi kepada masyarakat.

Ia juga menjelaskan, BNPB telah membagi tugas personelnya sesuai dengan fungsi masing-masing dalam penanganan kondisi darurat.

"Kami juga perlu membedakan antara personel yang memiliki tugas lapangan secara langsung dengan pejabat yang menjalankan fungsi koordinasi dan komunikasi. Keduanya merupakan bagian dari satu sistem penanganan bencana," tutur Berton.

Karena itu, Berton mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan potongan video yang beredar di media sosial. Menurutnya, informasi mengenai penanganan bencana perlu disampaikan secara utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Baca Juga: PARFI Berduka Atas Meninggalnya Sutradara Eugene Panji, Ini Jejak Karyanya di Perfilman Indonesia

"Yang paling penting, pada saat itu yang bersangkutan sedang menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai penanganan gempa NTT. Kami tidak ingin masyarakat mendapatkan informasi yang keliru hanya karena melihat potongan video tanpa konteks," pungkasnya.

EDITOR: Bintang Pradewo