← Beranda
Indonesia Datangkan 546 Bibit Babi dari Denmark, Kejar Pemulihan Populasi Pascawabah ASF
Taufiq ArdyansyahJumat, 10 Juli 2026 | 20.40 WIB
Ilustrasi penanganan ASF. (Dok. The Pig Site)

JawaPos.com – Indonesia mendatangkan 546 ekor bibit babi hidup asal Denmark sebagai bagian dari upaya mempercepat pemulihan populasi babi nasional yang belum pulih sejak dihantam wabah African Swine Fever (ASF). Impor ini menjadi pengiriman pertama bibit babi hidup dari Denmark melalui kerja sama pemerintah kedua negara.

Ketua Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI), Sauland Sinaga, mengatakan langkah tersebut patut diapresiasi karena dapat membantu mengatasi defisit populasi babi yang masih mencapai sekitar 4 juta ekor per tahun akibat wabah ASF.

"Baru pertama kali Indonesia mengimpor bibit babi hidup dari Denmark. Ini menjadi awal yang baik untuk meningkatkan populasi. Akibat ASF, kita kehilangan sekitar 4 juta ekor babi per tahun dan hingga kini belum pulih," ujar Sauland, Jumat (10/7).

Ia menjelaskan, proses impor merupakan hasil negosiasi antara pemerintah Indonesia dan Denmark. Setelah kesepakatan tercapai, pemerintah membuka kesempatan kepada pihak swasta, dan sebuah perusahaan asal Manado menjadi pihak yang merealisasikan impor 546 ekor bibit babi hidup tersebut.

Menurut Sauland, seluruh bibit yang didatangkan telah dinyatakan bebas dari berbagai penyakit, termasuk ASF. Hewan-hewan tersebut juga telah melalui pemeriksaan kesehatan ketat oleh otoritas veteriner Denmark maupun Pemerintah Indonesia.

Ia menambahkan, Denmark dikenal sebagai salah satu negara dengan kualitas genetik babi terbaik di dunia. Bibit yang didatangkan memiliki tingkat biosekuriti tinggi, pertumbuhan cepat, kualitas daging yang baik, serta efisiensi penggunaan pakan yang lebih tinggi.

"Denmark merupakan salah satu rujukan genetik babi terbaik dunia. Kombinasi Landrace-Yorkshire (LY) memiliki pertumbuhan yang baik dan kualitas daging unggul. Ini menjadi pilihan yang tepat untuk mempercepat pemulihan populasi babi nasional pascawabah ASF," katanya.

Sauland mengungkapkan, rencana impor tersebut sebenarnya telah disusun sejak tiga hingga empat tahun terakhir, setelah wabah ASF yang mulai merebak pada 2019 menyebabkan Indonesia kehilangan sekitar 4 juta ekor babi setiap tahun, atau setara sekitar 400 ribu indukan.

Ia juga menepis anggapan bahwa masuknya bibit babi asal Denmark akan memicu monopoli pasar, khususnya di Sulawesi Utara. Menurutnya, jumlah bibit yang diimpor masih sangat kecil dibandingkan kebutuhan peternak di Indonesia.

"Kalau ada yang berpikir ini akan memonopoli produksi bibit babi, itu masih jauh. Justru masyarakat perlu memanfaatkan peluang ini. Selama ini rata-rata satu induk menghasilkan delapan anak yang siap dijual. Dengan bibit unggul dari Denmark, produktivitasnya bisa mencapai sekitar 14 anak per kelahiran. Artinya, ada tambahan sekitar enam ekor per induk yang tentu meningkatkan pendapatan peternak," jelasnya.

Menurut Sauland, tantangan berikutnya adalah memperbanyak populasi babi unggul hasil persilangan Landrace-Yorkshire melalui pengembangan peternak di berbagai daerah. Dengan demikian, Indonesia diharapkan dapat membangun sumber bibit unggul sendiri sekaligus mempercepat pemulihan populasi babi nasional.

Sebelumnya, 546 ekor bibit babi asal Denmark tiba di Bandara Sam Ratulangi, Manado, pada Selasa malam (7/7). Bibit tersebut didatangkan oleh perusahaan swasta asal Manado untuk dijadikan indukan guna meningkatkan produksi babi di Sulawesi Utara dan daerah lainnya.

Setibanya di Indonesia, seluruh bibit babi langsung menjalani pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik oleh petugas karantina.

Selanjutnya, hewan-hewan tersebut diangkut menggunakan truk yang telah disterilisasi menuju Instalasi Karantina Hewan (IKH) untuk menjalani masa observasi dan pengujian laboratorium lanjutan. Sebelum dikirim ke Indonesia, seluruh bibit babi itu juga telah menjalani karantina selama 20 hari di Denmark.

EDITOR: Hendra