JawaPos.com - Krisis kepercayaan publik terhadap institusi negara dinilai menjadi peringatan bahwa Indonesia membutuhkan model kepemimpinan yang tidak hanya bertumpu pada kekuasaan formal. Pernyataan itu disampaikan, Sudirman Said, di hadapan ratusan delegasi Kongres Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ke-34 yang digelar di Unika Indonesia Santu Paulus Ruteng.
Ia menegaskan, kepemimpinan yang lahir dari nilai, integritas, dan karakter harus menjadi fondasi untuk membawa bangsa keluar dari berbagai persoalan. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak para mahasiswa membangun kepemimpinan intrinsik, yakni kepemimpinan yang tidak bergantung pada jabatan atau kewenangan formal, melainkan pada kualitas pribadi yang dibentuk melalui proses panjang.
“Kita patut syukuri semua kemajuan yang telah kita capai sebagai bangsa. Tetapi harus kita sadari bahwa keadaan kita saat ini tidak sedang baik-baik saja,” kata Sudirman, Kamis (23/7).
Menurut Sudirman, berbagai indikator menunjukkan kondisi Indonesia belum sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Ia menyoroti penurunan peringkat Indeks Persepsi Korupsi dalam satu dekade terakhir meski pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai sekitar 5 persen per tahun.
Selain itu, ketimpangan ekonomi masih tinggi, jumlah masyarakat miskin meningkat, dan sekitar 19 juta lulusan SMA tercatat tidak bekerja, tidak melanjutkan pendidikan, maupun mengikuti pelatihan.
Ia juga menyinggung gejolak di pasar keuangan sebagai refleksi lemahnya tata kelola pemerintahan. Menurutnya, meskipun Bank Indonesia berulang kali mengintervensi pasar melalui cadangan devisa untuk menjaga nilai tukar rupiah, kondisi pasar modal domestik tetap mengalami tekanan.
"Negara boleh membungkam para intelektual, boleh menyingkirkan para aktivis, boleh mengendalikan partai-partai, boleh membuat parlemen itu lumpuh, boleh mencengkeram penegak hukum. Yang tidak bisa diatur adalah pasar. Pasar adalah pengontrol atau penyeimbang yang sangat kuat, dan ini buktinya bahwa akibat dari praktik korupsi, akibat dari tata kelola yang lemah, akibat dari indeks demokrasi yang menurun, inilah hasilnya," jelas Sudirman.
Meski menggambarkan berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, Sudirman tetap optimistis Indonesia memiliki modal besar untuk bangkit. Ia mengingatkan, setiap momentum penting dalam sejarah bangsa, mulai dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, hingga Reformasi, selalu digerakkan oleh kaum muda dan kalangan terpelajar.
Menurutnya, generasi saat ini memiliki peluang yang jauh lebih besar dibanding generasi awal kebangkitan nasional. Jika pada 1908 jumlah mahasiswa pribumi hanya sekitar 178 orang, kini Indonesia memiliki sekitar 25 juta mahasiswa yang tersebar di hampir 3.000 perguruan tinggi.
"Secara keseluruhan kita punya kemauan untuk mendobrak, melawan status quo, dan melakukan perbaikan," tuturnya.
Ia juga menilai, berbagai capaian Reformasi mengalami kemunduran dalam satu dekade terakhir. Menurutnya, pelemahan lembaga antirasuah, menurunnya kualitas penegakan hukum, melemahnya fungsi pengawasan parlemen, hingga praktik transaksional di partai politik menjadi persoalan serius yang harus segera dibenahi.
Untuk keluar dari kondisi tersebut, Sudirman menawarkan tiga bentuk kepemimpinan yang harus tumbuh secara bersamaan, yaitu kepemimpinan institusional untuk memperbaiki lembaga negara, kepemimpinan kolektif agar perubahan tidak bergantung pada satu figur, serta kepemimpinan intrinsik yang berlandaskan nilai-nilai pribadi.
"Yang disebut kepemimpinan intrinsik adalah kepemimpinan yang dasarnya bukan jabatan, bukan otoritas, tapi nilai-nilai, integritas, kompetensi, dan kemampuan menggerakkan. Diikuti karena pengaruh, karena wibawa, bukan karena kekuasaan. Diikuti karena rasa hormat, bukan karena rasa takut atau kepatuhan. Basisnya adalah kekuatan personal, bukan kekuatan jabatan, dan personal power melekat pada diri kita, tidak peduli apakah kita naik, turun, bergeser, berhenti bekerja, atau pensiun," pungkasnya.