JawaPos.com - Dunia seni rupa Indonesia berduka. Pelukis sekaligus maestro seni rupa, Nasirun, meninggal dunia pada Sabtu (1/8) sekitar pukul 05.58 WIB di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta.
Seniman kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, itu mengembuskan napas terakhir pada usia 60 tahun.
Informasi wafatnya Nasirun segera menyebar luas dan memicu ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan. Mulai dari seniman, budayawan, sahabat, hingga masyarakat yang selama ini mengagumi karya-karyanya.
Salah satunya Sastrawan Agus Noor. Ia mengaku menerima kabar tersebut pada Sabtu pagi dan menyebut almarhum sebagai pribadi yang baik.
Baca Juga: Eri Cahyadi Minta Pendopo Kelurahan-Kecamatan di Surabaya Jadi Panggung Seni Tradisional
"Mendapat kabar, pelukis Nasirun meninggal dunia sekitar jam 05.30-an pagi tadi, 1 Agustus 2026. Al Fatihah buat Almarhum. Saya bersaksi ia orang yang baik," tulis Agus, dikutip Sabtu (1/8).
Menurut Agus, Nasirun bukan hanya dikenal karena karya seninya, tetapi juga karena sifatnya yang dermawan, sabar, dan memiliki selera humor yang membuat banyak orang merasa dekat dengannya.
Kesaksian serupa disampaikan tetangganya, Bimo Aditya. Ia mengatakan, kepergian Nasirun cukup mengejutkan lantaran selama ini almarhum tidak memiliki riwayat penyakit berat.
Dikutip dari Radar Solo (Jawa Pos Grup), Bimo mengungkapkan bahwa sehari sebelumnya mereka masih sempat berbincang.
Belakangan, Nasirun hanya mengeluhkan nyeri di bagian dada dan gangguan asam lambung.
Jenazah Nasirun dimakamkan pada Sabtu (1/8) pukul 14.00 WIB di Kompleks Pemakaman Seniman, Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga anak.
Sepanjang karirnya, Nasirun dikenal memiliki ciri khas dalam berkarya dengan memadukan kekayaan budaya Nusantara dan pendekatan seni kontemporer.
Lukisan-lukisannya banyak menghadirkan simbol-simbol yang berangkat dari tradisi lokal, kisah pewayangan, hingga nilai-nilai spiritual.
Nasirun lahir di Cilacap pada 1 Oktober 1965. Pada 1983, ia merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan Seni Kriya Batik dan Seni Murni.
Nasirun Aktif Mengikuti Pameran
Perjalanan akademik tersebut menjadi awal kiprahnya hingga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia.
Sejak masih menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Nasirun telah aktif mengikuti berbagai pameran.
Ia menggelar sejumlah pameran tunggal. Di antaranya Uwuh Seni di Galeri Salihara Jakarta (2012), Breath of Nasirun di Mizuma Gallery Tokyo (2014), dan RUN–Embracing Diversity di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2016).
Ada pula Wirid on Canvas di Natan Galeri Yogyakarta (2018), Menafsir Borobudur di Jakarta (2020), Metajagad Nasirun di Yogyakarta (2021), hingga Perayaan Persahabatan di Museum OHD Magelang pada Juli 2023.
Karyanya juga dipamerkan dalam berbagai ajang seni bersama di sejumlah negara, seperti Korea Selatan, Malaysia, Thailand, dan Singapura, selain di berbagai kota di Indonesia.
Dedikasi Nasirun di bidang seni rupa membuahkan sejumlah penghargaan bergengsi. Di antaranya Penghargaan Sketsa dan Seni Lukis Terbaik ISI Yogyakarta, McDonald Award pada Lustrum ISI ke-X, serta Philip Morris Award yang diterimanya pada 1997.
Baca Juga: Jika Anda Ingin Mengurangi Kekhawatiran, Lakukan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?
Kepergian Nasirun menjadi kehilangan besar bagi dunia seni rupa Indonesia. Meski demikian, warisan karya-karyanya yang memadukan unsur tradisi, spiritualitas, dan realitas kehidupan diperkirakan akan terus dikenang serta menginspirasi generasi seniman Indonesia.