← Beranda
Pesan Kemerdekaan dari Seniman Ludruk Kartolo: Berikan Panggung untuk Generasi Penerus
Novia HerawatiSenin, 17 Agustus 2026 | 18.45 WIB
Seniman ludruk Kartolo dan Kartini di kediamannya di Jalan Kupang Jaya I, Surabaya. Keduanya menyampaikan Harapan untuk Kemerdekaan Berkarya. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)

Sempat Berjaya di masanya, kesenian ludruk Surabaya kini berjuang menjaga eksistensi di tengah perubahan zaman, minimnya panggung, dan tantangan regenerasi.

JawaPos.com - "Saya dulu sehari bisa pindah panggung dua sampai tiga kali," tutur peludruk legendaris, Cak Kartolo, mengingat masa kejayaan ludruk yang membuat ia nyaris tak pernah sepi dari panggung pertunjukan.

Pada era 1970-an, ludruk menjadi salah satu hiburan utama masyarakat, khususnya di Surabaya dan Jawa Timur.

Penonton rela menyaksikan pentas ludruk semalam suntuk, sembari melepas lelah usai berjuang di kehidupannya masing-masing.

Tak ada bagian malam yang benar-benar hening, karena celetukan para peludruk dan gelak tawa penonton saling bersahutan sepanjang malam.

Baca Juga: Pesan Putra Sayuti Melik untuk Indonesia: Merdeka Itu Damai, Bukan Bermusuhan

Namun, perkembangan teknologi mengubah selera hiburan masyarakat. Ludruk kini menghadapi dilema untuk menjaga eksistensinya: mempertahankan panggung lama atau mencari ruang dan panggung baru agar tetap relevan.

Pertanyaannya, sejauh mana ludruk mampu beradaptasi tanpa kehilangan jiwanya sebagai kesenian tradisional? Sudahkah ludruk benar-benar merdeka dalam berkarya?

Kartolo dan Ning Tini merupakan seniman ludruk paling senior di Surabaya saat ini. Nyaris tak ada penggemar kesenian ludruk yang tidak mengenal dua sosok ini.

Mereka paham betul bahwa kesenian ludruk sudah tak lagi seramai di masa jayanya dulu. Selera penikmat seni semakin dinamis, dan panggung-panggung seni modern terus bermunculan.

Baca Juga: 174.791 Narapidana dan Anak Binaan Terima Remisi HUT ke-81 RI, 3 Ribu Diantaranya Langsung Bebas

Maka pertanyaan besar keduanya adalah, masihkah pelaku seni tradisional punya ruang dan panggung untuk berkarya? 

Karena generasi penerus seni tradisional, termasuk ludruk, terbukti masih ada, namun mereka belum benar-benar merdeka untuk menampilkan karya.

Ditambah lagi penyusunan materi yang tak mudah, agar tak sekadar menghibur, namun juga mempertahankan ruh seni ludruk.

Maka, Kartolo dan Kartini pun terus bersuara agar para seniman tradisional, khususnya ludruk, bisa merdeka dalam berkarya.

Menemukan Jalan Hidup di Panggung Ludruk

Lahir di Prigen, Pasuruan, 2 Juli 1947, Kartolo tumbuh dari keluarga sederhana. Pendidikan formalnya hanya sampai Sekolah Rakyat (setara SD), karena keterbatasan ekonomi.

Baca Juga: Rayakan Kemerdekaan, Pegiat Lingkungan dan UMKM Gresik Kibarkan Bendera Raksasa

Kartolo bukan produk sekolah seni, bukan pula anak elite budaya. Namun, keterbatasannya sebagai 'wong cilik' tidak menghalangi Kartolo menemukan jalan hidupnya sebagai seniman ludruk.

Kartolo belajar ludruk secara otodidak. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)
Kartolo belajar ludruk secara otodidak. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)

"Saya lulus Sekolah Rakyat tahun 1958, nggak bisa lanjut SMP karena ekonomi. Terus saya ikut karawitan, ngiringi tayuban, wayang kulit, ludruk," ujarnya kepada JawaPos.com di kediamannya di Jalan Kupang Jaya I, Surabaya, Kamis (13/8).

Pengalaman mengiringi berbagai pertunjukan seni membuat Kartolo akrab dengan dunia ludruk.

Berbekal pengalaman tersebut, ia mengaku tak kesulitan mempelajari ludruk secara otodidak.

"Nggak sulit, kan sudah biasa main karawitan buat ngiringi pertunjukan ludruk. Jadi pas coba main ludruk itu gampang. Terus lama-lama saya juga belajar ngeremo (tari Remo)," kelakar Kartolo yang kondang dengan kidung jula julinya.

Baca Juga: Dirut PLN Kawal Kelistrikan Nasional Jelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI dari NTT

Pada 1960-an, Kartolo memberanikan diri ikut pentas ludruk di desanya di Watuagung, Prigen, Pasuruan.

Panggung pertamanya sederhana. Tak ada lampu sorot, hanya penerangan seadanya untuk menerangi panggung.

"Pertama kali ikut ludrukan ya di desa saya, di Watuagung. Timbangane nganggur (daripada tidak ada kegiatan), ayo ludrukan, kata arek-arek. Jadi ya nggak atek bayaran (tidak ada upahnya)," kata Kartolo.

Baginya, ludruk bukan sekadar kesenian tradisional atau tempat mencari penghasilan, melainkan ruang belajar yang mengantarkannya dari panggung kampung hingga dikenal luas sebagai salah satu maestro ludruk Jawa Timur.

Pernah Pentas 2-3 Kali Sehari

Tahun 1968 hingga 1980 menjadi periode penting dari perjalanan hidup Kartolo sebagai seniman.

Baca Juga: Refleksi Kemerdekaan Indonesia ke-81 dari Gen Z: Kebebasan Berpendapat-Bertarung dengan Algoritma

Ia berpindah dari satu kelompok ke kelompok ludruk lain, mulai dari Ludruk Dwikora, KKO Gajah Mada, Bintang Surabaya, Kancat Resno, RRI Surabaya hingga Persada Malang.

Selama sekitar 12 tahun, panggung menjadi ruang belajar Kartolo. "Saya keliling Jawa Timur. Saya sudah panggung ke seluruh Jawa Timur selain Pacitan," ucap peludruk legendaris tersebut dengan bangganya.

Kartolo dan Kartini atau Ning Tini bertemu kali pertama di panggung Ludruk RRI. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)
Kartolo dan Kartini atau Ning Tini bertemu kali pertama di panggung Ludruk RRI. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)

Bagi Kartolo, setiap pementasan selalu meninggalkan pengalaman, apalagi saat dirinya bergabung dengan ludruk RRI Surabaya sejak 1971. Siapa sangka, ia bertemu dengan Ning Tini, yang kini menjadi istrinya.

Ning Tini merupakan penari sekaligus putri budayawan Cak Basman. Sebelumnya, ia kerap tampil sebagai penari dalam sejumlah pementasan ludruk yang disiarkan di radio milik negara.

Pertemuan keduanya di panggung kemudian berkembang menjadi pasangan dalam berbagai lakon.

Baca Juga: MoU Ekspor Beras ke Malaysia Digelar, Persembahan Terindah Perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-81

Kartolo dan Ning Tini kerap dipasangkan sebagai pemeran dalam cerita ludruk, salah satunya Sam Pek Eng Tay.

"Awalnya saya penari, terus ditawari RRI main ludruk, saya coba, ternyata bisa. Lalu ketemu sama Kartolo. Terus sama abah (panggilan romantis Ning Tini untuk Cak Kartolo) itu sering meranin pasangan cerita," kenang Ning Tini.

Dari panggung ludruk RRI, kedekatan keduanya berlanjut ke kehidupan pribadi. Kartolo dan Ning Tini akhirnya menikah pada 1974, dan dikaruniai tiga anak, yakni Agus Slamet, Gristia Ningsih, dan Dewi Trianti.

"Makanya sekarang kalau ada ludruk RRI disiarkan menangis saya. Riwayat saya di situ, saya senang. Itu kurungan emas di dalamnya. Ketemunya (jodoh, yaitu Ning Tini) juga di RRI," timpal Kartolo dengan mata berkaca-kaca.

dari Ludruk Tobong ke Grup Lawak

Memasuki dekade 1980-an, perkembangan radio dan televisi perlahan mengubah kebiasaan masyarakat menikmati hiburan. Ludruk tobong yang sebelumnya dipadati penonton mulai kehilangan peminatnya.

Baca Juga: Libatkan Puluhan Alutsista, TNI AU Terus Matangkan Demo Udara HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia

Kartolo kemudian menerima tawaran Nirwana Records Surabaya untuk merekam lawakan bersama kelompoknya.

Sejak saat itu, ia meninggalkan panggung ludruk lama dan lebih banyak tampil sebagai grup lawak Kartolo CS.

Kartolo membentuk grup lawak Kartolo Cs berisi Enamorang. Selain dirinya, ada Ning Tini, Sapari, Sumilah, Yakin, dan Munawar. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)
Kartolo membentuk grup lawak Kartolo Cs berisi Enamorang. Selain dirinya, ada Ning Tini, Sapari, Sumilah, Yakin, dan Munawar. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)

“Ludruk sama lawak itu beda. Kalau ludruk paling tidak 40 orang (untuk satu kali pentas), kalau lawak lima orang saja cukup. Yang penting ada yang 'makan' celetukan atau guyonan, sudah semua (penonton) ketawa," tutur Kartolo.

Kartolo CS awalnya beranggotakan Kartolo, Ning Tini, Sumilah, Yakin, Munawar, dan Sapari.

Dalam perjalanannya, komposisi tersebut berubah seiring waktu hingga tersisa Kartolo, Tini, Sapari, dan Slamet.

Baca Juga: Prabowo: Kemerdekaan Belum Selesai Hanya Karena Merah Putih Berkibar

Pada September 2022, Cak Sapari, sahabat seperjuangan Kartolo, mengembuskan napas terakhirnya.

Meski format pertunjukan ludruk berubah, karakter banyolan Jawa Timuran dan jula-juli tetap melekat pada Kartolo Cs.

"Sampai sekarang, saya dan Pak Kartolo sesekali masih tampil, kalau diundang. Tetapi ya tidak sesering dulu. Kalau dulu sebulan bisa lebih dari 20 kali pentas. Seharinya bisa pindah dua sampai tiga panggung," ucap Ning Tini.

Bagi Cak Kartolo dan Ning Tini, perubahan zaman bukan alasan untuk menganggap ludruk selesai.

Ludruk masih tetap hidup, hanya saja, ruang tampilnya tidak sebanyak dulu ketika seni lakon ini menjadi primadona masyarakat.

Baca Juga: Refleksi HUT Ke-81 RI, Arief Hidayat Singgung Pembangunan Semakin Jauh dari Cita-cita Kemerdekaan

Kemerdekaan Berkarya dalam Kesenian Ludruk

Ludruk merupakan teater tradisional Jawa Timur yang mengangkat kehidupan rakyat melalui lawakan, parikan, dan kritik sosial. Di Surabaya, kesenian ini cukup populer dan digemari.

Bagi Kartolo dan Ning Tini selaku seniman, kemerdekaan berkarya bukan berarti bebas tanpa ada batas.

Ludruk tetap memiliki ruang berekspresi, tetapi kebebasan tersebut perlu dijaga agar pertunjukan tetap sesuai karakter hiburan rakyat.

Kartini, atau Ning Tini, peludruk sekaligus istri Kartolo. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)
Kartini, atau Ning Tini, peludruk sekaligus istri Kartolo. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)

Keduanya memilih mempertahankan ludruk sebagai hiburan yang dekat dengan masyarakat, tanpa membawa materi pertunjukan terlalu jauh ke ranah politik atau persoalan sensitif yang berpotensi menimbulkan polemik.

“Kalau kami ingin sifatnya hiburan aja,” ujar Ning Tini menyampaikan pandangannya tentang kemerdekaan berkarya dalam kesenian ludruk. "Jadi dibilang merdeka, ya belum, tapi saya tidak ingin terlalu bebas," timpal Kartolo.

Baca Juga: HUT ke-81 RI, Janda Perintis Kemerdekaan di Surabaya Dapat Bingkisan Kebahagiaan

Ia memilih membatasi materi pertunjukan, terutama menyangkut persoalan yang sensitif.

Menurut dia, kebebasan berkarya tetap penting, tetapi harus disertai kendali agar tidak menimbulkan persoalan di luar panggung.

Sindiran tetap menjadi bagian dari ludruk, tetapi Kartolo dan Ning Tini memilih menyampaikannya secara halus.

Mereka ingin pentas ludruk tetap membuat penonton tertawa dan pulang dengan perasaan gembira.

Dalam konteks lebih luas, persoalan dalam kemerdekaan ludruk justru berkaitan dengan minimnya panggung.

Baca Juga: Bak Mendapat Jalan Keluar, 7 Weton Ini Diramal Ketiban Rezeki di Bulan Kemerdekaan

Bukan karena kekurangan pelaku atau regenerasi, melainkan terbatasnya kesempatan bagi mereka untuk tampil.

“Bukan karena ludruk nggak punya pelaku, tetapi karena nggak punya cukup wadah. Percuma Surabaya punya kesenian ludruk, ada regenerasi, kalau tidak ditampilkan," keluh Ning Tini dengan menggebu-gebu.

Menurut Kartolo, media masih memiliki peran penting untuk mengenalkan ludruk kepada masyarakat secara luas.

Kartolo dan Ning Tini dorong media populerkan kembali kesenian ludruk. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)
Kartolo dan Ning Tini dorong media populerkan kembali kesenian ludruk. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)

Tanpa ruang tampil dan promosi, bisa-bisa ludruk hanya dikenal sebagai kesenian lokal di Jawa Timur.

Di tengah keterbatasan panggung, Cak Kartolo dan Ning Tini memilih tak berhenti berkarya.

Baca Juga: Pesan Shin Tae-yong di HUT ke-81 RI, Mari Terus Jaga Persatuan!

Keduanya berusaha menyesuaikan bentuk pertunjukan tanpa meninggalkan akar kesenian ludruk.

Salah satu yang dilakukan pasangan seniman tersebut adalah dengan terjun ke dunia layar lebar.

Berbagai judul lokadrama dan film sudah dibintangi, seperti Lara Ati, Kartolo Numpak Terang Bulan, dan terbaru Sekawan Limo 2.

Keterlibatan dalam berbagai medium menjadi upaya Cak Kartolo dan Ning Tini mempertahankan eksistensi ludruk di tengah perubahan zaman dan selera hiburan masyarakat yang terus berubah.

Bagi Kartolo, kemerdekaan berkarya bukan hanya kebebasan berekspresi, tetapi juga ketersediaan panggung agar ludruk tetap hidup, dikenal, dan mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya sebagai kesenian rakyat.

Ludruk Tak Kehabisan Penerus, Anak Muda Butuh Ruang Berkarya

Keberadaan Kartolo Cs menginspirasi lahirnya kelompok-kelompok ludruk generasi baru.

Di lingkungan kampus, semangat itu tumbuh melalui Ludruk Tcap Toegoe Pahlawan ITS dan Ludruk Oekosnomos Universitas Airlangga.

Harapan serupa juga menyala melalui Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Suroboio (Luntas), yang digagas Erland Setiawan alias Robets Bayoned Cs sejak 2016. Regenerasi ini menunjukkan ludruk belum kehilangan peminatnya.

"Iya di Unesa ada kelompok ludruk, Unair, ITS juga punya. Banyak kok kelompok ludruk yang pelaku seninya anak muda, tapi ya nggak ditampilkan (karena nggak ada wadahnya)," tutur Ning Tini.

Namun, keberadaan generasi baru belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesempatan untuk tampil secara reguler.

Baca Juga: Hadiri Upacara HUT ke-81 RI, Wapres Gibran Tampil dengan Busana Adat Rote NTT

Menurut Tini, ludruk belum banyak memperoleh ruang untuk diperkenalkan kepada masyarakat.

Bagi perempuan kelahiran 1955 itu, panggung menjadi penting agar anak muda tidak sekadar belajar ludruk, tetapi juga memperoleh kesempatan menunjukkan kemampuan sekaligus menjaga keberlanjutannya.

Menurut mereka, penonton ludruk di Surabaya masih ada. Terbukti, pementasan di Cak Durasim dan Balai Budaya pun selalu ramai penonton, terutama ketika pertunjukan hadir secara terbuka dan mudah dijangkau masyarakat.

Karena itu, harapan mereka tidak berhenti pada keberlangsungan pertunjukan. Tini berharap generasi muda mau melestarikan kesenian daerah, khususnya ludruk Jawa Timur sebagai warisan budaya yang perlu diteruskan.

Bagi Tini, ketika anak muda semakin sering tampil, mereka akan semakin mengenal dan mencintai ludruk.

Baca Juga: Tanpa Amanat Gubernur, Upacara HUT ke-81 RI di Grahadi Surabaya Berjalan Khidmat

Kartolo dan Ning Tini sampaikan harapan agar seniman ludruk merdeka dalam berkarya. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)
Kartolo dan Ning Tini sampaikan harapan agar seniman ludruk merdeka dalam berkarya. (Satrio Maheswara/JawaPos.com)

Kelak ketika Kartolo dan Tini tidak lagi berada di panggung, harus ada generasi yang meneruskannya.

"Untuk anak-anak muda, saya harap mau melestarikan ludruk, karena ini warisan budaya nenek moyang," ucap Ning Tini.

"Dan untuk pemerintah, tolong disupport bakat-bakat seni anak muda, diberi panggung, biar mereka tambah semangat melestarikan," timpal Kartolo menutup percakapan. (*)

 

 

EDITOR: Bayu Putra