← Beranda
Suara Kemerdekaan "Tong Sampah": Rp 5 Ribu untuk Makan Hari Ini dan Sekolah Anak
Syahrul YunizarSenin, 17 Agustus 2026 | 15.00 WIB
Tukang sampah di wilayah Koja, Jakarta Utara (Jakut), mengumpulkan dan membuang sampah di TPS Rawa Badak Utara. Mereka berharap bisa terus bekerja dan mendapat penghasilan halal. (Sahrul Yunizar/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Rp 5 ribu itu bisa untuk makan sehari-hari dan sekolah anak. Begitu makna tong sampah bagi seorang pemulung di wilayah Kecamatan Koja, Jakarta Utara (Jakut).

Kemerdekaan hari ini, 17 Agustus 2026 dimaknai begitu oleh Alung. Tidak melulu soal hiasan, lomba, dan upacara. Ada banyak harapan masyarakat kecil.

Angan-angan dari kalangan bawah. Bukan soal besok atau nanti. Tapi, tentang hidup hari ini.

Pria berusia 28 tahun melangkah bertelanjang kaki saban hari. Menyusuri setiap sudut jalan dan gang-gang kecil 

”Sampah, sampahhh. Bapak, ibu, sampahnya. Pah, sampahhh. Kakak sampahnya udah penuh,” pekik Alung.

Baca Juga: Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Arahkan Kebijakan Pemerintah dalam Perbaikan BUMN dan MBG

Suara khasnya nyaring terdengar. Mengingatkan setiap warga yang sudah punya sampah menumpuk di rumah. Untuk segera dibuang agar tidak terus bertambah dan mencemari rumah.

Ya, sehari-hari Alung mengais rezeki dari tumpukan sampah. Dia menawarkan jasa pembuangan sampah. Sehingga warga tidak perlu datang ke Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS).

Sudah bertahun-tahun, Alung melakoni pekerjaan itu. Tidak ada pilihan lain. Maka, setiap hari dia melangkah berkilo-kilometer untuk mengambil sampah dari rumah-rumah warga.

Meski tidak selalu mendapat jawaban yang diharapkan. Namun, ada saja yang butuh bantuan. Alung, tidak mematok tarif. Dia menerima seikhlasnya. Kadang Rp 5 ribu atau Rp 10 ribu, untuk satu tong sampah ukuran besar.

Tukang sampah di wilayah Koja, Jakarta Utara (Jakut), mengumpulkan dan membuang sampah di TPS Rawa Badak Utara. Mereka berharap bisa terus bekerja dan mendapat penghasilan halal. (Sahrul Yunizar/JawaPos.com)
Tukang sampah di wilayah Koja, Jakarta Utara (Jakut), mengumpulkan dan membuang sampah di TPS Rawa Badak Utara. Mereka berharap bisa terus bekerja dan mendapat penghasilan halal. (Sahrul Yunizar/JawaPos.com)

 

”Kita nggak pernah maksa, yang mau buang sampah kita layani,” ucap Alung.

Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tidak banyak perbedaan dalam hari-hari yang dijalani oleh Alung dan keluarganya. Dia tetap berangkat kerja tanpa alas kaki, menarik gerobak sampah, mengambil sampah dari rumah-rumah warga, dan membuangnya ke TPS.

”Sehari kadang sekali muter, kadang lebih juga. Tergantung kuatnya aja, yang penting anak bisa makan,” ujarnya.

Seperti banyak lingkungan tempat tinggal lainnya, di jalan-jalan yang Alung lalui beberapa hari belakangan sudah tampak ornamen khas kemerdekaan. Bendera merah putih berkibar, umbul-umbul dipasang, gapura baru bertema kemerdekaan, serta persiapan aneka lomba.

Baca Juga: Mengenal EEHV, Virus yang Menyebabkan Matinya Anak Gajah di Aceh

Tidak banyak yang disampaikan oleh ayah satu anak itu saat ditanya harapannya setelah Indonesia berusia 81 tahun pada 17 Agustus mendatang. Yang penting bagi Alung, dia tetap bisa bekerja untuk menafkahi keluarga.

”Supaya anak bisa sekolah,” kata dia singkat.

Untuk mendapat penghasilan lebih, Alung tidak asal ambil dan buang sampah. Beberapa dia pisahkan. Misalnya sampah berbahan plastik, kaleng, besi, dan sampah kardus. Sampah jenis itu masih bisa dihargai oleh pengepul.

Karena itu, pada gerobok sampahnya ada beberapa karung. Termasuk karung yang dia siapkan untuk sampah-sampah bernilai ekonomi. Sampah-sampah itu tidak langsung dia buang ke TPS.

”Ginian (kardus) kita jual supaya ada tambah-tambah lagi buat pulang ke rumah,” ungkap Alung.

Belakang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga sudah mengeluarkan aturan baru. Semua sampah harus dipilah sebelum dibawa ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Alur kumpul, angkut, buang diganti dengan pilah, angkut, olah. Tujuannya untuk memastikan hanya sampah yang sudah tidak bisa diolah yang sampai ke TPST Bantargebang. Sehingga tempat pembuangan akhir itu tidak membludak.

Dari gang-gang dan jalan-jalan kecil, Alung membawa sampah-sampah tersebut ke TPS Rawa Badak Utara. Saat JawaPos.com datang ke TPS tersebut, ada banyak tukang sampah seperti Alung.

Mereka datang bergantian. Membawa gerobak-gerobak sampah yang sudah terisi penuh. Beberapa diantaranya seperti Alung, menarik gerobak seorang diri. Namun ada juga yang berdua. Bahkan ada yang menggunakan sepeda motor.

Erlang adalah salah seorang tukang sampah yang biasa keliling berdua. Setiap hari, dia ditemani rekannya bernama Dayat. Mereka sama-sama masih bujang. Keduanya mengaku baru beberapa bulan melakoni pekerjaan tersebut.

Baca Juga: Pemerintah Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 6 Persen, Ini Strateginya!

”Yang penting ada penghasilan sedikit-sedikit, daripada nganggur nggak ada hasil,” seloroh Erlang saat ditanya alasan menjadi tukang sampah.

Menurut pemuda yang lahir dan besar di Jakut tersebut, kebanyakan tukang sampah seperti dirinya memang masih muda. Selain karena tenaga yang lebih kuat dari orang tua, di wilayah tempat tinggalnya, tukang sampah harus cekatan. Karena, mereka sangat dibutuhkan.

Bukan hanya oleh warga, melainkan juga petugas kebersihan yang jangkauannya tidak seluas Erlang dan teman-temannya. Meski tanpa gaji tetap, tidak sedikit di antara mereka sudah punya langganan. Bahkan ada yang bayar mingguan atau bulanan.

”Nggak gede, seminggu ada yang Rp 15 ribu, sebulan Rp 50 ribu. Setiap hari diambil sampahnya,” ucap dia.

Lantas apa makna kemerdekaan bagi Erlang? Menurut dia, pekerjaan adalah kemerdekaan. Dia sadar tidak mungkin seterusnya menjadi tukang sampah. Dia juga ingin punya penghasilan dari pekerjaan lain.

”Maunya dapat kerjaan lain. Tapi, susah juga nyari kerja sekarang,” imbuhnya.

Senada dengan Erlang, Dayat juga mengatakan hal serupa. Dia berharap, setelah Indonesia berusia 81 tahun, ada kesempatan yang lebih terbuka untuk anak-anak muda seperti dirinya.

Meski tidak kenyang menempuh pendidikan di sekolah, namun Dayat mengaku masih punya keinginan. Setidaknya untuk meningkatkan taraf hidup yang selama ini dia jalani.

Baca Juga: Tak Hanya Narkoba, Jaringan Pengedar di Kampung Bahari Punya Senjata Api Ilegal untuk Lawan Petugas

”Supaya bisa lebih banyak bantu-bantu orang rumah, mau juga kita kerjaan yang bagus,” kata dia penuh harap.

Sementara ini, Erlang dan Dayat memilih untuk menjalani hari-hari menarik gerobak sampah. Keliling dari satu gang ke gang lain. Berjalan berkilo-kilometer di bawah terik. Mengais rupiah dari tumpukan sampah.

Mereka bertahan di tengah kondisi yang tidak mudah. Bukan cuma dari tekanan hidup, mereka juga bertahan untuk tetap waras. Tidak terpengaruh godaan untuk mendapat uang dari cara-cara yang salah, apalagi sampai merugikan orang lain.

EDITOR: Sabik Aji Taufan