JawaPos.com – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meminta seluruh pihak memperkuat aksi dalam merespons peringatan dini bencana.
Hal itu dinilai penting karena Indonesia menghadapi hampir 5.000 kejadian bencana setiap tahunnya.
"Peringatan dini hanya akan bermakna jika diikuti dengan aksi dini. Jangan sampai teknologi canggih hanya berhenti di ruang kendali, informasi harus menjadi aksi yang menyelamatkan warga," ujar Pratikno, Rabu (12/8).
Hal itu ia sampaikan saat membuka Pameran internasional untuk mitigasi bencana, penyelamatan, dan peralatan darurat, Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) Expo Indonesia di JIExpo Kemayoran.
Pratikno menegaskan, keberadaan teknologi dan sistem peringatan dini harus diikuti tindakan cepat di lapangan. Menurutnya, informasi peringatan dini tidak akan berarti jika tidak diterjemahkan menjadi aksi yang dapat menyelamatkan masyarakat.
Selain memperkuat kesiapsiagaan, Pratikno menargetkan Indonesia dapat menjadi pusat keunggulan teknologi kebencanaan dunia. Pemerintah juga mendorong kemandirian teknologi sekaligus pertumbuhan industri kebencanaan dalam negeri.
"Indonesia ingin mencapai kemandirian teknologi dan terus mendorong industri kebencanaan dalam negeri," tegasnya.
Pratikno juga membuka peluang kerja sama dengan mitra dan investor internasional melalui alih teknologi, riset bersama, hingga investasi langsung.
Menurutnya, EDRR Indonesia 2026 harus menjadi ruang kolaborasi dan inovasi untuk memperkuat kapasitas penanggulangan bencana.
Sementara itu, Vice President SIEC–CPIT Shanghai Fiona Bai menekankan pentingnya kerja sama internasional dan pertukaran teknologi pintar untuk memperkuat ketahanan kawasan.
"Melalui EDRR Indonesia 2026, kami berharap dapat membangun jembatan kerja sama yang efisien dan berkelanjutan guna mendorong pertukaran teknologi, interkoneksi tingkat tinggi, dan integrasi industri," kata Fiona.
EDRR Indonesia 2026 mendapat dukungan dari berbagai kementerian, lembaga pemerintah, institusi keamanan, perguruan tinggi, serta organisasi kemanusiaan nasional dan internasional.
Selama tiga hari penyelenggaraan, EDRR Indonesia 2026 juga menghadirkan 10 program strategis.
Program tersebut meliputi S&D Global Safety and Development Conference, Seminar Kesiapsiagaan Keselamatan Kerja (iSafety), Forum Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD), G60 Medical Industry Cooperation, Smart Firefighting & Industrial Safety.
Serta Forum Sinergi Darurat Maritim dan Kepulauan, Forum World Humanitarian Day, business matching, penandatanganan kerja sama bilateral, serta pelatihan dan simulasi manajemen bencana melalui CPR Workshop.
CEO Seven Event Andy Wismarsyah mengatakan rangkaian seminar, lokakarya, dan pelatihan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas serta kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi risiko bencana.
"EDRR Indonesia 2026 tidak hanya hadir untuk memamerkan inovasi dan teknologi maju, tetapi juga menyelenggarakan 10 program strategis sebagai ruang untuk berbagi pengetahuan, memperkuat kapasitas, mendorong inovasi, serta membangun jejaring kolaborasi demi mewujudkan Indonesia yang lebih siap, tangguh, aman, dan responsif dalam menghadapi berbagai risiko bencana," ujar Andy.
Melalui pameran teknologi dan keterlibatan pelaku industri global, EDRR Indonesia 2026 diharapkan dapat mendorong peningkatan standar keselamatan dan manajemen kedaruratan di Indonesia maupun kawasan regional.