← Beranda
Kejadian Keracunan MBG di Sumut Diduga Karena Ikan Tak Disimpan di Freezer Selama 12 Jam
Dimas ChoirulSenin, 17 Agustus 2026 | 15.53 WIB
Kepala BGN Sudaryono usai mengunjungi siswa yang dirawat di RS Haji Medan, Sumut, Minggu (16/8). (Istimewa).

JawaPos.com - Insiden keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut) diduga adanya kelalaian proses pengolahan bahan baku ikan.

Berdasarkan investigasi sementara Badan Gizi Nasional (BGN), sebagian ikan tidak disimpan di dalam freezer dan dibiarkan pada suhu ruangan selama 12 jam hingga lebih.

"Ada sekitar 300 atau 200 atau 300 ekor (ikan) yang tidak masuk ke freezer itu kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam," kata Kepala BGN Sudaryono saat mengunjungi korban di Rumah Sakit Haji Medan, Minggu (16/8).

Baca Juga: 13.859 Personel Gabungan Siaga Ketat Amankan Puncak HUT ke-81 RI di Jakarta

Dia menilai, kondisi tersebut merupakan bentuk kelalaian serius dalam pengolahan makanan. Dia menegaskan tidak boleh ada kelalaian dalam penyediaan makanan MBG karena menyangkut keselamatan penerima manfaat.

"Dan saya minta kepala dapur atau siapapun yang merasa enggak sanggup kerja, kau keluar saja daripada kemudian membahayakan nasib nyawa seseorang," kecam pria yang akrab disapa Mas Dar itu.

Dia mengatakan BGN akan memperketat pelaksanaan prosedur keamanan pangan di seluruh dapur MBG. Sebanyak sekitar 27.000 kepala dapur di seluruh Indonesia diminta memberikan perhatian khusus terhadap setiap tahapan pengolahan makanan.

Di sisi lain, Mas Dar menyebut kondisi salah satu korban yang dirawat di PICU Rumah Sakit Haji Medan mulai berangsur membaik setelah menjalani perawatan selama tiga hari. Namun, pasien masih membutuhkan penanganan intensif.

Dia berharap kondisi korban segera pulih sehingga dapat dipindahkan dari ruang PICU ke ruang perawatan biasa. "Saya berharap sesegera mungkin bisa betul-betul membaik satu sampai dua hari ini. Enggak usah dua hari lah, kalau bisa satu hari, gitu," pungkasnya.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah